SPIRIT TAHAJUD (307) 0611๐ป
Mengamalkan Sikap Hidup Waraโ
Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam pernah menyampaikan sebuah nasehat yang sangat berharga pada sahabat Abu Hurairah,
ููุง ุฃูุจูุง ููุฑูููุฑูุฉู ูููู ููุฑูุนูุง ุชููููู ุฃูุนูุจูุฏู ุงููููุงุณู ูููููู ููููุนูุง ุชููููู ุฃูุดูููุฑู ุงููููุงุณู ููุฃูุญูุจูู ููููููุงุณู ู ูุง ุชูุญูุจูู ููููููุณููู ุชููููู ู ูุคูู ูููุง ููุฃูุญูุณููู ุฌูููุงุฑู ู ููู ุฌูุงููุฑููู ุชููููู ู ูุณูููู ูุง ููุฃูููููู ุงูุถููุญููู ููุฅูููู ููุซูุฑูุฉู ุงูุถููุญููู ุชูู ููุชู ุงููููููุจู
โWahai Abu Hurairah, jadilah orang yang waraโ, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qonaโah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.โ (HR. Ibnu Majah no. 4217. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Saudaraku, tahukah kamu apa itu waraโ ? Kata yang sederhana, namun jika sifat ini dimiliki, maka seseorang akan mendapatkan banyak kebaikan. Waraโ adalah salah satu sikap yang harus dipelihara dalam diri setiap umat Muslim. Sikap ini mencerminkan ketaatan dan kepatuhan seorang Muslim terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Mengutip buku Pelajaran tentang Wara oleh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, bahwa secara bahasa, wara dapat didefinisikan sebagai memelihara dan mencegah diri terhadap hal yang tidak layak. Sedangkan menurut istilah, wara adalah meninggalkan segala sesuatu yang membuat ragu, menepis apa pun yang dapat menodai hati, memilih hal yang lebih meyakinkan, dan menggiring nafsu kepada hal-hal yang berat untuk dikerjakan.
Sederhananya, wara adalah menjauhi hal-hal yang syubhat (samar-samar) dalam Islam. Adapun mengenai keutamaan sifat waraโ telah disebutkan oleh Nabi kita shallallahu โalaihi wa sallam dalam sabdanya,
ูุถู ุงูุนูู ุฎูุฑ ู ู ูุถู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูุฎูุฑ ุฏูููู ุงููุฑุน
โKeutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat waraโโ (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 68 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).
Imam Sahl At Tursturiy berkata, โSeseorang tidaklah dapat mencapai hakikat iman hingga ia memiliki empat sifat: (1) menunaikan amalan wajib dengan disempurnakan amalan sunnah, (2) makan makanan halal dengan sifat waraโ, (3) menjauhi larangan secara lahir dan batin, (4) sabar dalam hal-hal tadi hingga maut menjemput.โ
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa, โNabi shallallahu โalaihi wa sallam telah menghimpun makna waraโ dalam satu kalimat yaitu dalam sabda beliau, โDi antara tanda kebaikan Islam seseorang yaitu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.โ Hadits ini dimaksudkan untuk meninggalkan hal yang tidak bermanfaat yaitu mencakup perkataan, pandangan, mendengar, bertindak anarkis, berjalan, berpikir, dan aktivitas lainnya baik lahir maupun batin. Hadits tersebut sudah mencukupi untuk memahami arti waraโ.โ (Madarijus Salikin, 2: 21).
Sahl juga berkata, โSiapa yang makan makanan haram dalam keadaan ingin atau tidak, baik ia tahu atau tidak, maka bermaksiatlah anggota badannya. Namun jika makanan yang ia konsumsi adalah halal, maka patuhlah anggota badannya dan akan diberi taufik melakukan kebaikan.โ (Dinukil dari Sholahul Ummah fii โUluwwil Himmah, 4: 326)
Oleh karenanya ulama membagi derajat wiraโi (menjaga diri dari keharaman) menjadi empat tingkatan.
Pertama, wirainya orang-orang adil, yaitu dengan cara meninggalkan keharaman-keharaman sesuai petunjuk fatwa para pakar fiqh.
Kedua, wirainya orang-orang saleh, yaitu meninggalkan kemurahan-kemurahan dengan memilih hukum-hukum yang berat.
Ketiga, wirainya orang-orang bertakwa, yaitu meninggalkan perkara-perkara mubah yang berpotensi mengantarkan kepada keharaman.
Keempat, wirainya orang-orang yang jujur, yaitu meninggalkan perkara-perkara mubah secara total, meski tidak berpotensi mengantarkan kepada keharaman. Seluruh waktunya bernilai ibadah, tidak satu pun hampa tanpa diisi dengan ibadah.
Lihatlah bagaimana sikap Syaikh Imam Nawawi rahimahullah dalam menyikapi apabila ada keragu-raguan dalam masalah suatu hukum, halal ataukah haram. Beliau berkata, โJika muncul keragu-raguan akan halal dan haramnya sesuatu, sedangkan tidak ada dalil tegas, tidak ada ijmaโ (konsensus ulama); lalu yang punya kemampuan berijtihad, ia berijtihad dengan menggandengkan hukum pada dalil, lalu jadinya ada yang halal, namun ada yang masih tidak jelas hukumnya, maka sikap waraโ adalah meninggalkan yang masih meragukan tersebut. Sikap waraโ seperti ini termasuk dalam sabda Nabi -shallallahu โalaihi wa sallam-, โBarangsiapa yang selamat dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.โ (Syarh Muslim, 11: 28).
Seseorang belum mencapai kesempurnaan takwa kecuali dengan menghindari segala bentuk perkara yang syubhat dan dosa-dosa kecil. Wara’ merupakan perbuatan untuk menghindari segala hal yang tidak pantas, tidak sesuai, dan tidak perlu. Berhati-hati (menghindari) terhadap hal-hal yang diharamkan dan dilarang.
Seorang spiritualis mengatakan bahwa wara’ adalah, ” Tidak pernah lalai dari Allah Swt. meski hanya sekejap.” Setiap menjalankan roda kehidupan seseorang yang beriman tanpa sekejap pun selalu mendekatkan diri dan selalu ingat pada Allah Swt. Umat Islam sudah mengenal wara’ sejak masa awal Islam yang biasa dikenal dengan istilah “Khair al-Qurun” (kurun terbaik).
Sebetulnya seorang pemimpin muslim mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dengan membuat regulasi agar masyarakat merasa nyaman, tidak khawatir pada sesuatu yang syubhat dan jelas membedakan yang halal dan haram. Seorang pemimpin hendaknya memberi petunjuk kepada rakyatnya ke jalan kebenaran, membimbing mereka pada kebaikan dan menerangi alam semesta dengan cahaya Islam. Dengan sikap wara’ seseorang pemimpin maupun rakyat biasa akan selamat dan tidak tergelincir pada kehinaan.๐



