Berita Cabang - Ranting

Mengetuk Pintu Istiqamah di Masjid Al Mujahidin Tangkilkulon

muhammadiyahpekalongan.or.id. PEKALONGAN – Gema selawat dan aroma khas sarung baru menyerbak di udara Desa Tangkilkulon, Kedungwuni, malam ini. Masjid Al Mujahidin tampak benderang, dipadati jamaah yang antusias menunaikan ibadah salat tarawih di tengah suasana malam Ramadan yang sejuk.

​Ada yang istimewa dalam sesi Kuliah Tujuh Menit (Kultum) kali ini. Ustaz Rois Sidiq, yang didapuk menjadi pemateri, memberikan pesan mendalam mengenai esensi puasa yang seringkali terlupakan oleh rutinitas: Puasa sebagai laboratorium pembiasaan.

​Bukan Sekadar Menahan Lapar

​Dalam paparannya yang lugas namun menyentuh, Ustaz Sidiq menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum bagi setiap Muslim untuk “menyetel ulang” kebiasaan buruk menjadi baik.

​”Puasa itu ibarat madrasah. Selama sebulan kita dididik untuk terbiasa. Terbiasa bangun sebelum fajar, terbiasa menjaga lisan, dan terbiasa menahan diri. Jika setelah Ramadan kebiasaan baik ini hilang, maka kita hanya mendapat lapar dan dahaga saja,” tutur Ustaz Sidiq di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.

Baca Juga  Masjid Hj. Mutimah Dahlan Bersinar Usai Aksi Bersih Komunitas Marbot On The Road

 

​Filosofi “Sedikit tapi Rutin”

​Menguatkan pesan tersebut, Ustaz Sidiq mengutip sebuah hadis yang menjadi napas dari pembiasaan ibadah:

​“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin (konsisten) dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).

​Beliau mengajak jamaah untuk tidak muluk-muluk, melainkan fokus pada perubahan kecil yang konsisten.

Kurikulum Pembiasaan: Membawa Semangat Ramadan ke Hari-Hari Biasa

​Ustaz Sidiq menekankan bahwa Ramadan adalah masa “training” atau latihan. Berikut adalah empat pilar pembiasaan yang dilatih selama puasa dan bagaimana cara kita menjaganya setelah bulan suci berlalu:

​Pembiasaan Lisan (Menjaga Kata-kata)

Selama berpuasa, kita dilatih sekuat tenaga untuk menghindari ghibah (ngerumpi) atau berkata kasar demi menjaga pahala puasa agar tidak gugur. Harapannya, setelah Ramadan usai, kita telah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih santun, bijak dalam berbicara, dan selalu berpikir sebelum berucap.

Baca Juga  Branding dan AI, Strategi Baru Amal Usaha Muhammadiyah Kajen untuk Publikasi Berkemajuan

 

​Pembiasaan Waktu (Disiplin Tinggi)

Ramadan memaksa kita patuh pada jadwal; kita disiplin mengejar waktu sahur sebelum imsak dan menyegerakan berbuka saat azan Magrib. Kedisiplinan ini adalah modal besar untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal tidak menunda-nunda waktu salat lima waktu.

 

​Pembiasaan Sosial (Kepekaan Hati)

Lewat lapar yang kita rasakan dan tradisi berbagi takjil atau sedekah subuh, Ramadan mengasah empati kita. Pelajaran ini bertujuan agar kita memiliki kepedulian sosial yang tinggi, tetap ringan tangan membantu tetangga atau warga Desa Tangkilkulon yang kekurangan, bahkan di luar bulan Ramadan.

 

​Pembiasaan Spiritual (Akrab dengan Al-Qur’an)

Jika selama Ramadan kita mampu mengejar target One Day One Juz atau rutin tadarus bersama di masjid, maka ini adalah bukti bahwa kita punya waktu. Pembiasaan ini harus diteruskan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat saja.

Baca Juga  Muhammadiyah Wonokerto Bergerak Cepat Tangani Banjir di Desa Rowoyoso, Bangun Pos Layanan Pengungsian dan Dapur Umum

Pesan Penutup Ustaz Sidiq: “Jangan sampai kita menjadi ‘Hamba Ramadan’ yang taat hanya saat bulannya tiba, tapi jadilah ‘Hamba Allah’ yang istiqamah sepanjang usia.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button