Polres Pekalongan Launching Program Peduli CTEV, Muhammadiyah Pekalongan Kerahkan Potensi Amal Usaha
muhammadiyahpekalongan.or.id I KAJEN – Perkuat pelayanan medis dan pendampingan sosial, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan sambut baik ajakan sinergi Polres Pekalongan bersama lintas ormas dan dinas terkait. Peluncuran Program Polda Jateng Peduli Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki bermasalah tersebut diselenggarakan di Aula Setia Polres Pekalongan, Kajen, Selasa (18/8/2026).
PDM Kabupaten Pekalongan siap mengoptimalkan seluruh potensi jaringan organ dan amal usaha yang dimiliki untuk mendukung program penanganan anak penderita CTEV atau kaki pengkor ini.
Kegiatan peluncuran tersebut menggandeng lintas instansi dan organisasi, antara lain Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPJS Kesehatan, IDI, IBI, Baznas, Muhammadiyah, NU, ‘Aisyiyah, dan Muslimat NU Kabupaten Pekalongan.

Jaringan Organisasi Sebagai Mata, Tangan, dan Hati
Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Mulyono (Pak Mul), menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolres Pekalongan atas kepercayaan dan ruang sinergi yang dibuka bagi Muhammadiyah dalam agenda kemanusiaan ini.
“Muhammadiyah memiliki jaringan yang sangat luas, mulai dari rumah sakit, klinik, lembaga pendidikan, organisasi perempuan, pemuda, ranting, hingga Lazismu. Jaringan ini siap menjadi mata, tangan, dan hati di lapangan,” tegas Pak Mul dalam sambutannya.
Pak Mul menjelaskan fungsi analogi tersebut: Mata untuk mendeteksi anak-anak yang membutuhkan pertolongan, Tangan untuk membantu mereka mengakses pelayanan medis yang semestinya, serta Hati untuk memastikan anak dan keluarga tidak merasa sendirian menghadapi kondisi tersebut.
Penyelamatan Masa Depan Generasi
Lebih lanjut, Pak Mul menekankan bahwa penanganan kaki pengkor bukan sekadar tindakan medis biasa, melainkan langkah krusial untuk menyelamatkan masa depan anak-anak. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk tumbuh, belajar, dan menggapai cita-citanya.
“Anak yang terlahir dengan kondisi kurang sempurna tidak boleh kehilangan kesempatan untuk meraih masa depan. Negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan seorang anak berjalan sendirian menghadapi keterbatasannya,” imbuh Pak Mul.
Menanggapi adanya nota kesepahaman (MoU) di tingkat pimpinan pusat dan wilayah Jawa Tengah antara Muhammadiyah dan Polri, Pak Mul berharap kolaborasi di Kabupaten Pekalongan dapat mengejawantahkan kerja sama tersebut secara konkret di lapangan sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
kontributor : Nanang I Editor : Imam Setiobudi



