Integrasikan Nilai Keislaman dan Cinta Budaya, TK ABA Tanjungsari Didik ‘Pebatik Cilik’ Berkarakter
muhammadiyahpekalongan.or.id I PEKALONGAN – Lewat outing class di Museum Batik Pekalongan, 80 siswa TK ABA Tanjungsari diajak kenali warisan leluhur dan landasan etika berbudaya. Suasana riuh ceria memenuhi pelataran Museum Batik Pekalongan pada Rabu (21/10/2026) pagi. Sebanyak 80 siswa dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Tanjungsari, Kajen, Kabupaten Pekalongan, tampak antusias mengikuti kegiatan outing class bertema “Cinta Budaya Indonesia” dengan belajar membatik tulis sederhana.
Agenda ini diselenggarakan sebagai bagian dari implementasi Capaian Pembelajaran Jati Diri dan Seni dalam Kurikulum Merdeka PAUD, sekaligus sebagai sarana pengenalan nilai-nilai keagamaan yang ramah terhadap tradisi lokal sejak dini.
Pendidikan Karakter dan Moderasi Beragama
Kepala TK ABA Tanjungsari, Izarotun Liza, S.Pd.AUD., menegaskan pentingnya mengenalkan warisan leluhur kepada anak-anak di tengah pesatnya era digital. Menurutnya, batik tidak hanya sekadar kain berkarya, melainkan media untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, dan rasa kebangsaan.
“Di TK ABA, kami mengajarkan bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan secara harmonis. Sebagai Muslim, anak-anak diajarkan untuk bangga memakai dan melestarikan batik sebagai identitas bangsa,” jelas Izarotun di sela kegiatan.
Dalam sesi praktik, para guru juga menyelipkan pesan keislaman dengan mengaitkan keindahan seni batik melalui pemahaman bahwa Allah SWT mencintai keindahan, sehingga melatih anak untuk berkarya secara rapi dan sabar.
Pengalaman Edukatif di Museum Batik
Rombongan siswa dan 5 guru pendamping disambut hangat oleh edukator museum pertama di Indonesia yang diakui UNESCO tersebut. Anak-anak diajak mengelilingi galeri untuk mengenal beragam motif batik pesisir khas Pekalongan, seperti motif Jlamprang, Buketan, dan Pisan Balen.
Kegiatan dilanjutkan dengan praktik memberi warna pada kain bercap motif bunga dan ikan. Melalui pembelajaran luar kelas ini, TK ABA Tanjungsari berharap mampu melahirkan ‘pebatik cilik’ yang tidak hanya bangga akan karya seninya, tetapi juga tumbuh menjadi generasi Muslim berkarakter yang mencintai budaya bangsa.


