Ust. Nisfun Nahar: Jangan Tunda Taubat, Karena Kesempatan Berakhir saat Ajal Tiba

muhammadiyahpekalongan.or.id | KARANGJATI, PEKALONGAN – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karangjat, Kabupaten Pekalongan, kembali menghidupkan ruh dakwah di tingkat akar rumput melalui pengajian rutin tengah bulanan, Sabtu malam Ahad (12/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi warga persyarikatan untuk memperkuat kesadaran taubat dan konsistensi dalam beribadah.
Menghadirkan narasumber Ust. Nisfun Nahar, M.Pd.I., pengajian ini membedah urgensi introspeksi diri dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dengan ujian.
Menyadari Kekeliruan, Menjemput Ampunan
Dalam tausiyahnya, Ust. Nisfun Nahar mengingatkan bahwa sebagai manusia, setiap individu tidak luput dari kesalahan, baik yang dilakukan karena lupa maupun disengaja. Namun, kunci kemuliaan seorang Muslim terletak pada kecepatannya untuk kembali ke jalan yang lurus.
“Dalam perspektif syariat, kesalahan terjadi ketika kita meninggalkan perintah Allah dan justru melaksanakan larangan-Nya. Kabar baiknya, Allah tidak pernah bosan menerima taubat hamba-Nya selama kita bersungguh-sungguh,” ungkapnya di hadapan jamaah yang hadir dengan antusias.
Batas Waktu yang Tak Terduga
Poin utama yang ditekankan dalam pengajian ini adalah sifat “segera” dalam bertaubat. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam penundaan, mengingat ajal adalah rahasia yang bisa datang kapan saja.
“Jangan pernah menunda taubat. Ingatlah bahwa kesempatan untuk kembali itu memiliki batas yang mutlak, yakni ketika napas sudah di kerongkongan (ajal) atau saat datangnya hari kiamat. Maka, saat sadar ada kekeliruan, segeralah beristighfar,” tegas Ust. Nisfun.
Amalan Penghapus Dosa
Selain taubat lisan, beliau juga mendorong jamaah untuk memperbanyak amal saleh sebagai sarana penghapus dosa (kafarat). Menjaga kedisiplinan shalat lima waktu serta menghidupkan ibadah di hari Jumat menjadi dua hal praktis yang sangat ditekankan untuk menjaga kesucian hati dari dosa-dosa kecil yang sering tidak disadari.
Beliau juga menambahkan bahwa kehidupan sering kali menghadirkan hal-hal yang tidak disukai (makarih). Alih-alih mengeluh, seorang kader Muhammadiyah diharapkan menjadikan setiap kesulitan sebagai sarana introspeksi untuk meningkatkan kualitas iman.
Penguatan Dakwah Ranting
Pengajian yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan diskusi ringan dan ramah tamah. Bagi PRM Karangjat, kegiatan rutin ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan benteng pertahanan spiritual agar warga Muhammadiyah tetap istiqamah dalam bermuhammadiyah di tengah kesibukan sehari-hari.



