Spirit Tahajud #22 : Kekuatan Sholat Tahajud
Salah satu shalat sunnah yang sangat populer ialah Tahajud.
Shalat ini hampir tidak pernah ditinggalkan Nabi saw. Bahkan, beliau pernah
mengatakan, sekiranya dia tidak khawatir shalat ini akan diwajibkan, maka dia
menganjurkan semua umatnya mendirikan shalat Tahajud di tengah malam. Di dalam
Alquran, surat al-isra’, ayat 79
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ
نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودا
“Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat Tahajud
(sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Allah Tuhanmu
mengangkatmu ke tempat yang terpuji.’’
Sekiranya orang memahami kedalaman makna ayat ini, niscaya
semua umat Islam tidak akan meninggalkan shalat Tahajud. Keutamaan shalat
Tahajud mencuat karena dilakukan ketika semua orang asyik dengan tidurnya.
Sementara, ada segelintir hamba-Nya tersungkur di atas sajadah di tengah
kesunyian malam. Antara yang menyembah dan yang disembah terjalin interaksi
begitu akrab. Terkadang terasa antara sang pencinta dan Yang dicintai larut
dalam kehangatan cinta. Sesekali air mata haru kerinduan membasahi sajadah.
Sekonyong-konyong kadang terdengar bisikan,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي
عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai pemilik jiwa yang tenang, kembalilah ke pangkuan
Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Bergabunglah dengan para kekasihku yang
lain, masuk ke dalam surga-Ku” (QS al-Fajr/89:27:30).
Ayat ini paling dirindukan oleh para pencinta Tuhan dan para
pengamal shalat Tahajud. Bisa dibayangkan dan sekaligus bisa dirasakan, hati
siapa yang tak akan luluh, jiwa mana yang takkan hanyut mendengar panggilan
mesra dari Sang Pencinta? Para pencinta shalat Tahajud tidak akan pernah mau
meninggalkan shalat ini. Bahkan, mereka mungkin sudah merasakan seperti wajib,
dalam arti meninggalkannya seperti meninggalkan shalat fardhu. Dalam shalat
Tahajud, orang bisa sujud dan rukuk berlama-lama. Tahajud Nabi pernah
dilukiskan Aisyah. Jika Nabi saw. sujud, sama panjangnya membaca surah
al-Baqarah (sekitar tiga juz) dan rukuknya sama lamanya membaca surah Ali Imran
(satu setengah juz). Shalat Tahajud mempertemukan dua sosok yang saling
mencintai di keheningan malam yang sepi. Wajar jika shalat Tahajud melahirkan
power yang luar biasa.
Waktu yang terbaik untuk bermunajat kepada Allah adalah
dikala malam telah larut. Ketika manusia dan makhluk lainnya terlelap dalam
tidurnya. Kehidupan mulainya lenggang. Di saat itu, bangunlah dan hadirkan
hatimu dalam mengingat Allah. Resapilah kelemahanmu, dan hadirkan
kebesaran-Nya. Nikmatilah kedamaian dan ketenangan – ketika engkau
mengingat-Nya. Engkau jadi gembira, karena nikmat dan rahmat-Nya. Tapi, engkau
pun menangis, karena takut akan pengawasan-Nya. Engkau curahkan segala hajat
dan beristighfar keharibaan-Nya, maka jadilah apa yang dikehendaki. Curahkanlah
segala permohonanmu, baik duniawi maupun ukhrawi, hanya kepada-Nya.
Telah banyak ayat dan hadits yang menerangkan keutamaan waktu
malam, dan mengisinya dengan ibadah. Para hamba Allah yang saleh pun selalu
menganjurkan agar kita memanfaatkan waktu itu, untuk berpacu dalam amal saleh.
Para hamba Allah yang saleh, umumnya, tidak lagi merasakan capek akibat bangun
dan salat malam itu. Bahkan mereka justru merasa puas dibuatnya. Kaum salaf
yang saleh, selalu berpendapat bahwa kenikmatan yang menyerupai kenikmatan di
akherat, yakni beribadah yang dilakukan di malam hari. Dalam kitab al-Madkhal,
Ibnul Haaj, merinci tentang manfaat dan faedah beribadah di malam hari, Antara
lain ; dapat menggugurkan dosa sebagaimana angin kencang menggugurkan daun-daun
kering dari dahan pohon, dan juga “dapat menyinari hati dan wajah selalu
terlihat cerah ceria, menghilangkan rasa malas dan menumbuhkan kemauan keras.”
Allah menjadikan malam agar manusia bisa beristirahat,
memohon ampun dan mengingat-Nya dengan lebih baik lagi. Karena malam hari
adalah waktu yang lebih hening dan lebih tepat untuk bertaqarrub kepada Allah
SWT. Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak pernah tidur larut malam. Beliau
bersegera untuk tidur begitu sholat Isya’ telah dilaksanakan. Dalam sebuah
hadis diriwayatkan, “Sesungguhnya rasulullah saw membenci tidur sebelum isya’ dan
membenci obrolan setelah isya’.” (Muttafaqun Alaih).
Mengapa Rasulullah saw mengajarkan umatnya agar segera tidur
setelah sholat Isya’?
Beliau ingin umatnya bangun di tengah malam mendirikan sholat
tahajjud sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Tengah malam adalah momen
terindah dan terdekat manusia dengan Allah SWT berkomunikasi. Dan sholat
tahajjud adalah momentum yang sangat pas untuk kita mendapat ampunan Allah SWT
dan meminta apapun dari Nya. Maka bangunlah untuk mendirikan sholat tahajjud lalu
beristighfar kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Bahkan siapa yang mampu dan
sungguh-sungguh mengisi malam harinya dengan taqarrub kepada Allah niscaya dia
telah mencapai derajat taqwa yang telah Allah janjikan surga baginya. Allah
memberi janji dan keutamaan pada orang-orang yang bangun malam untuk bersujud
dan menangis di hadapan-Nya.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ
وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ
رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang bertaqwa ada di dalam syurga dan dekat dengan air yang
mengalir. Sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya
mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon
ampun kepada Allah.” ( Surah az-Zariat ayat 15-18).
Sungguh sangat luar biasa manfaat malam bagi seorang Muslim.
Waktu yang akan melebur dosa dan mengundang berkah-Nya di pagi hari. Pantas
dahulu para sahabat nabi berusaha membangun budaya intropeksi diri di tengah
malam dengan memperbanyak istighfar. Dalam salah satu atsar Sayyidina Ali ra
menyatakan, “Aku heran dengan orang yang binasa padahal bersamanya ada
penyelamat?” Ali pun ditanya, “Apakah penyelamat itu?” Ali menjawab,
“Beristighfar.” Ketahuilah, lanjut Ali, “Allah tidak memberikan ilham kepada
seorang hamba untuk beristighfar, jika memang, Dia ingin menyiksanya.” Mulai
sekarang mari kita hidupkan malam-malam kita dengan aktivitas yang telah
dicontohkan Nabi kita. Walahu a’lam.



