
Pengertian syaithān terambil dari akar kata sya-tha-na yang berarti ta-bā-’a-da (jauh). Rangkaian derivasi kata yang berasal dari akar kata ini memiliki kesatuan makna, yakni: segala bentuk kecenderungan yang menjauh dari kebenaran. Ada yang berpendapat bahwa kata ini terambil dari bahasa Suryani yang memiliki makna serupa dengan sya-tha-na (bahasa Arab). Kata ini digunakan untuk merepresentasikan sebuah konsep ketergelinciran dari kebenaran, keluar dari jalan keta’atan atau jauh dari sebuah rahmat dan kasih saying Ilahi. Selanjutnya, makna kata ini diterapkan kepada manusia, jin atau hewan. Kata ini biasanya dilekatkan kepada jin. Tak jarang, kata ini diungkapkan dan disematkan kepada manusia atau hewan- dengan sebuah indikator tertentu.
Menurut ajaran Islam, kata setan pada dasarnya memiliki arti sebagai kata sifat, yang bisa digunakan kepada makhluk dari golongan jin, manusia, dan hewan. Kemudian Ibnu Katsir menyatakan pula, bahwa setan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan. Allah berfirman : …dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An’am: 112)
Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin, dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan.
Setan adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Swt. yang memiliki tugas khusus untuk menggoda manusia. Setan pun ditakdirkan masuk ke dalam neraka karena sifat dan sikap ingkarnya dari rahmat Allah Swt. Setan juga sebenar-benarnya musuh yang nyata bagi manusia. Setan selalu gigih menggoda manusia dari berbagai arah agar manusia tergelincir ke dalam kesesatan hingga terjerumus masuk ke dalam neraka. Allah berfirman :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu. Maka, perlakukanlah ia sebagai musuh! Sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni (neraka) Sa’ir (yang menyala-nyala).” (Q.S. Fathir : 6).
Setan memiliki berbagai tipu daya untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam keburukan serta kemaksiatan. Di akhirat para penghuni neraka ini akan menyalahkan setan yang telah menyesatkannya. Akan tetapi setan membantah tuduhan tersebut. Setan mengatakan bahwa selama di dunia, mereka hanya membisikkan semata. Dan mereka para manusia penghuni neraka ini yang mengikuti bujukan setan, sebab setan tidak punya kuasa sama sekali untuk mengendalikan perbuatan manusia selama hidup di dunia.
Setan berkata kepada para manusia penghuni neraka untuk tidak mencelanya, melainkan mencela diri mereka sendiri karena mau saja mengikuti bujukannya. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Kisah pertengkaran ini dikisahkan dalam surat Ibrahim ayat 22 yang artinya,
*“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.”* (QS. Ibrahim: 22)
Menurut Imam Al-Gozali untuk menjaga dan menyelamatkan diri dari langkah tipu daya setan, orang mukmin harus menutup semua jalan masuk atau aksesnya, sehingga setan tak dapat mendekat dan menguasai kita. Imam Ghazali njuga menegaskan, tak mungkin seseorang bisa menutup akses itu bila tidak mengetahui jalan masuk atau pintu-pintunya. Ini berarti, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengenali pintu-pintunya, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh tidak bisa mendekat karena kehilangan akses. Di antara pintu-pintu yang harus dikenali itu, menurut Imam Ghazali, adalah pintu amarah dan syahwat, pintu dengki dan iri hati, pintu makan minum secara berlebihan, pintu cinta dunia, pintu tergesa-gesa, dan pintu buruk sangka kepada sesama umat Islam.
Imam Ghazali juga menggambarkan setan seperti anjing kelaparan yang selalu mendekat. Kalau hati kita kotor, dalam arti banyak ”santapan setan” di dalamnya, maka ia akan terus menyerang. Ia tidak akan lari hanya dengan gertakan atau dengan membaca ta’awwuz atau hawqalah. Tapi, kalau hati kita bersih, maka dengan hanya menyebut asma Allah, ia sudah lari terbirit-birit. Jadi, tipu daya setan sesungguhnya tidak berpengaruh bagi orang takwa yang jiwa dan hatinya bersih. Firman Allah, ”Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuatannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (Qs an-Nahl: 99).
Dari uraian tersebut di atas, maka sebagai peringatan dan pedoman bagi umat Islam agar tidak mudah mengikuti bujukan setan dengan cara menjaga makanan yang baik dan halal untuk membentengi diri kita dari mengikuti langkah-langkah setan. Allah berfirman : ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah: 168).
Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga dan melindungi kita dari segala tipu daya dan godaan setan Aamiin Ya Robbal ‘Alamain



