Khutbah Idul Fitri

Khutbah Idul Fitri : AKTUALISASI KETAKWAAN DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL DAN DIGITAL

Oleh Nishfun Nahar, S.Pd.I, M.Pd

AKTUALISASI KETAKWAAN DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL DAN DIGITAL

(Nishfun Nahar, S.Pd.I, M.Pd)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نًحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد

 

*Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah…*

Hari ini, setelah sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, setelah kaki-kaki ini tak lelah melangkah ke masjid untuk tarawih dan tadarus, kita berseru “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Kita bersyukur, kita bergembira. Tapi izinkan saya bertanya, saudaraku: sudahkah kita meraih predikat muttaqin, hamba yang bertakwa? Atau jangan-jangan Ramadhan hanya berlalu seperti bulan-bulan biasa, tanpa meninggalkan jejak di hati dan perubahan dalam perilaku? Sebab ukuran keberhasilan puasa Ramadhan sebenarnya dalam jangka panjang adalah kemampuan kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang berkarakter mulia dengan ketakwaan sebagai indikatornya yang secara terang Allah firmankan:

… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (١٨٣)

… agar kamu bertakwa

 

Takwa bukan sekadar label yang kita sandang. Takwa adalah benteng kokoh yang harus kita aktualisasikan dalam kehidupan nyata, di tengah dunia yang hari ini terbelah oleh ketidakadilan global, dan di tengah era digital yang perlahan mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

 

Jamaah shalat Id yang berbahagia…

Di saat kita menikmati hidangan Lebaran dengan keluarga tercinta, di negeri yang jauh dari sini, di Gaza, di Tepi Barat para saudara kita justru merayakan kemenangan dengan linangan air mata dan debu reruntuhan. Laporan terbaru menyebutkan, sejak eskalasi 7 Oktober 2023, korban tewas warga Palestina telah menembus angka 72.239 jiwa. Bayangkan, saudaraku, lebih dari 70 ribu nyawa melayang. Mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak yang tak bersalah.

 

Bahkan di bulan suci Ramadhan yang baru saja kita tinggalkan, akses ke Masjid Al-Aqsa -kiblat pertama umat Islam- ditutup. Selama Ramadhan tahun ini, saudara-saudara kita di Yerusalem dihalangi untuk menjejakkan kaki di pelataran masjid yang penuh berkah itu. Liga Arab menyebut ini sebagai pelanggaran hukum internasional dan penistaan terhadap kebebasan beribadah dan ini merupakan yang pertama sepanjang sejarah.

 

Saudaraku, konflik ini tak lagi bisa dipandang sebagai konflik lokal. Ia telah membesar menjadi perang regional yang melibatkan kekuatan besar. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meletus beberapa waktu lalu telah mengganggu 20% pasokan minyak dan gas dunia melalui Selat Hormuz. Harga minyak yang semula di kisaran 70 dolar per barel, tiba-tiba menembus 100 dolar .

 

Dan tahukah saudaraku, dampaknya sampai ke dapur kita? Negera kita, Indonesia terpaksa mengurangi produksi nikel -komoditas utama kita- karena pasokan sulfur dari Timur Tengah terganggu akibat perang . Sulfur itu bahan baku untuk produksi ponsel, laptop, hingga baterai kendaraan listrik yang kita pakai sehari-hari. Demikian pun harga bahan bakar non subsidi ikut naik seiring kenaikan harga minyak dunia tentu bisa berefek domino terhadap kenaikan harga kebutuhan lainnya jika konflik peperangan terus berlanjut.

 

Allāhuakbar Allāhuakbar, walillāhilhamd

Jamaah shalat Id yang berbahagia

Inilah wajah dunia hari ini. Ketidakadilan di satu sudut bumi, getarannya terasa hingga ke dapur kita, ke kantong kita, ke perangkat digital yang kita genggam.

Baca Juga  KHUTBAH IDUL FITRI : MISI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

 

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)

 

Ayat ini merupakan landasan prinsip equalitas-egalitarian, bahwa manusia memiliki kedudukan yang sama. Kemuliaan bukan pada ras seperti yang diklaim bangsa Israel, bukan pada kekuatan militer, bukan pula pada sekutu adidaya sebagaimana didakwa negara Amerika sehingga mereka merasa bisa berbuat semaunya dan sewenang-wenang kepada bangsa lain. Kemuliaan hanya pada ketakwaan. Maka saudaraku, bagaimana kita mengaktualisasikan takwa di tengah ketidakadilan global ini?

 

Pertama, dengan tidak pernah berhenti membela kebenaran. Rasulullah SAW bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu, baik dalam keadaan zalim maupun terzalimi. (HR. Bukhari)

 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, menolong yang terzalimi kami paham. Tapi bagaimana menolong yang zalim?” Beliau menjawab, “Dengan mencegahnya berbuat zalim. Itulah pertolonganmu kepadanya.”

 

Maka, membela Palestina tidaklah harus beragama Islam terlebih dahulu namun cukup memiliki naluri kemanusiaan yang sehat sehingga ketika melihat kezaliman Israel kepada bangsa Palestina ia akan terpanggil sebab membela Palestina adalah menolak kezaliman di mana pun ia berada. Dengan doa di sepertiga malam, dengan infak yang kita sisihkan, dengan suara lantang di forum-forum internasional, dan dengan tidak membeli produk-produk yang terang-terangan mendukung agresi. Demikian pula ketika melihat konflik perang antara AS-Israel dengan Iran, tidak harus menjadi Syiah dulu untuk membela negeri para Mullah tersebut, karena Iran menjadi korban kezaliman nyata AS-Israel yang secara sepihak melakukan penyerangan terlebih dahulu di tengah upaya dialog yang tengah berlangsung antara AS dan Iran.

 

Kedua, dengan memperkuat solidaritas kemanusiaan. Ketika rantai pasok global terguncang, ketika harga pangan melambung, maka yang paling menderita adalah mereka yang lemah di Gaza, di Yaman, di Sudan, bahkan di kampung-kampung kita sendiri. Takwa mendorong kita untuk berbagi, untuk peduli, untuk tidak hidup dalam gelembung egoisme.

 

Allāhuakbar Allāhuakbar, walillāhilhamd

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Kini kita hidup di era yang disebut “Society 5.0”, sebuah masyarakat di mana teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menyatu dalam setiap sendi kehidupan. Informasi mengalir deras, lebih cepat dari air bah. Tapi saudaraku, kemudahan ini seperti pedang bermata dua.

 

Di satu sisi, teknologi memudahkan kita beribadah, belajar agama, bersilaturahmi dengan saudara jauh. Tapi di sisi lain, teknologi melahirkan fenomena yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai “lahwul hadits”, percakapan dan hiburan kosong yang melalaikan .

 

Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 6:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia ada orang yang membeli percakapan kosong (lahwal hadits) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

 

Para mufasir seperti Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang sengaja membeli buku-buku cerita dongeng, lagu-lagu, dan hiburan untuk memalingkan manusia dari Al-Qur’an . Kini, di era digital, “lahwul hadits” menjelma dalam bentuk yang lebih canggih: “konten viral yang tidak substantif, berita hoaks yang tersebar luas, algoritma media sosial yang mengurung kita dalam ruang gema”, dan yang paling berbahaya konten manipulatif hasil kecerdasan buatan.

Baca Juga  UMPP Perkuat Peran Global Lewat Seminar Internasional Bertema Ekonomi Masa Depan

 

Profesor Quraish Shihab, ulama tafsir terkemuka, mengingatkan bahwa di era AI, batas antara kebenaran dan kebohongan semakin kabur. Beliau berkisah, “Ada ceramah saya yang beredar, padahal saya tidak pernah bicara begitu. Orang bisa memalsukan suara, memalsukan gambar” . Ini adalah fitnah besar zaman ini.

Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita tentang bahaya pembicaraan tanpa kejelasan. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, beliau bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal untuk kalian dan membenci tiga hal: meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai; dan membenci kalian dari: gunjingan (qila wa qal), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (yang tidak bermanfaat) (HR. Muslim)

 

“Qila wa qal” gunjingan, pembicaraan tak berujung yang tidak produktif. Di era media sosial, qila wa qal menjadi konsumsi harian kita. Berjam-jam kita habiskan untuk membaca komentar, terlibat debat kusir, menyebarkan berita tanpa verifikasi. Padahal Allah memerintahkan kita untuk “tabayyun”, check and recheck:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadanya membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyanu), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

 

Saudaraku, di era digital ini, aktualisasi takwa berarti:

Pertama, menjaga lisan digital kita. Setiap kata yang kita ketik di kolom komentar, setiap status yang kita bagikan, akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Tentu Ini tidak hanya berlaku di dunia nyata, namun berlaku pula di dunia maya.

 

Kedua, membentengi keluarga dari bahaya digital. Profesor Quraish Shihab mengingatkan bahwa memberikan gawai kepada anak tanpa kontrol sama seperti melepas anak ke pasar tanpa pendampingan. Ayat pertama yang turun kepada Nabi adalah Iqra’ “bacalah”. Tapi membaca di era digital bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kemampuan memilah, memilih, dan mengkritisi informasi.

 

Ketiga, menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan kelalaian. Di era disrupsi AI ini, Lemhannas RI mengingatkan pentingnya literasi digital berbasis nilai kebangsaan dan keagamaan, kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, menyaring informasi, dan tidak mudah terperangkap dalam polarisasi sosial .

 

Saudaraku, di sinilah aktualisasi takwa menemukan relevansinya. Takwa bukan sekadar shalat malam dan puasa sunah, tapi juga kecerdasan dalam menggunakan teknologi, kepedulian terhadap penderitaan saudara jauh, dan keberanian membela kebenaran meski sendirian.

 

Allāhuakbar Allāhuakbar, walillāhilhamd

Ma’asyiral Muslimin…

Ramadhan telah pergi. Tapi takwa harus tetap bersemayam di hati. Jangan biarkan puasa kita hanya meninggalkan lapar dan dahaga. Jangan biarkan shalat malam kita hanya menyisakan kantuk dan lelah semata. Jangan biarkan sedekah kita hanya membagi harta tanpa menambah keberkahan.

Baca Juga  KHUTBAH IDUL FITRI 1447 H : IDUL FITRI ADALAH HARI KEMENANGAN KITA

 

Dalam kitab *Latha’if al-Ma’arif*, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal kebaikan di bulan Ramadhan adalah ketika kita terus melanjutkan kebaikan itu di bulan-bulan berikutnya. Sebaliknya, jika kita kembali bermaksiat dan lalai, maka bisa jadi puasa kita hanya mendapat lapar dan dahaga.

 

Saudaraku, hari-hari ini kita dihadapkan dua tantangan besar yang saling terkait: krisis kemanusiaan akibat perang dan ketidakadilan, serta krisis spiritual akibat disrupsi digital. Keduanya menguji kadar ketakwaan kita.

 

 

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? (QS. Al-Ankabut: 2)

 

Ujian itu nyata. Ujian itu ada di depan mata. Lalu, bagaimana sikap seorang mukmin sejati menghadapi fenomena ketidakadlian global dan disrupsi teknologi digital?

 

Pertama, perkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah. Jangan biarkan perbedaan politik, pilihan organisasi, atau afiliasi kelompok memecah belah kita. Umat Islam sedang lemah, saudaraku. Gaza porak-poranda, Al-Aqsa terancam, konflik regional meluas.

 

Kedua, perkuat literasi digital. Jangan mudah terprovokasi oleh konten-konten yang sengaja dirancang untuk memecah belah. Belajar membedakan berita benar dan hoaks. Ketika ada informasi menghebohkan tentang perang atau konflik, jangan langsung share. Tabayyun dulu, cek sumbernya, tanya ahlinya.

 

Ketiga, jadikan rumah sebagai madrasah digital. Didik anak-anak kita untuk menggunakan gawai dengan bijak. Batasi dan isi gawai mereka dengan konten-konten Islami yang mencerdaskan. Pilihkan tontonan yang mendidik, bukan sekadar menghibur.

 

Keempat, jangan lupakan doa. Di tengah segala kecanggihan teknologi dan senjata modern, senjata seorang mukmin yang paling ampuh adalah doa. Terutama di sepertiga malam. Doakan saudara-saudara kita di Palestina, di Timur Tengah, di Afrika dan di seluruh penjuru dunia yang tertindas. Oleh karena sejenak sebelum kita akhiri khutbah ini kita memohon dengan kesungguhan dan ketulusan kepada Allah SWT agar memberikan pertolongan kepada kita semuanya dalam menghadapi tantangan kehidupan global dewasa ini yang penuh dengan ketidakadilan.

 

الحمد لله رب العالمين حمدا لك يا رحمن, إليك المشتكى وعليك التكلان وصلاة وسلاما على رسولك خير الأنام وعلى آله وأصحابه البررة الكرام.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا, وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ, وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ, وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ, وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين . اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سودان وفي سائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button