Artikel

Spirit Tahajud #200 : Semua Mahluk Membutuhkan Allah

Di saat kesulitan melanda, di saat
hati telah merasa putus asa, yang diharap hanyalah pertolongan Allah. Hamba
hanyalah seorang yang fakir. Sedangkan Allah adalah Al Ghoniy, Yang Maha Kaya,
yang tidak butuh pada segala sesuatu. Bahkan Allah-lah tempat bergantung
seluruh makhluk.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا
النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ
الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang sangat
butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah
Ta’ala menerangkan bahwa Dia itu Maha Kaya, tidak butuh sama sekali pada selain
Dia. Bahkan seluruh makhluklah yang sangat butuh pada-Nya. Seluruh makhluk-lah
yang merendahkan diri di hadapan-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam
diam mereka sekali pun. Secara dzat, Allah sungguh tidak butuh pada mereka.
Oleh karena itu, Allah katakan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji,
yaitu Allah-lah yang bersendirian, tidak butuh pada makhluk-Nya, tidak ada
sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji pada apa yang Dia perbuat dan
katakan, juga pada apa yang Dia takdirkan dan syari’atkan.”

Seluruh makhluk sungguh sangat butuh
pada Allah dalam berbagai hal.

Makhluk masih bisa terus hidup, itu
karena karunia Allah.

Anggota badan mereka begitu kuat
untuk menjalani aktivitas, itu pun karena pemberian Allah.

Mereka bisa mendapatkan makanan,
rizki, nikmat lahir dan batin, itu pun karena kebaikan yang Allah beri.

Mereka bisa selamat dari berbagai
musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itu pun karena Allah yang menghilangkan
itu semua.

Allah-lah yang memberikan mereka
petunjuk dengan berbagai hal sehingga mereka pun bisa selamat.

Baca Juga  Meneguhkan Dakwah Berkemajuan, Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Jadi, makhluk amatlah butuh pada
Allah dalam penghambaan kepada-Nya, cinta kepada-Nya, ibadah kepada-Nya, dan
mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Seandainya mereka tidak melakukan penghambaan
semacam ini, niscaya mereka akan hancur, serta ruh, hati, dan kondisi mereka
pun akan binasa.

Di antara bentuk ghina Allah (tidak
butuh pada makluk-Nya) adalah Allah tidak butuh pada ketaatan yang dilakukan
oleh orang yang taat. Tidak memudhorotkan Allah sama sekali jika hamba berbuat
maksiat. Jika seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini beriman, tidak akan
menambah kerajaan-Nya sedikit pun juga. Begitu pula jika seluruh makhluk yang
ada di muka bumi kafir, tidak pula mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ شَكَرَ
فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Dan barangsiapa yang bersyukur maka
sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendir. Dan barangsiapa
yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml:
40)

وَمَنْ جَاهَدَ
فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al
‘Ankabut: 6)

فَكَفَرُوا
وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Lalu mereka ingkar dan berpaling;
dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. At Taghobun: 6)

إِنْ تَكْفُرُوا
أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Jika kamu dan orang-orang yang ada
di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha
Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala
berfirman,

Baca Juga  Kontribusi Islam pada Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Aplikasi Mobile Pemantauan Terapi Obat Diabetes Melitus oleh Apoteker

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ
ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ
ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang
terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka
itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan
menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang
terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat
seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi
kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak
butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah Allah tidak butuh pada infak dari
orang yang berinfak dan begitu pula Allah tidak mendapatkan bahaya jika ada
orang yang pelit. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْخَلْ
فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Dan siapa yang kikir, sesungguhnya
Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya
sedangkan kamulah orang-orang yang butuh (kepada-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak
butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah terbebasnya Allah dari berbagai
‘aib dan kekurangan. Barangsiapa yang menetapkan sifat tidak sempurna bagi
Allah, maka itu berarti telah mencacati sifat ghina Allah. Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Mereka (orang-orang Yahudi dan
Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha
Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi.” (QS. Yunus:
68)

Baca Juga  Filosofi Puasa Ramadhan

Tidak ada yang sebanding dengan
Allah dan tidak pula yang jadi tandingan bagi-Nya. Itulah bentuk ghina Allah
yang lain. Lantas bagaimana seseorang menyamakan makhluk yang fakir dengan
Allah. Bagaimana mungkin Allah yang ghoni Yang Maha Kaya disamakan dengan
hamba. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ
مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ
الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ
وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sesungguhnya telah kafirlah
orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera
Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi
kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al masih putera Maryam itu beserta
ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan
Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (QS. Al Maidah: 17)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak
butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah hamba-Nya amat butuh berdoa
pada-Nya setiap saat. Allah pun berjanji untuk mengabulkannya. Allah pun
memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dan Allah janji akan memberikan
ganjaran.

Barangsiapa yang mengetahui Allah
memiliki sifat ghina (tidak butuh pada segala sesuatu selain Dia), maka ia akan
mengenali dirinya yang fakir dan benar-benar butuh pada Allah. Jika hamba telah
mengetahui bahwa ia sangat fakir dan sangat butuh pada Allah, itu adalah tanda
bahagia untuknya di dunia dan  akhirat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button