Spirit Tahajud #201 : Berlaku Sabar Menjalani Hidup
Di antara sifat yang paling mulia
dan utama bagi seorang mukmin setelah syukur
adalah sabar. Keutamaan sifat ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, hadits,
dan penjelasan para ulama. Menurut Al-Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh
puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar,
dan ganjaran yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran.
Saking mulianya tabiat ini, tak
heran bila kesabaran selalu diidentikkan dengan keimanan. Seperti yang
dikatakan Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, “Ketahuilah bahwa kaitan antara
kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia
sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian
pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan
hilang.”
Secara bahasa sabar berarti al-habsu
( menahan ) dan al-man’u ( mencegah ), yaitu lawan kata dari al-jaz’u ( keluh
kesah ). Dikatakan: shabara shabran ( maksudnya : tegar dan tidak berkeluh
kesah. Shabara berarti: menunggu, shabara nafsahu berarti: menahan diri dan
mengekangnya, shabartu shabran : aku menahan diriku dari berkeluh kesah.
Ada pula yang mendifinisikan sabar
adalah menyatukan antara pikiran dan badan kita di dalam tempat yang sama.
Misalnya; Sehabis lelah bekerja dalam perjalanan pulang kita terjebak macet,
orang yang sabar berarti pikiran dan badannya tetap berada ditempat dimana ia
terjebak macet. Kalau pikirannya melayang dan berpikir “wah kalau saja tadi
tidak lewat jalan ini saya tidak akan kena macet”, maka ini namanya mengeluh
bukan sabar lagi.
Orang yang sabar merupakan orang
yang bertumpu pada proses dan menikmati semua proses tersebut, sehingga sabar
juga merupakan ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional. Orang yang
sabar itu mampu mengendalikan dirinya dan menahan respons yang bersifat jangka
pendek untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang. Sedangkan keluhan merupakan
kesulitan di dalam menerima sesuatu yang terjadi, penolakan terhadap sesuatu
yang ada pada diri kita. Ketika ada kemacetan seperti pada contoh diatas, kita
merasa badan dan pikiran tidak berada dalam satu tempat sehingga timbul rasa
mengeluh, akhirnya kita pun tidak menikmati “proses” tersebut.
Definisi selanjutnya, Sabar adalah
menahan diri dari sesuatu yang tidak disenangi tepat ketika sesuatu itu terjadi
pertama kali. Misalnya ; Saat kita kejedot pintu, secara refleks kita
mengucapkan “Innalillah” atau diam saja. Namun kalau pertama kali itu terjadi
dan kita mengumpat, atau ngedumel maka ini bukan sabar namanya, meski setelah
dipikir-pikir akhirnya dapat menerima, tetap saja bukan sabar namanya melainkan
ridho/rela. Harus diingat Sabar itu penerimaan kita saat pertama kali musibah
itu datang. Jadi, jelaslah bahwa makna sabar adalah mencegah dan menahan diri
dari berkeluh kesah saat pertama kali hal yang tidak kita senangi datang,
menahan lisan dari mengeluh, dan anggota badan dari mengamuk, seperti menampar
pipi, merobek saku baju , membanting pintu dan semisalnya.
Hakikat sabar adalah akhlak utama
yang merupakan bagian dari akhlak jiwa yang mampu menahan pemiliknya dari
perbuatan yang tidak baik dan tidak senonoh. Sabar merupakan kekuatan jiwa yang
dengannya jiwa menjadi baik dan tingkah laku menjadi lurus. Dan kekuatan ini
menjadikan manusia mampu menahan jiwanya untuk memikul berbagai bentuk
kelelahan, kesulitan dan penderitaan.
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan
Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai
cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa
meraih itu semua adalah iman dan amal shalih. Di samping itu, ada sebab-sebab
lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran.
Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak
berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala,
وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Artinya: “Jadikanlah sabar dan
sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada
Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu
pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah
ta’ala berfirman kepada penduduk surga, Allah juga berfirman,
اُوْلٰٓٮِٕكَ
يُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُوۡا وَيُلَقَّوۡنَ فِيۡهَا تَحِيَّةً
وَّسَلٰمًا
Mereka itu akan diberi balasan
dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana
mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan
sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu
kepemimpinan dalam hal agama. Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah
radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus
merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang
panas.
Ketahuilah sesungguhnya cobaan yang
menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa
dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan
makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh sahabat
Nabi saw. dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam. Mereka disakiti,
diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang
dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai
meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan
pilar keimanan mereka. Ingatlah firman Allah swt
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin,
Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak
semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk
kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun
sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang
diharamkan. Al-Ghazali mengatakan sebagai berikut.
واعلم أن الصبر
أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى
المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر
عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة
ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم
“
Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar
wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu
yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh
merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat
membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti.
Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya
berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain
sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya.
Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu
sabar yang diharamkan.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa
dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak
dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat
orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang
tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula
ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk
sabar yang diharamkan berdasarkan penjelasan Al-Ghazali. Wallahu a’lam bis
showab



