Artikel

Mahasiswa Keperawatan dalam Menghidupkan Semangat Kemanusiaan

Oleh: Rizqona Safiro – Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan UMPP

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar sebuah cita-cita tentang kemajuan. Ia adalah ikhtiar besar untuk menghadirkan Indonesia yang kuat, sehat, berdaya, dan mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan zaman.

Namun, di tengah perjalanan menuju cita-cita tersebut, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: sudahkah masyarakat kita memiliki ketangguhan untuk menghadapi bencana dan keadaan darurat?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika perubahan iklim menghadirkan berbagai ancaman yang semakin nyata. Banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga banjir rob bukan lagi sekadar berita yang kita dengar dari tempat yang jauh. Bagi sebagian masyarakat, bencana telah menjadi bagian dari realitas kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi seperti ini, membangun masyarakat yang tangguh bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.

Ketangguhan Dimulai dari Orang-Orang Terdekat

Ketika bencana terjadi, setiap detik memiliki arti. Akses menuju lokasi kejadian dapat terhambat, sementara tenaga medis dan tim penyelamat membutuhkan waktu untuk tiba.

Pada saat itulah, orang yang berada paling dekat dengan korban dapat menjadi penolong pertama.

Seorang tetangga, anggota keluarga, kader masyarakat, atau siapa pun yang berada di sekitar lokasi dapat memiliki peran yang sangat berarti apabila dibekali pengetahuan dan keterampilan yang tepat.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya masyarakat.

Pengetahuan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD), pertolongan pertama, penanganan cedera, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat perlu diperkenalkan secara luas. Masyarakat harus memiliki keberanian untuk bertindak dengan benar ketika berhadapan dengan situasi yang mengancam keselamatan.

Inilah ruang pengabdian yang dapat diisi oleh mahasiswa keperawatan.

Membawa Ilmu Keperawatan Lebih Dekat kepada Masyarakat

Ilmu keperawatan tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, laboratorium, ataupun rumah sakit. Ilmu akan menemukan makna yang lebih besar ketika mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Baca Juga  Menghadirkan Sikap Muraqabah

Mahasiswa keperawatan bukan hanya calon tenaga kesehatan. Mereka juga dapat menjadi pendidik, penggerak, dan agen perubahan di tengah masyarakat.

Melalui edukasi kegawatdaruratan, mahasiswa dapat membantu masyarakat memahami bagaimana mengenali kondisi darurat, memberikan pertolongan awal, melakukan Bantuan Hidup Dasar, serta mengambil tindakan yang tepat sebelum bantuan profesional datang.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai kemanusiaan yang menjadi bagian penting dalam gerakan Muhammadiyah: menghadirkan ilmu sebagai amal dan menjadikan keberadaan manusia semakin bermanfaat bagi sesama.

Menolong satu nyawa bukan sekadar tindakan medis. Di dalamnya terdapat kepedulian, keberanian, dan penghargaan terhadap kehidupan manusia.

Bencana Tidak Berakhir Ketika Air Surut

Sering kali perhatian kita tertuju pada saat bencana terjadi. Padahal, persoalan kesehatan dapat muncul justru setelah bencana mereda.

Ketika masyarakat harus tinggal di tempat pengungsian, berbagai persoalan baru dapat muncul. Keterbatasan air bersih, sanitasi yang kurang baik, pengelolaan limbah, kepadatan pengungsi, serta keterbatasan makanan bergizi dapat meningkatkan risiko penyakit.

Diare, ISPA, dan penyakit kulit merupakan beberapa masalah kesehatan yang dapat muncul apabila lingkungan pengungsian tidak dikelola dengan baik.

Lebih dari itu, kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan masyarakat yang membutuhkan perhatian kesehatan khusus harus mendapatkan perlindungan yang memadai.

Maka, pengungsian yang sehat bukan sekadar tempat untuk berteduh. Ia harus menjadi ruang yang mampu menjaga martabat, kesehatan, dan keselamatan para penyintas bencana.

Di sinilah manajemen pengungsian sehat menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

Dari Masyarakat Biasa Menjadi Masyarakat Siaga

Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan adalah membangun Kampung Siaga Bencana.

Kampung Siaga Bencana bukan hanya tentang kesiapan menghadapi datangnya bencana. Lebih jauh, ia adalah tentang membangun kesadaran bahwa setiap warga memiliki peran dalam menjaga keselamatan lingkungan dan sesamanya.

Kader masyarakat dapat diberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan pertolongan pertama. Teknik balut bidai dapat dipelajari dengan memanfaatkan benda sederhana yang tersedia di sekitar. Setiap keluarga juga dapat didorong untuk memiliki Tas Siaga Bencana.

Baca Juga  Ingat Mati Dapat Melembutkan Hati

Kelompok perempuan dan PKK dapat mengambil peran dalam pengelolaan dapur umum yang memperhatikan kebutuhan gizi, khususnya bagi anak-anak. Pengetahuan mengenai penyediaan air bersih dan sanitasi sederhana juga perlu diperkuat agar tempat pengungsian tidak berubah menjadi sumber masalah kesehatan baru.

Dengan cara seperti ini, masyarakat tidak lagi hanya menunggu pertolongan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi bagian dari pertolongan itu sendiri.

Pekalongan dan Pentingnya Kesiapsiagaan

Bagi masyarakat Pekalongan, pembahasan mengenai kesiapsiagaan bencana memiliki kedekatan tersendiri. Banjir rob menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi masyarakat di wilayah tertentu.

Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa bencana dapat hadir tanpa mengenal waktu. Kedaruratan pun dapat terjadi di mana saja—di rumah, di jalan, di lingkungan pendidikan, maupun di tengah masyarakat.

Karena itu, kemampuan menghadapi kondisi gawat darurat tidak semestinya hanya menjadi kompetensi tenaga kesehatan.

Ia perlu menjadi keterampilan kemanusiaan yang dapat dimiliki sebanyak mungkin orang.

Ketika seorang warga mampu memberikan pertolongan dengan benar, ketika seorang ibu mengetahui bagaimana menjaga kesehatan anak di pengungsian, atau ketika sebuah keluarga telah memiliki perlengkapan kesiapsiagaan, sesungguhnya kita sedang membangun ketangguhan dari tingkat yang paling dasar: keluarga dan komunitas.

Mahasiswa sebagai Agent of Change

Di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan tersebut, mahasiswa memiliki posisi yang istimewa. Mereka memiliki pengetahuan, energi, kreativitas, dan kesempatan untuk menerjemahkan ilmu menjadi gerakan nyata.

Mahasiswa keperawatan UMPP dapat mengambil peran sebagai agent of change dengan membawa edukasi kesehatan dan kesiapsiagaan bencana lebih dekat kepada masyarakat.

Bukan sekadar datang ketika bencana telah terjadi dengan membawa bantuan, tetapi hadir jauh sebelumnya untuk menyiapkan masyarakat agar lebih siap.

Bukan sekadar memberikan teori, tetapi mengajarkan keterampilan yang dapat dipraktikkan.

Bukan sekadar menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan ilmu sebagai bentuk pengabdian.

Baca Juga  Maulid Nabi: Jalan Menegakkan Moral Publik dan Praksis Kemanusiaan

Semangat inilah yang menjadikan pendidikan memiliki makna yang lebih luas: ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang diamalkan, dan ilmu yang diamalkan menjadi kebermanfaatan.

Menolong Sesama, Merawat Kemanusiaan

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bencana bukan hanya berbicara tentang teknik. Ia berbicara tentang kepedulian.

Ketika seseorang berani memberikan pertolongan kepada korban, ketika masyarakat saling membantu di tengah keterbatasan, dan ketika ilmu kesehatan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, di situlah nilai kemanusiaan hadir secara nyata.

Memasyarakatkan Bantuan Hidup Dasar dan kesiapsiagaan bencana adalah bagian dari ikhtiar untuk membangun masyarakat yang mandiri, tangguh, dan saling menguatkan.

Kita mungkin tidak dapat menghentikan seluruh bencana. Kita juga mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh perubahan iklim. Namun, kita dapat mempersiapkan manusia agar tidak menyerah di hadapan keadaan.

Kita dapat mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan.

Kita dapat mengubah kepanikan menjadi kesiapan.

Dan kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.

Menjemput Indonesia Emas dengan Manusia yang Tangguh

Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi gedung yang kita bangun atau seberapa maju teknologi yang kita miliki. Lebih dari itu, Indonesia Emas adalah tentang manusia Indonesia yang mampu menjaga kehidupan, membantu sesama, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Membangun masyarakat tangguh bencana berarti menanam investasi kemanusiaan untuk masa depan.

Mahasiswa keperawatan UMPP memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. Dengan ilmu, kepedulian, dan semangat pengabdian, mahasiswa dapat menjadi bagian dari gerakan yang membangun masyarakat lebih siap menghadapi kegawatdaruratan dan bencana.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun, tetapi juga bangsa yang mampu melindungi, menolong, dan menguatkan sesamanya.

Dari masyarakat yang siaga, lahir komunitas yang tangguh.

Dari komunitas yang tangguh, tumbuh bangsa yang kuat.

Dan dari generasi muda yang mau mengabdikan ilmunya untuk kemanusiaan, kita menjemput Indonesia Emas 2045 dengan penuh harapan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button