Artikel

Refleksi Pergeseran Spiritualitas, Anak dan Gawai, serta Transformasi Ekonomi di Era Teknologi

NUANSA RAMADHAN: DARI TRADISI KE DIGITALISASI

Refleksi Pergeseran Spiritualitas, Anak dan Gawai, serta Transformasi Ekonomi di Era Teknologi

 

Oleh: Firman Santoso, M.Pd.

Kepala MI Muhammadiyah Danurejo

 

 

 

 

Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang sarat makna: bulan ibadah, refleksi, pengendalian diri, dan penguatan relasi sosial. Namun dalam dua dekade terakhir, nuansa Ramadhan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Perkembangan teknologi digital, khususnya smartphone dan e-commerce, telah menggeser pola kebiasaan ibadah, interaksi keluarga, hingga cara masyarakat berbelanja.

Perubahan ini tidak selalu negatif, tetapi jelas membawa konsekuensi yang perlu direfleksikan secara serius — terutama dalam konteks pembinaan generasi anak.

 

1. Ramadhan Dulu dan Sekarang: Perubahan Pola Kebiasaan

Di masa sebelum era smartphone, suasana Ramadhan identik dengan interaksi langsung: anak-anak bermain selepas tarawih, tadarus bersama di masjid, sahur dan berbuka dengan percakapan hangat keluarga tanpa distraksi layar. Tradisi sosial menjadi sarana pendidikan karakter secara alami.

Kini, ponsel pintar menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, bahkan pada anak usia sekolah dasar. Laporan berbagai penelitian menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan smartphone pada anak dan remaja, dengan durasi penggunaan harian yang dalam banyak kasus melampaui batas ideal 2 jam per hari. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Children (2024) menemukan bahwa kecanduan smartphone berkorelasi dengan gangguan regulasi emosi, penurunan interaksi sosial, dan gangguan tidur pada anak dan remaja (Mulyani et al., 2024).

Baca Juga  Lomba Islami Jadi Sarana Evaluasi dan Pembinaan Santri TPQ Aisyiyah Wiradesa

Fenomena ini dalam psikologi disebut problematic smartphone use — penggunaan yang bersifat kompulsif dan sulit dikendalikan.

Padahal, hakikat puasa adalah pengendalian diri. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah taqwa — kemampuan mengendalikan diri. Maka ketika Ramadhan justru diisi dengan konsumsi digital tanpa batas, ada ironi yang patut kita renungkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

(HR. Bukhari no. 1903)

Jika ucapan dan perilaku harus dijaga saat puasa, maka distraksi digital yang melalaikan pun layak masuk dalam refleksi pengendalian diri.

 

2. Anak dan Ponsel: Dari Alat Bantu ke Ketergantungan

Berbagai studi menunjukkan bahwa paparan gawai yang berlebihan pada anak berdampak pada perkembangan sosial-emosional. Laporan Universitas Indonesia (2023) menyebutkan bahwa kecanduan gawai dapat mengurangi kualitas interaksi keluarga dan meningkatkan risiko isolasi sosial.

Dalam konteks Ramadhan, waktu yang seharusnya diisi dengan tadarus, diskusi keagamaan, atau interaksi keluarga sering tergantikan oleh scrolling media sosial atau bermain gim daring.

Baca Juga  Tapak Suci Putera Muhammadiyah Wiradesa Borong Medali di Kejuaraan Tegal Championship

Secara neuropsikologis, aplikasi digital dirancang dengan sistem reward loop yang memicu pelepasan dopamin — hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan ketagihan. Maka tidak mengherankan jika anak sulit melepaskan diri dari layar.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan (wasathiyah) dan menjauhi sikap berlebihan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-An’am: 141)

Ayat ini bukan hanya soal konsumsi makanan, tetapi juga mencakup perilaku berlebihan dalam segala hal — termasuk penggunaan teknologi.

 

3. Pergeseran Konsumsi: Dari Pasar Tradisional ke Marketplace Digital

Selain pergeseran kebiasaan ibadah, Ramadhan juga mengalami transformasi dalam pola konsumsi.

Dulu, pasar tradisional menjelang berbuka atau menjelang Idul Fitri selalu penuh sesak. Interaksi tawar-menawar menjadi bagian dari dinamika sosial. Kini, banyak transaksi berpindah ke platform e-commerce.

Data berbagai lembaga riset menunjukkan pertumbuhan signifikan transaksi online selama Ramadhan. Penelitian tentang dampak belanja online terhadap retail tradisional di Asia Tenggara menunjukkan adanya penurunan kunjungan ke toko fisik akibat pergeseran preferensi konsumen ke platform digital (Rahman & Setiawan, 2024).

Akibatnya, sebagian toko fisik mengalami penurunan omset bahkan kesulitan bertahan. Sepinya pusat perbelanjaan bukan lagi fenomena musiman, melainkan tren struktural.

Belanja online memang menawarkan efisiensi, tetapi juga mendorong perilaku konsumtif impulsif karena kemudahan klik dan sistem promosi berbasis algoritma.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Seni Melepas Jabatan 

Dalam Islam, konsumsi tidak hanya soal kemampuan membeli, tetapi soal tanggung jawab moral. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari no. 1; Muslim no. 1907)

Artinya, bahkan aktivitas ekonomi pun memiliki dimensi etis dan spiritual.

 

4. Menuju Titik yang Belum Diketahui

Transformasi digital belum mencapai puncaknya. Artificial Intelligence, augmented reality shopping, dan ekosistem digital yang semakin personal akan terus mengubah pola hidup masyarakat.

Pertanyaannya: apakah Ramadhan akan semakin menjadi bulan konten dan diskon digital? Ataukah tetap menjadi bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)?

Perubahan tidak bisa dihentikan. Namun nilai dasar tetap harus dijaga. Tantangannya bukan pada teknologinya, tetapi pada kemampuan manusia mengendalikan diri.

 

5. Penutup: Mengembalikan Ruh Ramadhan

Ramadhan sejatinya adalah bulan latihan pengendalian diri — bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari segala bentuk ketergantungan yang mengurangi kesadaran spiritual.

Jika anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia digital, maka pendidikan Ramadhan harus adaptif — bukan melarang teknologi secara total, tetapi membimbing penggunaan yang bijak.

Digitalisasi adalah keniscayaan. Namun ruh Ramadhan adalah pilihan.

Apakah ia akan menjadi bulan refleksi dan kedekatan dengan Allah, atau sekadar bulan yang dipenuhi notifikasi, promosi, dan layar menyala?

Jawabannya ada pada bagaimana kita mendidik generasi hari ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button