KHUTBAH IDUL ADHA : DARI QURBAN MEMBAWA PERADABAN
Oleh Syifa’ Ma’ruf, M.Pd Bidang Dakwah Kominfo PDPM Kab. Pekalongan

DARI QURBAN MEMBAWA PERADABAN
(Syifa’ Ma’ruf, M.Pd)
Bidang Dakwah Kominfo PDPM Kab. Pekalongan
الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ الله تَعَالىٰ :يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَاِللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas izin-Nya kita berkesempatan untuk berkumpul di tempat yang mulia dan penuh keberkahan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Moment hari raya idhul adha salah satu bulan bersejarah yang ada dalam Islam, ingatan kita tertuju pada kisah Nabi Ibrahim As. Salah seorang dari lima orang Rasul ulul azmi karena ujian berat bertubi-tubi yang diberikan kepadanya. Setelah beliau selamat dari peristiwa pembakaran yang dilakukan raja Namrud dan ujian kekurangan bersama istri serta anaknya dipadang tandus yang kemudian mendapatkan perintah mengorbankan putra harta kesayangan yang sangat dicintainya Ismail melalui sebuah mimpi. Peristiwa itu menjadi perintah dalam agama Islam yang dilanjutkan dan diteladani oleh Nabi Muhammad Saw. dikisahkan dalam Qs. As-Saffat ayat 101-103 :
فَبَشَّرۡنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيۡمٍ
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ
فَلَمَّاۤ اَسۡلَمَا وَتَلَّه لِلۡجَبِيۡنِۚ
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Kisah yang digambarkan oleh Allah Swt melalui perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim As dan keluarga memberikan keteladanan dan peradaban hidup kepada kita semua :
Pertama, Menurunkan Ego Duniawi
Ego merupakan pengendali utama atas cara kerjanya kepribadian yang menjadi pembeda antar manusia. pengorbanan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih Ismail, umat Islam belajar bahwa ego duniawi sama sekali tidak boleh mengungguli kecintaan kepada Allah. Nabi Ibrahim as memliki kecintaan terhadap anaknya yang sangat berbakti. Sebagai manusia, wajar apabila beliau tidak mau kehilangan harta yang berharga dan mulia.Namun, barometer keimanan adalah rela memberikan harta yang dicinta.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya. (QS. Al Imran : 92)
Jika kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah dikalahkah oleh ego duniawinya, maka kemungkinan beliau akan memohon agar perintah tersebut dibatalkan. Namun, Nabi Ibrahim menunjukkan keteladanan yang luar biasa bahwa tidak ada yang lebih agung dibandingkan kesempatan untuk mematuhi kewajiban dari Allah. Era sekarang Ismail kita berupa rumah, saham, kendaraan, jabatan dan kedudukan. Banyak diantara kita terlalu ambisius terhadap hal tersebut sehingga perilaku melebihi kebinatangan mulai dari sombong, tamak, riya’ sampai namimah.
اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Kedua, Keikhlasan Dalam Diri
Ikhlas merupakan ruh dari semua diterimanya amal perbuatan. Nabi Ibrahim dengan keikhlasan yang tingkatnya begitu tinggi sehingga tidak ragu sedikitpun untuk mengindahkan perintah Allah. Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan sesuatu yang bahkan melampaui maqom ikhlas. Nabi Ibrahim rela mengorbankan salahsatu harta yang paling berharga untuk dipersembahkan kepada Allah Swt.
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)
Hal ini tentu lahir karena kecintaan hamba terhadap Tuhannya. keikhlasan dapat muncul bila ada cinta atau kasih sayang. Begitu pun dengan Nabi Ismail yang rela disembelih untuk menaati perintah Allah, padahal ia masih berusia muda dan punya masa depan yang masih panjang. Diera sekarang terkadang kita terlalu takut melepaskan sesuatu yang kita miliki seperti anak mulai jauh karena menempuh pendidikan, jabatan yang berganti dan kehilangan sedikit rejeki. Padahal keikhlasan sejati itu kalau kita bisa merelakan sesuatu yang kita cintai tanpa adanya intervensi.
اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Ketiga, Role Model Keluarga
Bagi para orang tua, kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dapat dijadikan pelajaran untuk berusaha menjadi role model yang baik bagi keluarga. Selama hidup, Nabi Ibrahim merupakan sosok orang tua yang tidak pernah berbohong, dapat diandalkan, amanah dan penuh kasih sayang. Beliau sama sekali tidak pernah mengecewakan anaknya dan selalu mendidik dengan benar, sesuai ajaran Islam. Alhasil, Ismail sangat mengidolakan ayahnya dan percaya penuh kepada Nabi Ibrahim. Sebagai dasar pondasi keluarga dalam pembentukan generasi.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَ
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah dan kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi dan Nasrani..”
Nabi Ibrahim dan Ismail merupakan figur yang layak dijadikan role model dikehidupan ini. Ketulusan dalam membangun komunikasi dan kepercayaan dimata sang buah hati. Bagi Ismail kesediaan menerima perintah dari Allah melalui ayahnya bentuk pengorbanan dan kesabaran bentuk ketaatan yang semua karakter positif tersebut merupakan tarbiyah ilahiyyah atau bimbingan dari Allah. Diera sekarang sudah jarang orangtua membangun komunikasi dan menjadi role model bagi anaknya. Banyak alasan kesibukan sehingga lupa mengeksplore kegiatan anaknya. Begitu juga anak lebih memprioritaskan kesenangan banyak bermain gajet dan tongkrongan dibandingkan meluangkan waktu bersama keluarga, tak jarang pula tidak bangga terhadap keadaan orangtua dan malah membandingkan dengan oranglain yang belum tentu pas bagi kita.
Kaum muslimin dan muslimat yang di rahmati Allah Swt
Akhirnya, marilah kita jadikan momentum idhul adha ini memperbaiki dengan menerapkan yang ada pada Ibrahim yang mudah-mudahan kita semua menjadi keluarga Ibrahim dizaman sekarang ini Aamiin yarabbal alamiin…
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَالِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَالِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَالِ إِبْرَاهِيْمَ. إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الاَحْيِاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ
رَبِّى اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا
Yaa..Rahman Yaa ..Rahim, Hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan. Luruskan dan kuatkanlah akidah kami seperti Ibrahim dan keluarga dalam menyembah-Mu. Tolonglah segala kesusahan kami seperti engkau menolong Ibrahim dalam peristiwa pembakaran Raja Namrud.
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rizki yang baik dan amal yang baik diterima. Berikanlah rezeki yang baik seperti engkau berikan rezeki saat Hajar dan Ismail menemukan air minumnya. Terimalah segala pengorbanan amal kami seperti saat Ibrahim dan keluarga berkorban dalam penghambaan-Mu
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, keluarga dan keturunan kami sebagai penyenang Mudahkanlah kami dalam mendidik keturunan seperti Ibrahim dan Hajar dalam mendidik Ismail. Jadikanlah keturunan kami yang sholeh sholehan seperti Ismail yang patuh dan taat dalam melaksanakan perintah-Mu
اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ ِاذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ِانَّكَ اَنْتَ الْوَهَّاب.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
