Berita Cabang - Ranting

Santri MBS Pekajangan Ingatkan Pentingnya Syukur dan Rahasia Menjadi Pemenang Ujian Hidup

muhammadiyahpekalongan.or.id PEKALONGAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Hj. Mutimah Dahlan, Doro, Kabupaten Pekalongan, saat seorang santri dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pekajangan menyampaikan kajian kuliah tujuh menit (kultum) di sela rangkaian salat Isya dan Tarawih berjamaah.
​Adalah Seguh Eso Palupi Setyoko santri pengabdian asal Kecamatan Bojong, yang berkesempatan memberikan tausiyah di hadapan para jemaah.

Dalam penyampaiannya, ia menekankan satu nikmat yang sering dilupakan manusia, namun sangat didambakan oleh penduduk alam kubur: Nikmat Hidup.
​Belajar dari Penyesalan Fir’aun

​Dalam mukadimahnya, Saku mengajak jemaah untuk merenungi betapa berharganya helaan napas saat ini. Ia memberikan perumpamaan ekstrem melalui sosok Fir’aun.
​”Saat ini kita merasakan nikmat yang sangat didambakan oleh orang yang pernah berkuasa dan memiliki kekayaan besar di dunia, yakni Fir’aun. Ia saat ini berharap bisa hidup kembali hanya untuk meminta ampunan kepada Allah. Maka, nikmat hidup adalah nikmat terbesar karena darinya kita bisa merasakan nikmat iman dan Islam,” ujarnya.

Baca Juga  Pererat Ukhuwah, Majelis Dikdasmen & PNF PCM Pekajangan Satukan Sinergi Menuju Sekolah Unggul Berkarakter

​Sabar sebagai Kunci Kemenangan
​Mengutip Al-Baqarah ayat 155, Saku menjelaskan bahwa setiap manusia pasti akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta dan jiwa. Namun, ayat tersebut ditutup dengan kalimat wabasysyiris shobirin (berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar).
​Lantas, bagaimana kriteria orang sabar yang akan mendapatkan “kabar gembira” atau kemudahan dari Allah tersebut? Merujuk pada Surah Al-Layl ayat 5-7, ia membedah tiga ciri utama:

​Suka Memberi (Al-A’tha): Menjadi pribadi yang dermawan, baik berupa materi, pertolongan, maupun sekadar senyuman ikhlas. Ia mengutip pesan Rasulullah SAW agar memperbanyak kuah masakan untuk dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk kepedulian sosial.

​Bertakwa (At-Taqa): Merasa selalu diawasi oleh Allah SWT di mana pun berada. Ia mengibaratkan takwa seperti murid yang tetap disiplin mengerjakan tugas meski guru tidak ada di dalam kelas.

Baca Juga  Muhammadiyah Kajen Sambut Baik Sinergi Dakwah Bersama RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan 

​Percaya Janji Allah (Al-Husna): Memiliki keyakinan penuh bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan surga dan pahala. Tanpa kepercayaan pada balasan akhirat, segala amal akan terasa sia-sia.

​Janji Kemudahan
​Sebagai penutup, santri MBS Pekajangan ini menegaskan bahwa jika ketiga kriteria tersebut dijalankan, maka Allah menjanjikan Fasayuyassiruhu lil yusra—Allah akan memudahkan jalan baginya menuju kebahagiaan.

​Kajian singkat ini diakhiri dengan ajakan kepada jemaah untuk terus konsisten memperbaiki kualitas ibadah di bulan suci, agar keluar sebagai pemenang yang mendapatkan pintu kemudahan dari Allah SWT.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button