Gendong Visi Solid dan Visioner, Ketua PDM Pekalongan Ingatkan Kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Harus Berkarakter

muhammadiyahpekalongan.or.id | PEKALONGAN – Estafet regenerasi kepemimpinan mahasiswa harus diletakkan di atas fondasi moral yang kokoh, bukan sekadar kompetensi teknis belaka. Di hadapan ratusan kader yang memadati pembukaan Musyawarah Cabang (Musycab) XVIII, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan memberikan wejangan ideologis bahwa arah juang organisasi ke depan sangat bergantung pada keteladanan nyata yang ditunjukkan oleh para pemangku kebijakan barunya.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Mulyono Kastari, saat memberikan sambutan dalam agenda Grand Opening Musycab XVIII IMM Pekalongan yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026. Forum tertinggi tingkat cabang ini mengusung tema besar “Menyatukan Potensi Kader untuk Membangun Organisasi yang Solid, Visioner, dan Berdampak bagi Persyarikatan dan Bangsa”.
Dalam pandangannya, Mulyono menekankan bahwa nilai seorang kader tidak diukur dari kemampuannya beretorika di atas podium semata, melainkan dari konsistensi sikap dalam kehidupan sehari-hari.
”Kompetensi bisa dipelajari, tetapi kultur, integritas, dan karakter harus dibangun, dibina, dan selalu dirawat dengan baik. Sejatinya pemimpin Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan Organisasi Otonom (Ortom) adalah kurikulum hidup kader Muhammadiyah, karena kader akan lebih banyak meniru perilaku pemimpinnya daripada membaca visi dan misi yang tertulis,” tegas Mulyono disambut riuh tepuk tangan peserta.
Jalur Perjuangan Tanpa Keistimewaan
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PC IMM Pekalongan, Muhammad Haidar, mengingatkan bahwa ikatan ini didirikan bukan untuk menawarkan zona nyaman ataupun fasilitas instan bagi para aktivisnya.
”Musyawarah Cabang bukan hanya tentang kontestasi atau pergantian kepemimpinan, melainkan bagaimana kita menyatukan potensi kader demi keberlanjutan gerakan. IMM tidak memberikan jalur istimewa, tetapi IMM memberikan jalur perjuangan. Menjadi kader bukan hanya tentang hari ini, tetapi bagaimana kita menyiapkan kebermanfaatan untuk masa depan,” ujar Haidar penuh jargon perjuangan.
Apresiasi tinggi juga mengalir dari pihak akademisi. Rektor Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) yang turut hadir menegaskan posisi strategis IMM sebagai inkubator intelektual muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan umat dan bangsa.
Kolaborasi Lintas Tokoh dan Sektor
Agenda pembukaan yang berlangsung khidmat ini menjadi ruang konsolidasi akbar karena mempertemukan berbagai pilar penting persyarikatan. Selain dihadiri oleh ratusan kader ortom se-Kabupaten Pekalongan, hadir pula Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, H. Sofwan Sumadi, yang bertindak sebagai keynote speaker.
Dalam pemaparannya, Sofwan menantang kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pekalongan untuk lebih berani mengambil peran strategis di kancah perubahan sosial. “Generasi muda harus mampu membaca perubahan zaman, meningkatkan kapasitas diri, memperkuat jejaring, serta berani memberikan solusi konkret bagi problematika di tengah masyarakat,” tuturnya.
Melalui momentum Musycab XVIII ini, PC IMM Pekalongan berkomitmen melahirkan nakhoda baru beserta jajaran formatur yang mampu merawat nilai-nilai intelektualitas, humanitas, dan spiritualitas secara seimbang demi kontribusi nyata bagi persyarikatan dan bangsa Indonesia.



