Berita Cabang - Ranting

Shalat Idul Fitri 1447 H di Wiradesa: Momentum Kembali ke Fitrah dan Seruan Menjaga Alam

muhammadiyahpekalongan.or.id | Pekalongan — Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Jumat, 20 Maret 2026, berlangsung khidmat di Lapangan Sepakbola Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa. Ribuan jamaah memadati lokasi sejak pagi hari untuk menunaikan ibadah tahunan tersebut yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiradesa.

Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan shalat adalah Muhammad Nafis Yaksyallah, santri Pondok Pesantren Mu’allimin Yogyakarta. Sementara itu, khutbah Idul Fitri disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Ibnu Sholeh, MA., M.Pd., yang mengangkat tema besar tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari ajaran Islam.

Dalam khutbahnya, khotib mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada fitrah, tidak hanya dalam hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga dalam tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki amanah besar untuk menjaga keseimbangan alam, bukan justru merusaknya.

“Iedul Fitri bukan sekadar hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang menjaga amanah Allah, termasuk dalam menjaga kelestarian alam,” ujar Ibnu Sholeh dalam kutipan langsung khutbahnya.

Baca Juga  Lomba Islami Jadi Sarana Evaluasi dan Pembinaan Santri TPQ Aisyiyah Wiradesa

Lebih lanjut, ia menyoroti berbagai bencana alam yang melanda Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari banjir bandang, tanah longsor, hingga krisis lingkungan yang semakin kompleks. Menurutnya, bencana tersebut tidak lepas dari ulah manusia yang abai terhadap tanggung jawab ekologis.

Dalam penyampaianya, khotib juga menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang serakah, eksploitatif, dan tidak ramah terhadap alam. Ia menekankan bahwa eksploitasi berlebihan terhadap hutan, pencemaran sungai, serta gaya hidup yang tidak berkelanjutan menjadi faktor utama terjadinya bencana.

Menguatkan pesannya, ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Ayat tersebut menjadi peringatan tegas bahwa krisis lingkungan bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga refleksi dari krisis moral dan spiritual manusia.

Selain itu, khotib juga mengingatkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia dan alam (hablum minal ‘alam). Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah.

Baca Juga  Pertolongan Cepat Muhammadiyah: Kolaborasi Takmir Al Huda dan Lazismu Selamatkan Warga

“Menjaga alam bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari keimanan. Bahkan menanam pohon pun bernilai sedekah yang pahalanya terus mengalir,” ungkapnya dalam kutipan langsung.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk tetap menanam pohon meskipun hari kiamat akan tiba. Pesan tersebut, menurutnya, menunjukkan betapa pentingnya sikap optimisme dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam dalam ajaran Islam.

Khotib turut mengajak jamaah untuk melakukan “taubat ekologis”, yaitu kesadaran kolektif untuk berhenti merusak lingkungan dan mulai memperbaikinya. Dalam pandangannya, Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan antarindividu, tetapi juga menjadi titik balik dalam memperbaiki hubungan manusia dengan alam.

Secara tidak langsung, ia menegaskan bahwa langkah-langkah sederhana seperti mengurangi sampah, menghemat air, menjaga kebersihan, serta menanam pohon merupakan bentuk nyata ibadah yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Dalam bagian akhir khutbahnya, Ibnu Sholeh juga menyampaikan doa yang mendalam, memohon ampunan atas dosa-dosa manusia, baik yang bersifat pribadi maupun kolektif, termasuk dosa terhadap lingkungan. Ia juga mendoakan para pemimpin agar diberikan petunjuk dalam menjalankan amanah, serta berharap bangsa Indonesia dijauhkan dari berbagai bencana.

Baca Juga  Pelatihan Masjid Cerdas di Pekajangan: Dari Regulasi hingga Revolusi Media Sosial

Suasana haru terasa ketika doa dipanjatkan, dengan jamaah yang khusyuk mengikuti setiap lantunan permohonan. Doa tersebut tidak hanya berisi permohonan ampunan, tetapi juga harapan agar umat Islam mampu menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Desa Kemplong ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhidmatan. Panitia dari Majelis Tabligh PCM Wiradesa memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.

Momentum Idul Fitri tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi titik awal perubahan sikap dan kesadaran umat dalam menjaga keseimbangan alam. Pesan khutbah yang disampaikan menjadi pengingat kuat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam dan tanggung jawab sebagai manusia.

Dengan semangat Idul Fitri, jamaah diharapkan mampu membawa nilai-nilai kebaikan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button