Sempurnakan Hablumminannas, Prof. Abdul Mu’ti Sebut ‘Mohon Maaf Lahir Batin’ sebagai Kekuatan Sosial Indonesia
muhammadiyahpekalongan.or.id | KAJEN – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. KH. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa tradisi Halalbihalal dan ungkapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” adalah modal sosial bangsa Indonesia yang luar biasa. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Silaturahmi dan Tabligh Akbar PDM Kabupaten Pekalongan di Masjid Raya Al-Khuzaemah Kajen, Jumat (3/4/2026).
Menurut Prof. Mu’ti, meski ibadah Ramadan berfokus pada pembersihan spiritual secara vertikal (hablumminallah), dosa kepada sesama manusia (hablumminannas) hanya dapat gugur melalui permintaan maaf yang tulus.
“Tradisi kita ini unik. Ungkapan ‘Mohon Maaf Lahir dan Batin’ serta ‘Minal Aidin wal Faizin’ yang diserap dari syair penyair Andalusia, Safiuddin al-Huli, menunjukkan betapa Indonesia mampu mengintegrasikan kejayaan peradaban Islam masa lalu ke dalam praktik sosial modern,” ujar Prof. Mu’ti di hadapan ribuan warga Muhammadiyah.
Tiga Ciri Orang Bertakwa
Mengutip Surah Ali ‘Imran ayat 133-134, Prof. Mu’ti menjabarkan tiga ciri orang bertakwa yang harus dijaga pasca-Ramadan:
Gemar Berinfak: Tetap berbagi dalam kondisi lapang maupun sempit.
Menahan Marah: Memiliki pengendalian diri. “Oleh nesu, tapi ojo nesunan” (Boleh marah karena manusiawi, tapi jangan menjadi pemarah).
Memaafkan Sesama: Menyempurnakan perjalanan spiritual dengan keikhlasan hati.

Etika Digital dan Solidaritas Global
Selain pesan moral, Mendikdasmen juga memberikan perhatian pada etika digital dan isu global. Beliau berpesan agar media sosial tidak dijadikan alat untuk saling mencari kelemahan. “Jangan biarkan media sosial merusak hubungan sosial. Sebar rahmat dan saling memuliakan di mana pun berada,” tegasnya.
Terkait isu internasional, beliau menyampaikan sikap tegas pemerintah Indonesia dalam menuntut pertanggungjawaban atas insiden gugurnya prajurit TNI di Lebanon. Hal ini menjadi pengingat bagi warga Muhammadiyah untuk terus menanamkan kepedulian tidak hanya di skala nasional, tetapi juga solidaritas kemanusiaan global.
Melalui tausiyah ini, Prof. Mu’ti mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menjadikan kemenangan spiritual pasca-Ramadan sebagai energi untuk membangun peradaban bangsa yang lebih berintegritas dan saling memuliakan



