Warisi Jejak Riset Prof Haedar Nashir, Kader Muhammadiyah Pekajangan Digembleng Jadi Pemimpin Adaptif

muhammadiyahpekalongan.or.id | PEKALONGAN – Bumi Pekajangan tidak pernah kehabisan tinta emas dalam sejarah pergerakan Islam di tanah air. Menyadari wilayahnya pernah menjadi subjek riset tesis S2 Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, puluhan generasi muda dalam agenda Sekolah Kader Muhammadiyah Pekajangan dituntut untuk bangkit merawat warisan intelektual tersebut dengan mengasah kapasitas kepemimpinan proaktif dan menolak menjadi penonton sejarah, Ahad (12/7/2026).
Pesan pemantik kebanggaan historis tersebut mencuat kuat dalam sesi materi kepemimpinan yang dibawakan oleh public speaker nasional, M. Iqbal Nurpriyanto, S.A.P. Agenda intensif dua hari (11–12 Juli 2026) yang diinisiasi oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PCM Pekajangan ini dipusatkan di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP).
Iqbal, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi AUM MPKSDI PDM Kabupaten Pekalongan, memberikan tamparan motivasi agar kader-kader Pekajangan sadar akan besarnya tanggung jawab ideologis yang mereka pikul di pundak masing-masing.
“Jangan pernah menunggu diberikan panggung oleh struktur. Buatlah panggungmu sendiri melalui kontribusi riil, aktif berpartisipasi dari tingkat ranting, dan asah kapasitas lewat pembelajaran sepanjang hayat. Kita berdiri di atas sejarah Muhammadiyah Pekajangan yang besar; tanpa kompetensi dan ideologi yang kuat, gerakan kita akan kehilangan masa depan,” tegas Co-Founder Pandora Institute tersebut.
Menaikkan Kelas Organisasi Lewat Hukum Kualitas Respons
Di hadapan puluhan peserta dari unsur PRM, PRA, Ortom, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), alumni Speak To Change Jamil Azzaini ini mengenalkan formula psikologi kepemimpinan adaptif dalam mengarahkan dinamika organisasi, yaitu hukum kualitas respons:
“Apapun peristiwa atau masalah yang terjadi di lapangan (K), hasil akhirnya (h) akan selalu ditentukan oleh bagaimana cara kita memberikan respons (r). Change your response, change your class! Jika ingin menaikkan kelas organisasi, ubah dulu cara kita merespons masalah,” papar Iqbal.
Kader Muhammadiyah dituntut untuk selalu membawa energi proaktif (bukan reaktif) dan bergerak di zona kesadaran yang tinggi (power), sehingga mampu melahirkan performa puncak tanpa memicu stres internal organisasi.
Tiga Prinsip Utama Kepemimpinan Masa Depan
Lebih lanjut, M Iqbal Nurpriyanto public speaker nasional tersebut membedah tiga prinsip fundamental yang wajib diinternalisasi oleh setiap kader:
* Good Followership Leads to Great Leadership: Sebelum memimpin, kader harus belajar menjadi pengikut yang baik melalui model The Star Followers—yaitu menjadi pemikir independen yang kritis, namun energinya selalu positif, proaktif, dan dapat diandalkan.
* Leadership Begins and Ends with You: Kepemimpinan bukanlah tentang panggung popularitas pribadi, melainkan dedikasi total terhadap nilai-nilai ideologi demi kemaslahatan umat.
* Problem is Provided for You to Solve and to Grow: Masalah di dalam persyarikatan maupun AUM jangan dipandang sebagai penghambat, melainkan sarana utama untuk naik kelas dan menguji kapasitas diri.
Melalui Sekolah Kader yang berlangsung dinamis di Kampus 2 UMPP ini, MPKSDI PCM Pekajangan optimis dapat melahirkan kembali barisan kader spartan yang siap merawat api kejayaan dakwah Islam Berkemajuan, sekaligus menjawab ekspektasi besar sejarah yang melekat pada nama besar Pekajangan.
Kontributor : Buono



