Berita Cabang - Ranting

Dr. Usamah: “Perencanaan Keuangan Adalah Ibadah Menyambut Ramadhan”

muhammadiyahpekalongan.or.id , Pekalongan – Masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi untuk menata ulang arah hidup, termasuk dalam mengelola ekonomi keluarga. Hal inilah yang menjadi semangat dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiradesa di Masjid Al Muhajirin, Mayangan, Wiradesa, Ahad (11/1/2026).

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 05.15 hingga 06.15 WIB ini menghadirkan Dr. Usamah bin Said, S.E., M.Si., Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pekalongan, dengan tema “Persiapan Ramadhan dalam Aspek Ekonomi Keluarga.”

Dalam ceramahnya, Dr. Usamah menekankan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah spiritual, tetapi juga momentum penting untuk menata aspek sosial dan ekonomi keluarga.

“Islam memandang aktivitas ekonomi sebagai bagian dari ibadah, selama dijalankan secara halal dan proporsional,” ujarnya di hadapan jamaah yang hadir dari berbagai kalangan.

Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7]: 31 sebagai pengingat pentingnya pengendalian konsumsi:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Baca Juga  Setiap Malam adalah Waktu Berdoa dan Istigfar, Termasuk Malam Nisfu Sya‘ban

Dr. Usamah mengungkapkan bahwa secara empiris, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat tajam menjelang dan selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Sektor ritel modern seperti supermarket, serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menjadi pihak yang paling merasakan lonjakan pemasukan.

“Ramadhan punya potensi ekonomi yang besar. Tapi jika tidak dikelola dengan kesadaran moral, bisa berubah menjadi budaya konsumtif yang menjauh dari nilai keberkahan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan prinsip fikih muamalah:
“Al-iqtishâd fî an-nafaqah nishfu al-ma’îsyah”
(Bersikap sederhana dalam pengeluaran adalah separuh dari kecukupan hidup).

Menurutnya, kesejahteraan keluarga tidak ditentukan semata oleh besar kecilnya penghasilan, tetapi oleh kebijaksanaan dalam membelanjakan.

Lebih lanjut, Dr. Usamah mengajak keluarga Muslim untuk menyusun perencanaan keuangan sejak awal menjelang Ramadhan.

“Tanpa perencanaan, semangat menyambut Ramadhan bisa melahirkan israf—pemborosan yang bertentangan dengan nilai puasa,” jelasnya.

Baca Juga  Kajian Menjelang Buka Puasa Ranting Muhammadiyah Karangjati Perkuat Pemahaman Ibadah  

Ia mencontohkan kebiasaan menyiapkan makanan berlebihan saat berbuka yang akhirnya terbuang sia-sia. Padahal, Al-Qur’an secara tegas menyebut pemboros sebagai “saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra’ [17]: 27).

“Keberkahan ekonomi bukan diukur dari banyaknya konsumsi, tetapi dari ketepatan pengelolaan, kesederhanaan, dan kebermanfaatannya bagi keluarga serta lingkungan sosial,” tambahnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button