Artikel

Mengamalkan Ajaran Taqwa

SPIRIT TAHAJUD (305) 0411 Oleh Drs. H. Amat Sulaiman

SPIRIT TAHAJUD (305) 0411🌻

Mengamalkan Ajaran Taqwa

Dalam menjalani hidup di dunia ini tentu kita sudah merasakan manis dan pahit getirnya kehidupan dengan variasi problematikanya. Untuk itu kita sering diberi nasehat agar senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya. Nah, problemnya sekarang adalah apakah Taqwa itu ? Lalu bagaimana mengamalkannya ? Seseorang yang ingin melakukan introspeksi ketaqwaan yang ada pada dirinya harus bisa memahami arti taqwa berikut juga dengan ciri-cirinya, yaitu takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan cara mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan cara menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.🌿

Pengertian Taqwa secara Etimologi adalah Taqwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. Sedangkan pengertian Taqwa secara terminologi adalah Taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. Kata ‘Taqwa’ itu sendiri dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya—mengandung makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 102 sebagai berikut:

Baca Juga  Gunjingan Kopi Tuwo: Dari Saung Ngopi ke Madrasah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa Ibnu Murdawaih meriwayatkan hadits melalui Yunus ibnu Abdul A’la, dari Ibnu Wahb, dari Sufyan As-Sauri, dari Zubaid, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya (Ali Imran:102), — lalu beliau bersabda menafsirkannya— hendaknya Allah ditaati, tidak boleh durhaka kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan jangan ingkar kepada (nikmat)-Nya, dan selalu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya. “Wahai manusia, Sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan juga orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”

👉 Mengambil nasehat Ali bin Abu Thalib dari salah satu sahabat Rasulullah saw, yang mengatakan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah itu mempunyai empat sifat yang utama. Bilamana empat sifat orang bertakwa ini terdapat pada diri seseorang, maka dia dapat dikatakan mencapai derajat muqarrabin atau dekat dengan Allah 🌷

✍️ Sifat pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, yakni manusia yang merasa takut kepada Allah swt yang mempunyai sifat Maha Agung. Berapa banyak dari kita yang benar-benar takut kepada Allah? Berapa banyak dari kita yang sadar bahwa Allah tahu semua gerak-gerik kita ? bahwasanya ada dua malaikat di kiri kanan kita yang senantiasa mencatat semua perbuatan kita ? Bahkan rasanya pencuri saja lebih takut dilihat CCTV daripada dilihat aparat hukum, bagaimana pula jika dibandingkan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Seringkali kita lebih takut ketahuan orang lain padahal Allah selalu terjaga dan tidak pernah tidur. Astaghfirullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. (Al Mulk 12)

Baca Juga  Kejujuran Kunci Hidup Sukses

✍️ Sifat Kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, manusia yang beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah swt. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Ibrahim 7).

Syukur adalah kunci keberkahan dari karunia Allah. Nilai berkah diumpamakan sebagai satu tangkai yang mampu mengeluarkan banyak biji dan buah. Dan dari satu tangkai mampu mengenyangkan ruang perut manusia yang banyak.

✍️ Sifat ketiga, Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah swt, meskipun hanya sedikit. “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak”. (HR Ahmad)

Rezeki kita cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup kita. Ketahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun.

Baca Juga  Zakat Fitri: Kewajiban Muzakki, Amanah Amil, dan Hak Mustahik

✍️ Sifat Keempat, Al-Isti`dadu li Yaumir-Rahil, yaitu senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah. Allah swt, berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Hashr 18)

👉 Bilamana empat sifat orang bertakwa itu ada pada diri seseorang, maka dia dapat dikatakan mencapai derajat muqarrabin (dekat dengan Allah).🙏

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button