Peran Mahasiswa Kebidanan Dalam Mewujudkan Kehidupan Sehat dan Sejahtera Untuk Mendukung SDGs 2030
Kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia dan menjadi pilar utama dalam membangun bangsa. Sehat itu mahal harganya, tapi sering di lupakan. Padahal kalau masyarakat sakit-sakitan, pembangunan juga susah jalan. Hal ini sesuai dengan tujuan ke-3 SDGs yaitu :”kehidupan sehat dan Sejahtera”. Targetnya tahun 2030 semua orang bisa dapat layanan Kesehatan yang layak.
Faktanya sekarang di lapangan masih banyak PR. Stunting masih tinggi, ibu hamil telat periksa dan masih ada yang melahirkan di rumah tanpa nakes. Belum lagi hoax Kesehatan yang mudah menyebar di WA dan di TIKTOK, jadi harus hati-hati.
Sebagai mahasiswa baru di program studi kebidanan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), saya merasa ini tanggung jawab kita juga. Bidan itu kan ujung tombak. Ketemu ibu dari hamil sampai nafas. Dari sinilah kita bisa mulai ngubah pola pikir masyarakat biar lebih sehat. Apalagi dengan bekal nilai AIK, kita harus jadi bidan yang tidak hanya pintar, tetapi juga peduli.

Permasalahan yang terjadi
Kalau di tarik benang merahnya, masalah Kesehatan di Inndonesia itu hanya berpusar disitu saja. Stunting jadi sorotan karena berpengaruh ke otak anak. AKI dan AKB juga belum turun signifikan. Penyebabnya klasik, kurang tau, kurang mampu, kurang akses.
Problem menikah di usia muda juga menjadi salah satu faktor persoalan, apalagi ketika hamil di usia muda, sering menyebabkan ketidaksiapan secara fisik dan ilmu.
Selain itu, masih banyak juga masyarakat yang percaya untuk tidak terlalu banyak melakukan USG dan mengkonsumsi jamu bisa menggantikan vitamin
Kaitan dengan SDGs
Target penurunan AKI, AKB, stunting dan memastikan semua orang mempunyai akses terhadap KB dan layanan reproduksi, menjadi tugas calon bidan yang bakal terjun langsung ke desa, posyandu dan rumah-rumah.

Alasan permasalahan penting diselesaikan
Anak-anak masa sekarang akan membangun Indonesia Emas 2045. Namun, jika dari kecil sudah mengalami stunting, kita tidak akan mampu bersaing dengan negara lain.
Jika kesehatan ibu terganggu, anak juga dapat ikut terdampak. Membereskan masalah kesehatan ibu dan anak itu ibaratkan menanam pohon, hasilnya baru terasa 10-20 tahun lagi, sehingga harus dimulai dari sekarang.
Peran mahasiswa kebidanan
Ada tiga peran;
1. belajar sungguh-sungguh, tidak sekedar mengejar nilai, tetapi memahami
2. Melakukan edukasi kepada masyarakat
3. Mengingatkan dan melakukan fungsi pengawasan

Gagasan/solusi yang ditawarkan
Saya punya ide” RUMAH BELAJAR BIDAN MUDA”konsepnya sederhana:
- Berkumpul setiap pekan bersama ibu hamil, membuat kelas senam dan edukasi gizi
- Pendampingan 1000 HPK dari hamil sampai anak umur 2 tahun biar gak kecolongan
- Konten edukasi: bikin video 60 detik “mitos vc fakta kebidanan”
GAGASAN/AKSI MAHASISWA
Selama di UMPP, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
- Mengikuti Himpunan Mahasiswa: agar bisa membuat program kerja yang betul-betul menyentuh masyarakat, bukan cuma seremonial
- Turun ke desa: mengikuti posyandu,cek bumil, jadi relawan saat ada kegiatan kampus
- Membuat media edukasi: poster simpel tentang tanda bahaya kehamilan dengan Bahasa jawa agar mudah dipahami
- Up grade diri: mengikuti webinar dan pelatihan
- Menjalani nilai AIK: Ikhlas menolong, jujur ,dan menghargai pasien
PENUTUP
Menjadi mahasiswa kebidanan bukan hanya duduk di kelas, kita dituntut untuk bergerak. SDGs bukan tugas pemerintah saja. Tapi tugas kita semua.
Saya ingin menjadi bagian dari perubahan. Mulai dari belajar sungguh-sungguh, aktif di kampus, mengabdi kepada masyarakat. Semoga Langkah kecil dari UMPP ini bisa menjadi kontribusi untuk Indonesia yang lebih sehat 2030. (Ahnifa Putri, mahasiswa S1 kebidanan, Universitas Muhammadiyah Pekajang Pekalongan)
REFERENSI
- Kemeskes RI.2030. laporan riskesdas 2023 jakarta
- 2022,SDGs,Indonesia Jakarta
- 2021.pencegahan stunting Jakarta
- Tim AIK UMPP,2024. Modul al Islam dan kemuhammadiyahan, Pekalongan,UMPP Press.

