🌻
Sujud merupakan ibadah istimewa. Sujud merupakan bentuk ketaatan paling nyata kepada Allah. Sujud ini pula (meski bentuknya berbeda) yang membedakan hamba yang taat seperti malaikat dan hamba yang durhaka seperti iblis. Inilah keistimewaan sujud. Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits riwayat HR Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu,’” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i).
✍️ Allah membuka momentum kedekatan dengan hamba-Nya terutama pada saat mereka melakukan sujud. Allah memberikan rahmat-Nya paling dekat saat di mana hamba-Nya tengah bersujud. Kedekatan Allah ini dapat dirasakan oleh hamba-Nya sebagaimana penjelasan Imam Al-Ghazali berikut ini:
فالساجد إذا أذيق طعم السجود يقرب لأنه يسجد ويطوي بسجوده بساط الكون ما كان وما يكون ويسجد على طرف رداء العظمة فيقرب
Artinya, “Orang yang bersujud ketika dicicipkan kepadanya rasa manisnya sujud akan merasa dekat dengan Allah. Dengan sujudnya, ia melipat hamparan jarak alam raya. Dengan demikian ia bersujud di atas hamparan salah satu sudut keagungan Allah sehingga ia menjadi dekat,” (Imam Al-Ghazali, Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatus Salikin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], halaman 87).
Imam Al-Ghazali juga memaknai sujud sebagai ibadah istimewa yang menghapus “jarak” Allah dan hamba-Nya. Beliau menganalogikan sujud dengan lorong waktu dan tempat yang “mendekatkan” Allah (yang maha suci dari tempat dan waktu) dan hamba-Nya.
Keistimewaan sujud ini yang juga membuat ibadah shalat menjadi istimewa. Dengan keistimewaan ini, tidak heran kalau Rasulullah SAW menjadikan ibadah shalat sebagai puncak kesenangan dan kebahagiannya sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan shalat sebagai kesenangannya karena shalat menjadi penyambung dirinya dan Allah SWT, momentum munajat, dan jalan pengangkatan derajat.
Pada saat kiamat, bumi ini mengabarkan tentang penghuninya. Allah swt. berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
”Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan, segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (lauh mahfudz).” (QS Yasin [36]: 12).
Mungkin kita jarang menghitung berapa kali kita mencium tanah (bumi) sehari semalam? Sholat wajib yang kita dirikan ada 17 rakaat, sama dengan sembilan tahiyat, 34 kali sujud. Berarti sehari kita mencium bumi minimal 34 kali. Belum ditambah sholat sunat qabliyah, badiyah, dhuha, tahajjud, sholat hajat, dan seterusnya. Bumi akan menjadi saksi dan kelak di hari Akhir, dia akan mengungkapkan kesaksiannya.
Saat seorang shalat sungguh dia sedang berbicara dan Allah Ta’ala pendengarnya. Dan pada saat yang bersamaan, Allah Ta’ala adalah pembicara dan hamba sedang mendengarkannya. Dengan harmonisasi dialogis akan terjadi kehidupan yang penuh kedamaian, ketenteraman dan keindahan. Itulah sebabnya kata akhir dalam shalat adalah ungkapan salam, yakni kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan. Pendek kata, hakikat makna sujud adalah komitmen hamba kepada Tuhannya yang melahirkan kedamaian.
Orang yang cinta dunia tidak akan suka pada hal ini. Orang yang pandangan hidupnya materialistis tidak akan suka mengerjakan hal yang sungguh ”berat” bagi mereka ini. Hanya yang yakin dengan adanya hari pembalasan yang mau melakukan ini, mau melangkah di waktu Shubuh, menembus udara dingin dan menahan kantuk untuk menyambut seruan adzan Subuh: berjamaah memuji-Nya.
Tak ada waktu yang paling istimewa yang diberikan Allah selama 24 jam selain waktu fajar. Karena, saat itulah para malaikat turun ke dunia untuk menyaksikan ketaatan seorang hamba yang melaksanakan ibadah atau hamba yang masih terlena dalam buaian mimpi indah. Keimanan seorang hamba bisa diukur dari ibadah pada waktu sepertiga malam terakhir. Ia mengerjakan qiyamullail tahajud, tadabur Alquran, dan Shalat Subuh berjamaah di masjid. Orang yang sudah terbiasa dengan rutinitas ibadah seperti itu berhak mendapatkan hidayah fajar dari Allah SWT.
✍️ Inilah yang disebut dalam Alquran: mereka laki-laki yang menyukai kesucian, melangkah ke tempat yang suci, berjalan atau berkendaraan menuju tempat yang suci, berbondong-bondong menuju tempat yang suci, dan Allah menyucikan mereka. Selain Allah dan para malaikatnya, ada penyaksi aktivitas fajar kita, yaitu bumi yang kita injak. Bila kita mengimani kitab-Nya, maka disebutkan di dalamnya betapa bumi yang kita injak ini berbicara. Allah SWT berfirman:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, kerena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya. (QS Az-Zalzalah [99]: 4-5).
👉 Selain sujud yang dilakukan ketika sholat wajib maupun sunnah, juga terdapat macam-macam sujud lain yang perlu kita ketahui dan kita amalkan. Karena kondisi itulah, maka dianjurkan untuk berdoa ketika sedang melakukan sujud. Terdapat beberapa anggota badan yang harus menempel di tanah sewaktu kita sujud. Anggota badan tersebut ialah kening dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. Hal ini seperti yang telah diriwayatkan dalam hadits berikut, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan: kening (lalu beliau menunjuk juga pada hidungnya), kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.” (HR. Bukhari, Muslim)
✍️ Oleh karena itu, perbanyak sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di antara sujud yang sangat dianjurkan adalah sebagai berikut :
Pertama adalah sujud Sahwi. Sujud Sahwi berasal dari bahasa Arab, Sahwun yang berarti lalai atau lupa. Secara istilah syahwi ialah ada sesuatu, baik gerakan atau bacaan dalam shalat yang terlupakan. Sujud Sahwi ini dilakukan ketika seseorang sedang melakukan ibadah shalat dan merasa ragu atau lupa atas gerakan atau jumlah rakaat shalat yang sedang dilaksanakannya. Dalam keadaan seperti ini, seseorang diberi kesempatan untuk melakukan sujud sahwi. Hukum sujud syahwi adalah sunnah, namun, akan lebih baik untuk dikerjakan.
Kedua adalah sujud Tilawah. Sujud Tilawah merupakan gerakan sujud yang dilakukan ketika kita mendengar atau membaca salah satu penggalan ayat Sajdah dari Al-Quran, baik ketika sedang shalat atau pun di luar shalat. Hukum melakukan sujud tilawah adalah sunnah. Anjuran untuk melakukan sujud tilawah sesuai dengan hadits berikut, “Dari Ibnu Umar r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW, suatu saat beliau pernah membaca al-Quran di depan kami, maka ketika beliau sampai pada ayat sajdah, beliau takbir dan bersujud, dan kamipun ikut bersujud bersama beliau.” (HR. Abu Dawud, Imam Bukhari).
Sedangkan bacaan untuk sujud tilawah bisa dengan membaca : “Sajada Wajhiya Lilladzii Khalaqahuu Wa Shawwarahuu Wa Syaqqa Samahu Wa Basharahuu Tabaarakallaahu Ahsanul Khaliqiin”
Artinya: Aku bersujud kepada Dzat (Allah swt.) yang telah menciptakanku dan membentukku dan yang telah membukakan pendengaranku dan penglihatanku dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya. Maha Yang Memberkahi Allah Dzat Yang Maha Sebaik-Baiknya Pencipta.
Ketiga adalah sujud Syukur. Sujud Syukur ini dilakukan ketika seseorang mendapat kenikmatan yang istimewa dari Allah SWT. Bisa berupa keselamatan dari bencana, mendapat suatu pencapaian, atau kenikmatan-kenikmatan lainnya. Sujud syukur ini hukumnya sunnah, dan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Rasulullah SAW sendiri juga melakukan sujud ini ketika mendapatkan kabar gembira atau mendapat suatu kenikmatan. Dari Abu Bakrah r.a, dari Nabi SAW: “Apabila datang kepada nabi saw. Kabar yang menggembirakan atau yang membahagiakan, beliau langsung bersujud untuk berterima kasih kepada Allah SWT.” (HR. Abu Dawud)🙏



