Artikel

Jejak Dakwah: Sejarah Berdirinya PRM Bligorejo Doro, Pekalongan

muhammadiyahpekalongan.or.id – Desa Bligorejo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, menyimpan kisah perjalanan dakwah Muhammadiyah yang penuh dinamika. Sejarah berdirinya Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bligorejo menjadi bukti bahwa semangat dakwah mampu tumbuh meski di tengah keterbatasan.

Cikal Bakal dan Perintisan (1996)

Semangat dakwah Muhammadiyah di Bligorejo mulai bersemi sekitar tahun 1996. Saat itu, jumlah warga Muhammadiyah masih minoritas, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah para tokoh perintis yang mayoritas berprofesi sebagai guru SD Negeri.

Struktur kepemimpinan awal terdiri dari Karlani (Ketua, mantan Kepala Desa Bligorejo), Mujinarso (Sekretaris), dan Mujiono (Bendahara). Karena jumlah anggota terbatas dan belum memiliki Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sendiri, PRM Bligorejo masih bersinergi dengan PRM Kutosari—ranting terbesar kedua di Kecamatan Doro setelah PRM Wonosari. Salah satu kegiatan rutin yang diikuti adalah Pengajian Keluarga Sakinah.

Masa Vakum dan Kebangkitan Kembali (2000)

Perjalanan organisasi sempat mengalami masa vakum akibat kesibukan pengurus dan belum adanya wadah fisik untuk berkegiatan. Titik balik terjadi sekitar tahun 2000 dengan hadirnya tokoh pendatang dari Wonosari, H. Rahmawan, beserta keluarga.

Baca Juga  PIDATO MILAD MUHAMMADIYAH KE 113 Pimpinan Daerah Kabupaten Pekalongan Tahun 2025 M / 1447 H

Melalui koordinasi intensif dengan Ketua PCM Doro saat itu, H. Syafruddin (tokoh PRM Wonosari), semangat untuk menghidupkan kembali PRM Bligorejo akhirnya terwujud.

Formasi Kepemimpinan Baru dan Konsolidasi

Kebangkitan ini ditandai dengan terbentuknya kepengurusan baru yang lebih solid dan inklusif, menggabungkan potensi lokal dan pendatang:

  • Ketua: H. Rahmawan (pendatang dari Wonosari)
  • Sekretaris: Nur Hasyim (pendatang dari Batang, beristrikan warga asli Bligorejo)
  • Bendahara: Cipto Suroso (pendatang dari Mesoyi, Talun)

Ketiga tokoh ini bersatu padu menggerakkan roda organisasi hingga PRM Bligorejo tetap eksis dan konsisten berdakwah sampai saat ini.

Kegiatan dan Harapan Masa Depan

Kini PRM Bligorejo aktif menjalankan berbagai program rutin yang mempererat ukhuwah antarwarga, di antaranya Pengajian Keliling dari rumah ke rumah serta pelaksanaan ibadah qurban setiap tahun.

Meski demikian, PRM Bligorejo masih memiliki mimpi besar. Sebagaimana dituturkan oleh H. Rahmawan, harapan seluruh kader adalah memiliki AUM sendiri berupa mushola.

Baca Juga  Opini : Dalam Duka Guru-Guru PAUD, Kita Belajar Arti Pengabdian yang Tak Pernah Mati

“Keberadaan mushola akan menjadi pusat dakwah, pengajian, sekaligus identitas fisik Muhammadiyah di Desa Bligorejo. Inilah cita-cita besar kami yang terus diperjuangkan,” ungkapnya.

Dengan semangat kebersamaan dan konsistensi dakwah, PRM Bligorejo optimistis dapat mewujudkan cita-cita tersebut, sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah di tingkat ranting sebagai garda terdepan dakwah Islam berkemajuan.

Sumber: Wawancara H. Rahmawan
Penulis: Sanyoto (MPINEWSDORO)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button