Gunjingan Kopi Tuwo: Dari Saung Ngopi ke Madrasah

muhammadiyahpekalongan.or.id ,Tambakroto, Kajen — Di sebuah saung sederhana yang akrab disebut “Kopi Tuwo”, sekelompok pemuda berkumpul malam tadi. Bukan sekadar menyeruput kopi dan bercengkerama, mereka tengah menyusun rencana besar: membangun masa depan pendidikan di desa mereka.
Empat tahun lalu, para pemuda yang tergabung dalam Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tambakroto ini memulai langkah berani. Di usia yang masih di bawah 50 tahun, mereka menggagas pendirian Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa. Setahun kemudian, madrasah itu resmi membuka pendaftaran murid baru. Kini, MI tersebut telah memasuki tahun ketiga, dengan tiga angkatan siswa yang aktif belajar.
Perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Setelah melalui proses administratif yang panjang, pada April 2025, izin operasional dari Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah akhirnya turun. Sebuah tonggak penting yang menandai legalitas dan pengakuan atas kerja keras mereka.
Malam refleksi akhir tahun itu dihadiri oleh sejumlah tokoh muda penggerak desa: Tarmono, Pujo Antoko, Tulus Ikhlasa, Alek Rofan, Imam, Tarono, Budi Daryono, Sadi, Wasik, Endit, dan beberapa lainnya. Mereka datang bukan dengan jas dan dasi, melainkan dengan semangat dan secangkir kopi.
Dalam suasana hangat dan penuh semangat, mereka membahas banyak hal: pengelolaan lahan wakaf produktif yang kini ditanami kopi, rencana wisuda santri TPQ menjelang Ramadan, pengembangan unit pendidikan anak usia dini (TK), hingga kelanjutan pembangunan gedung MI.

Setelah sukses menyelesaikan Gedung A—dua lantai dengan empat ruang kelas—dengan dana sekitar Rp400 juta, kini mereka bersiap memulai pembangunan tahap kedua: Gedung B. Targetnya, gedung ini rampung dan siap digunakan pada Juli 2026, dengan estimasi anggaran antara Rp550 juta hingga Rp600 juta.
Rencana ini bukan sekadar wacana. Mereka telah menyusun langkah konkret: pemerataan lahan, peletakan batu pertama, kerja bakti yang melibatkan para bapak dan pemuda, serta dukungan konsumsi dari ibu-ibu. Tak ketinggalan, strategi penggalangan dana dan penyusunan proposal pun mulai digodok.
Di balik semua itu, ada semangat kolektif yang luar biasa. Tanpa sorotan kamera, tanpa panggung megah, para pemuda ini terus bergerak. Mereka membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tempat sederhana—seperti warung kopi.
Kopi Tuwo bukan sekadar tempat ngopi. Ia menjadi saksi bisu lahirnya ide-ide besar, tempat bertemunya semangat, dan ruang tumbuhnya harapan. Dari cangkir ke cita-cita, dari obrolan ke aksi nyata, pemuda Tambakroto menunjukkan bahwa masa depan bisa dibangun dengan gotong royong, secangkir kopi, dan tekad yang tak pernah padam.



