Artikel

Mahasiswa Sehat, Indonesia Kuat Menuju 2045

Kesehatan merupakan salah satu modal utama dalam membangun masa depan bangsa. Negara yang ingin mencapai kemajuan tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam dan teknologi yang berkembang, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang sehat, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ketiga atau SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Tujuan ini menjadi semakin penting bagi Indonesia karena generasi muda, khususnya mahasiswa, merupakan calon pemimpin dan penggerak pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi fisik prima. Namun, kehidupan perkuliahan tidak selalu identik dengan pola hidup sehat. Jadwal kuliah yang padat, tugas akademik, kegiatan organisasi, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang berolahraga, pola makan tidak teratur, hingga kecenderungan menghabiskan banyak waktu di depan layar dapat menjadi tantangan tersendiri. Kesibukan tersebut terkadang membuat mahasiswa menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang dapat diperhatikan nanti, setelah tugas selesai atau setelah mendapatkan pekerjaan.

Padahal, kebiasaan yang dibentuk pada masa mahasiswa dapat memengaruhi kualitas kehidupan pada masa mendatang. Ilhamsyah dkk. menunjukkan bahwa pola hidup sehat memiliki hubungan dengan prestasi belajar mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bukan hanya berkaitan dengan mencegah penyakit, tetapi juga dapat mendukung mahasiswa dalam menjalankan aktivitas akademik secara optimal. Membangun kehidupan sehat di lingkungan mahasiswa merupakan salah satu langkah nyata untuk mendukung tercapainya SDG 3 sekaligus mempersiapkan generasi yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Kemeriahan Penyambutan Mahasiswa Baru UMPP

Kehidupan sehat seharusnya dipahami secara menyeluruh. Sehat bukan hanya berarti tidak sedang sakit, tetapi juga memiliki kondisi fisik, mental, dan sosial yang mendukung seseorang untuk menjalani kehidupan secara produktif. Bagi mahasiswa, kesehatan menjadi semakin penting karena masa perkuliahan merupakan periode ketika seseorang mulai belajar mengambil keputusan secara mandiri, termasuk menentukan makanan yang dikonsumsi, waktu tidur, aktivitas fisik, serta cara mengelola tekanan akademik.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah pola aktivitas fisik mahasiswa. Penelitian Primadana dkk. mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap pola hidup sehat mahasiswa baru PJKR FKIP Universitas Tadulako menunjukkan adanya pengaruh aktivitas fisik terhadap pola hidup sehat mahasiswa. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat.

Baca Juga  Spirit Tahajud #22 : Kekuatan Sholat Tahajud

Aktivitas fisik tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kegiatan olahraga bagi orang yang ingin memiliki tubuh atletis. Aktivitas fisik merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari. Mahasiswa dapat memulainya dari hal sederhana, seperti berjalan kaki menuju kelas, menggunakan tangga, melakukan peregangan setelah duduk lama, bersepeda, mengikuti kegiatan olahraga kampus, atau menyediakan waktu khusus untuk berolahraga secara rutin.

Aktifitas mini soccer KSPPS BTM Pekalongan
Aksi tim BTM Pekalongan saat laga berlangsung

Selain aktivitas fisik, persoalan kesehatan mahasiswa juga berkaitan dengan kualitas hidup. Penelitian Araya dkk. terhadap mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia menemukan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan health-related quality of life atau kualitas hidup terkait kesehatan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kualitas kehidupan mahasiswa. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan sehat bukan sekadar persoalan penampilan fisik. Tubuh yang aktif dapat membantu seseorang menjalankan kegiatan sehari-hari dengan lebih baik. Mahasiswa yang menjaga kebugaran juga memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan kegiatan akademik, organisasi, maupun kegiatan sosial secara optimal.

Permasalahan berikutnya adalah pola makan. Mahasiswa yang tinggal sendiri atau di tempat kos terkadang menghadapi tantangan dalam memilih makanan. Pertimbangan harga, kemudahan, rasa, dan waktu sering kali lebih diutamakan daripada kandungan gizi. Akibatnya, makanan cepat saji atau makanan yang kurang beragam dapat menjadi pilihan yang terlalu sering dikonsumsi.

Penelitian Gunawan dkk. mengenai sosialisasi pola hidup sehat melalui gizi optimal menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswa mengenai gizi masih perlu ditingkatkan. Dalam kegiatan yang melibatkan mahasiswa Universitas Negeri Semarang, ditemukan bahwa sebagian peserta belum memahami konsep gizi seimbang dengan baik sebelum diberikan sosialisasi. Setelah kegiatan dilakukan, pemahaman peserta mengalami peningkatan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan memiliki peran penting. Seseorang tidak selalu menerapkan pola hidup sehat bukan karena tidak peduli, tetapi bisa saja karena belum memiliki informasi yang cukup atau belum mengetahui cara menerapkannya. Oleh karena itu, literasi kesehatan perlu menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa.

Baca Juga  Menghitung POTENSI Ekonomi MUHAMMADIYAH: 21 Juta m² TANAH WAKAF, Rp15 Triliun LIKUID, dan PELUANG Menjadi KEKUATAN GLOBAL

Permasalahan kesehatan mahasiswa dengan demikian tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan nasihat agar hidup sehat. Diperlukan lingkungan yang mendukung mahasiswa untuk menerapkan kebiasaan tersebut. Kampus dapat menjadi ruang strategis untuk membangun budaya hidup sehat karena mahasiswa menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan. Dalam hal ini, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan. Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan gerakan sederhana yang dapat memberikan dampak kepada lingkungan sekitar. Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa dapat menggunakan pengetahuan, kreativitas, teknologi, organisasi, dan media sosial untuk mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sehat.

Salah satu gagasan yang dapat dilakukan adalah membentuk “Gerakan Mahasiswa Sehat Menuju Indonesia Emas 2045”. Gerakan tersebut dapat dilaksanakan melalui kegiatan sederhana dan realistis di lingkungan kampus. Pertama, mahasiswa dapat membuat gerakan “30 Menit Aktif Setiap Hari”. Kegiatan tersebut tidak harus berupa olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, senam, bermain olahraga bersama, atau melakukan aktivitas fisik sederhana dapat menjadi pilihan. Organisasi mahasiswa juga dapat mengadakan kegiatan olahraga mingguan agar aktivitas fisik menjadi bagian dari budaya kampus.

Kedua, mahasiswa dapat membangun kampanye gizi seimbang. Kampanye dapat dilakukan melalui poster, video pendek, infografis, maupun konten media sosial. Mahasiswa dapat berbagi informasi mengenai pentingnya sarapan, konsumsi sayur dan buah, minum air yang cukup, serta memilih makanan yang sesuai kebutuhan tubuh. Kegiatan tersebut dapat bekerja sama dengan mahasiswa dari bidang kesehatan, organisasi kemahasiswaan, maupun pengelola kantin kampus. Ketiga, mahasiswa dapat membuat tantangan hidup sehat berbasis digital. Misalnya, mahasiswa membuat tantangan berjalan kaki, mengurangi konsumsi minuman tinggi gula, membiasakan tidur lebih teratur, atau meningkatkan konsumsi buah dan sayur. Pemanfaatan teknologi membuat gerakan kesehatan lebih menarik dan memungkinkan mahasiswa saling memberikan motivasi.

Keempat, mahasiswa dapat mengintegrasikan gerakan kesehatan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan mengenai pola hidup sehat tidak seharusnya berhenti di lingkungan kampus. Mahasiswa dapat memberikan edukasi sederhana kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, mengenai aktivitas fisik, kebersihan diri, makanan bergizi, dan pentingnya menjaga kesehatan. Jika dilakukan secara konsisten, berbagai kegiatan tersebut dapat memberikan dampak yang lebih besar daripada sekadar kampanye sesaat. Mahasiswa dapat membangun kebiasaan sehat pada dirinya sekaligus memengaruhi teman sebaya dan masyarakat sekitar. Inilah bentuk kontribusi mahasiswa terhadap SDG 3 yang dapat dilakukan sesuai kemampuan dan lingkungan masing-masing.

Baca Juga  Meraih Shalat yang Khusyu

Kehidupan sehat dan sejahtera bukanlah tujuan yang hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan. Mahasiswa sebagai generasi intelektual memiliki peran penting dalam menciptakan budaya hidup sehat mulai dari lingkungan terdekat. Aktivitas fisik, pola makan bergizi, pengelolaan kebiasaan sehari-hari, serta kepedulian terhadap kesehatan merupakan bagian dari investasi jangka panjang. Menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, produktif, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial. Karena itu, mahasiswa harus mulai melihat kesehatan bukan sebagai sesuatu yang baru diperhatikan ketika sakit, melainkan sebagai modal untuk berkarya dan memberikan manfaat.

Mewujudkan SDG 3 dapat dimulai dari tindakan sederhana: bergerak lebih aktif, memilih makanan yang lebih sehat, meningkatkan literasi kesehatan, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Jika kebiasaan kecil tersebut dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan, kampus dapat menjadi salah satu tempat lahirnya generasi yang sehat dan siap membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Penulis: Movie Lisa Angelin, Mahasiswa S1 Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

DAFTAR PUSTAKA

Araya, R. C., Rukhayati, Y., Damayanti, I., Suherman, A., Rahayu, N. I., Jajat, & Sultoni, K. (2022). Hubungan screen time dan tingkat aktivitas fisik mahasiswa di masa Covid-19 dengan health related quality of life. MEDIKORA, 21(1), 31–40.

Gunawan, A. R. F., Kurniawati, E., Rahmatammina, R. N., Kurniasari, B., Hasanah, M. N., & Afifah, A. (2023). Sosialisasi Pola Hidup Sehat pada Mahasiswa Melalui Gizi Optimal sebagai Investasi Jangka Panjang. Jurnal Implementasi, 3(2), 104–108.

Primadana, R. S., Rivalwan, Daipaha, M. T. M., & Pardini, G. C. (2025). Pengaruh Aktifitas Fisik terhadap Pola Hidup Sehat Mahasiswa Baru PJKR FKIP Universitas Tadulako. Journal Sport Science Indonesia, 4(2), 34–47.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button