Ketika Gagasan Berhenti di Narasi : Refleksi Pasca Darul Arqam Madya Nasional (DAMNAS) PC IMM Kota Tangerang 2026
Oleh: Ivan Septian

muhammadiyahpekalongan.or.id | Darul Arqam Madya Nasional (DAMNAS) 2026 menghadirkan banyak ruang refleksi bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Berbagai materi yang disampaikan tidak hanya membahas ideologi, kepemimpinan, dan khittah perjuangan, tetapi juga mengingatkan kembali tentang hakikat IMM sebagai organisasi kader sekaligus gerakan perubahan.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, kader IMM dituntut tidak hanya mampu memahami realitas, tetapi juga hadir untuk mengubahnya. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya setelah mengikuti DAMNAS ini: apakah gerakan IMM hari ini benar-benar telah memberikan dampak yang nyata, atau justru masih terjebak dalam lingkaran narasi diskusi dan produksi wacana semata?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat realitas gerakan di berbagai tingkatan organisasi, termasuk di lingkungan yang dekat dengan saya, yakni IMM Pekalongan. Kader-kader mulai berani menulis di berbagai media, baik media internal maupun media umum. Berbagai isu keislaman, kebangsaan, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan dibahas secara rutin dalam ruang-ruang intelektual.
Namun di balik perkembangan tersebut, terdapat satu persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama. Banyak gagasan berhenti sebagai bahan tulisan. Banyak tulisan berhenti sebagai publikasi. Banyak kritik berhenti sebagai narasi. Sementara dampak nyata dari gagasan tersebut sering kali sulit ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
Padahal sejarah IMM menunjukkan hal yang berbeda. IMM tidak lahir untuk menjadi kelompok yang hanya pandai berbicara. IMM didirikan untuk melahirkan kader intelektual yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Tradisi intelektual yang dibangun oleh IMM sejak awal selalu diarahkan untuk melahirkan aksi sosial yang berdampak.
Di sinilah saya melihat adanya tantangan besar bagi IMM Pekalongan. Persoalan utama bukanlah kurangnya diskusi. Persoalan utama bukan pula minimnya tulisan kader. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menghubungkan antara gagasan dan tindakan. Sering kali sebuah forum berakhir tanpa tindak lanjut. Sebuah tulisan dipublikasikan tanpa ada upaya mengembangkan gagasan tersebut menjadi gerakan kolektif. Akibatnya, energi intelektual yang dimiliki kader hanya berputar di lingkungan internal organisasi tanpa mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab ukuran keberhasilan gerakan tidak dapat dilihat dari seberapa banyak forum yang diselenggarakan atau seberapa banyak artikel yang diterbitkan. Keberhasilan gerakan justru terletak pada kemampuan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Tulisan tetap penting dan diskusi tetap diperlukan. Keduanya merupakan fondasi gerakan intelektual. Namun keduanya tidak boleh menjadi tujuan akhir. Diskusi harus melahirkan agenda perubahan. Tulisan harus melahirkan kesadaran kolektif. Dan gagasan harus menemukan bentuk nyatanya dalam kehidupan masyarakat.

Pasca DAMNAS 2026, mungkin sudah saatnya IMM, khususnya di Pekalongan, mulai bertanya bukan hanya tentang apa yang sudah didiskusikan dan dituliskan, tetapi juga tentang apa yang sudah berhasil diubah. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat berapa banyak forum yang pernah kita selenggarakan. Sejarah akan mencatat sejauh mana gagasan yang kita perjuangkan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

