Artikel

Guruh Soekarnoputra dan Jejak Muhammadiyah

Oleh : OCTAVIANUS EKO WIBOWO

muhammadiyahpekalongan.or.id | JAKARTA — Kabar duka menyelimuti Indonesia. Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun.

Guruh dikenal luas sebagai seniman yang menekuni musik, tari, dan kebudayaan Indonesia. Ia juga pernah terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR RI periode 1992-1997. Namun, di balik perjalanan hidupnya sebagai seniman dan politikus, terdapat jejak sejarah yang menghubungkannya dengan Muhammadiyah.

Hubungan tersebut bukan karena Guruh dikenal sebagai kader atau tokoh Muhammadiyah. Jejak itu berasal dari lingkungan keluarga yang menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan Soekarno dengan Muhammadiyah.

Jejak Muhammadiyah dalam Keluarga Guruh

Guruh merupakan anak bungsu Soekarno dan Fatmawati. Dalam catatan Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI, Fatmawati merupakan putri Hasan Din dan Chadijah.

Hasan Din dikenal sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Bahkan, Fatmawati pernah bersekolah di HIS Muhammadiyah. Catatan ANRI juga menyebut keluarga Hasan Din memiliki hubungan erat dengan Soekarno ketika sang proklamator menjalani masa pengasingan di Bengkulu. (Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan)

Baca Juga  Meski Tanpa Gelar Bapak Pendidikan, KH. Ahmad Dahlan Mewariskan Puluhan Ribu Lembaga Pendidikan dan Sudah Mencerdaskan Jutaan Anak Bangsa

Jejak tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pertemuan antara Soekarno, keluarga Hasan Din, dan lingkungan Muhammadiyah di Bengkulu.

Dalam laman resmi Muhammadiyah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir juga pernah menjelaskan hubungan historis Soekarno dengan Muhammadiyah. Ketika berada di Bengkulu pada 1938-1942, Soekarno dipercaya memimpin bidang pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah di daerah tersebut. (Muhammadiyah resmi)

Dengan demikian, nama Guruh kemudian berada dalam garis keluarga yang memiliki hubungan sejarah dengan lingkungan Muhammadiyah.

Bukan Tokoh Muhammadiyah

Meski terdapat hubungan sejarah tersebut, penting untuk membedakan antara jejak keluarga dan afiliasi organisasi.

Guruh sendiri lebih dikenal sebagai seniman dan budayawan. Tidak ada dasar yang cukup untuk menyebutnya sebagai kader atau tokoh Muhammadiyah.

Kariernya justru banyak dihabiskan untuk mengembangkan seni dan kebudayaan Indonesia. ANTARA mencatat Guruh sejak kecil telah menekuni tari dan musik. Ia kemudian mendirikan sejumlah kelompok kesenian dan musik, termasuk Swara Mahardhika, Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production, Guruh Gipsy, serta Gank Pegangsaan. (Antara News Jawa Barat)

Baca Juga  Kokohkan Ideologi, Muhammadiyah Pekalongan Gelar Pengajian Akidah

Karya-karyanya ikut memberi warna dalam perkembangan musik dan seni pertunjukan Indonesia.

Salah satu lagu ciptaannya yang dikenal luas adalah “Kala Sang Surya Tenggelam”, yang antara lain dipopulerkan oleh Chrisye. Guruh juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap seni tradisional dan upaya mengangkat kebudayaan Indonesia dalam karya-karyanya.

Dari Seni hingga Politik

Selain dunia seni, Guruh juga memasuki dunia politik. Ia pernah menjadi anggota DPR RI pada periode 1992-1997.

Keterlibatan politik tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan panjangnya sebagai figur publik. Namun, dunia seni tetap menjadi identitas yang paling kuat melekat pada dirinya.

Pada Sabtu pagi, kabar wafatnya Guruh disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Guruh meninggal di MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta. Jenazah kemudian disemayamkan di rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Jakarta.

Guruh meninggalkan perjalanan panjang sebagai seniman, budayawan dan politikus Indonesia.

Baca Juga  Regenerasi Kepemimpinan: IPM SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Siap Hadapi Pemilu Raya

Jejak Sejarah yang Menghubungkan Dua Dunia

Bagi Muhammadiyah, kisah Guruh menarik bukan karena dirinya merupakan tokoh organisasi tersebut, melainkan karena terdapat mata rantai sejarah yang menghubungkan keluarga Guruh dengan perjalanan Muhammadiyah di Indonesia

Dari Bengkulu, hubungan Soekarno dengan lingkungan Muhammadiyah menjadi bagian dari sejarah pergerakan bangsa. Hasan Din sebagai tokoh Muhammadiyah kemudian menjadi bagian dari lingkar sejarah tersebut. Dari keluarga itulah lahir Fatmawati, yang kemudian menjadi ibu Guruh Soekarnoputra.

Hubungan sejarah tersebut juga memperlihatkan bahwa perjalanan Muhammadiyah tidak berdiri sendiri dari dinamika sejarah kebangsaan. Tokoh-tokohnya pernah bersinggungan dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional, termasuk Soekarno.

Karena itu, ketika Guruh Soekarnoputra berpulang pada usia 73 tahun, yang dikenang bukan hanya perjalanan panjangnya di dunia seni dan politik. Ada pula sebuah jejak sejarah keluarga yang mempertemukan nama Guruh dengan perjalanan Muhammadiyah di Indonesia.

Catatan penulis : Tidak menyebut Guruh sebagai “kader Muhammadiyah”, sumber hanya mendukung hubungan historis melalui keluarga dan lingkungan Muhammadiyah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button