Artikel

Raih Rahmat Kasih Sayang Allah

SPIRIT TAHAJUD (309) 0811🌻Oleh Drs. H. Amat Sulaiman

SPIRIT TAHAJUD (309) 0811🌻

Raih Rahmat Kasih Sayang Allah

Dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia, setiap orang pasti mengharapkan limpahan rahmat kasih sayang dari Allah. Istilah rahmat di sini memiliki makna asal yaitu, karunia, berkah, kemurahan, belas kasihan, kemurahan hati, rasa kasihan, simpati, kelembutan hati, ampunan, lemah lembut, kasih sayang, dan kebaikan.

Rahmat Allah adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Dalam agama Islam, rahmat Allah adalah anugerah-Nya yang melimpah ruah kepada hamba-Nya yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Oleh karena itu, manusia sering mencari cara untuk mendapatkan rahmat Allah, karena dengan rahmat-Nya, segala sesuatu menjadi lebih mudah dan penuh berkah.

Untuk memperoleh rahmat Allah, kaum Muslimin dianjurkan merendahkan diri di hadapan-Nya serta memohon perlindungan kepada-Nya. Dalam Surat Al-Isra ayat 57, Allah Swt berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.”

Rasulullah SAW memberikan gambaran cukup jelas. Apabila seluruh rahmat yang Allah berikan di dunia ini kepada makhluk dikumpulkan, mulai dari Nabi Adam hingga kiamat datang maka itu baru satu persen dari keseluruhan rahmat yang Allah miliki. Sekadar untuk memudahkan manusia menggambarkan nikmat Allah SWT yang tidak terbatas itu, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa Allah Swt menciptakan 100 rahmat. Satu persen diberikan Allah kepada seluruh makhluk yang ada di bumi, yang dahulu, yang kini dan yang akan datang.

Baca Juga  Meneguhkan Dakwah Berkemajuan, Memajukan Kesejahteraan Bangsa

عن أَبَي هُرَيْرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ

“Allah telah menciptakan rahmat yang terbagi atas 100 bagian. Di akhirat ada 99 dan Allah menahannya hingga hari akhir. Sedangkan satu bagian Allah turunkan di dunia. Maka dengan satu bagian di dunia setiap makhluk seluruh alam semesta berkasih sayang saling mencintai. Sehingga seekor kuda pun atas rahmat Allah seketika mengangkat kakinya karena khawatir dirinya menginjak sang anak kuda ketika berada di bawahnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA)

Rahmat Allah SWT adalah bentuk kasih sayang Allah sebagai Sang Pencipta (Khalik) kepada yang Dia cipta (makhluk). Dia begitu luas terbentang bagi seluruh makhluk di dalam dunia. Bahkan, Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang berdusta bahwa rahmat-Nya begitu luas:

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

”Maka, jika mereka mendustakan kamu, katakanlah, ‘Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya tak dapat dielakkan bagi orang-orang yang berbuat dosa.”’ (QS al-An’am [6]: 147).

Sifat luas tersebut terbentang bagi seluruh makhluk, terlebih bagi manusia. Manusia merupakan sebaik-baik makhluk ciptaan Allah, dia memiliki keistimewaan berupa akal sebagai penimbang dalam melangkah kepada yang baik ataukah batil. Rahmat Allah bagi manusia berupa rezeki dan kemaslahatan hidup di dalam dunia, seluruhnya mendapatkan rahmat-Nya, tak terkecuali bagi orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya. Hanya, dari sekian rahmat-Nya, ada yang bersifat terputus dan ada pula yang berkelanjutan.

Baca Juga  Muhammad SAW dan Aisyah: Inspirasi Abadi bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

Muhammad Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafwatut Tafaasir memaparkan dua kata akan sifat rahmat Allah dalam surat al-Fatihah, yakni ar-Rahman dan ar-Rahiim. Ar-Rahman yang berarti zat yang memiliki rahmat yang agung yang bisa saja terputus, sedangkan ar-Rahiim bermakna zat yang memiliki rahmat yang kekal selamanya dan berkelanjutan.
Dan, Khattabi menambahkan, ar-Rahman, yakni zat yang memiliki rahmat yang luas yang terbentang bagi seluruh makhluk dalam hal rezeki dan kemaslahatan hidup mereka dan kata ini mencakup seluruh umat, baik mukmin maupun kafir. Sedangkan, ar-Rahiim hanya spesifik untuk umat mukmin semata.

وَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(QS al-Ahzab [33]: 43).

Sifat rahmat Allah yang lain adalah dekat. Kedekatan di sini memiliki hukum kausalitas, yakni yang mendekati akan didekati. Allah mendekati siapa pun yang mendekati-Nya. Jarak tempuh kita dalam mendekati Allah memengaruhi jarak tempuh Allah mendekati kita. Saat kita mendekati-Nya sejengkal, Allah akan membalas dengan sehasta. Saat sehasta, Allah mendekati kita sedepa dan seterusnya. Mendekati rahmat Allah tergolong mudah, cukup dengan menebar kebaikan bagi orang lain, kita sudah mampu menggapai rahmat-Nya yang bersifat dekat. Kebaikan adalah wujud manifestasi keimanan kita kepada Allah SWT. Keduanya harus berjalan selaras karena apatah arti keimanan yang kuat tanpa kita imbangi dengan kebaikan, begitu juga kebaikan tanpa keimanan, akan bersifat sia-sia. Allah SWT berfirman:

Baca Juga  Nilai Keutamaan Bershadaqah

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

”Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang senantiasa berbuat baik.” (QS al-A’raf [7]: 56).

Setiap perbuatan akan menghasilkan akibat bagi pelakunya. Jika perbuatan itu baik, pelakunya akan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian. Demikian juga Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menyampaikan sabdanya.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء

Para penyayang akan disayangi oleh ar-Rahmaan (Allah). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian. (H.R at-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr)

Hal itu seakan-akan memberikan isyarat bahwa ajaran Islam ini landasan utama dan pertamanya dalam muamalah adalah menebar kasih sayang kepada segenap makhluk. Dasar penyampaian ilmu adalah karena kasih sayang. Di antara bentuk kasih sayang itu adalah mudah memaafkan. Jika kita sayang pada sesama, Allah akan menyayangi kita. Jika kita mudah memaafkan, Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu berkata:

لَا يُرْحَمُ مَنْ لَا يَرْحَمُ وَلَا يُغْفَرُ لِمَنْ لَا يَغْفِرُ

Tidaklah disayangi (oleh Allah) orang yang tidak menyayangi. Tidaklah diampuni (oleh Allah) orang yang tidak mengampuni (kesalahan orang lain). (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod)

Jadi, kita harus kasih sayang terhadap sesama manusia dan makhluk hidup pada umumnya. Yaitu, dengan mencintainya dan berdoa bagi mereka agar mendapatkan rahmat Allah serta magfirah-Nya. Dengan begitu, niscaya Malaikat yang ada di langit, yang jumlahnya melebihi penduduk bumi akan mengasihi kita.🙏

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button