Ramadhan Momentum Mengelolah Keuangan Keluarga dengan Bijak

muhammadiyahpekalongan.or.id , Wonokerto _ Di pagi hari yang penuh berkah bulan Ramadhan, Masjid Lil Muslimin Bebel sudah dipenuhi oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru desa dan sekitarnya. Suasana khidmat terpancar dari wajah setiap orang, sambil bersilaturahmi dan menanti dimulainya pengajian Ahad pagi yang telah dinantikan. Panitia penyelenggara telah menyusun segala sesuatunya dengan baik, termasuk menyediakan 5 voucher belanja senilai Rp50.000,- setiapnya yang akan diberikan kepada jamaah yang mampu menjawab pertanyaan selama sesi pemaparan.
Pada hari itu, narasumber kehormatan adalah Ust. Dr. H. Ali Trigiatno, M.Ag – Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah. Setelah doa pembukaan dan bacaan ayat suci Al-Qur’an, beliau mulai memaparkan tema utama: Mengelola Keuangan Keluarga dengan Bijak.
“Saudaraku sekalian,” ucap beliau dengan suara yang jelas dan penuh makna, “harta yang Allah berikan adalah amanah yang harus kita kelola dengan baik. Di tengah kemajuan zaman yang sering membuat kita tergoda untuk hidup boros, ajaran Islam memberikan pedoman yang tegas tentang cara mengatur keuangan keluarga.”
Beliau menjelaskan bahwa tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta adalah prinsip dasar yang harus kita pegang teguh. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berlebih-lebihan itu bukan bagian dari agama kita,” terangnya. Banyak keluarga yang mengalami kesulitan bukan karena tidak memiliki penghasilan, tetapi karena tidak mampu mengendalikan diri dalam berbelanja dan sering membeli barang yang tidak perlu. Saat menjelaskan poin ini, beliau mengumumkan bahwa panitia telah menyediakan hadiah berupa 5 voucher belanja di Jasmine Mart, dan akan mengajukan beberapa pertanyaan seputar materi yang disampaikan.
Suasana menjadi lebih semarak dengan adanya informasi tentang hadiah tersebut. Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya saling mufakat antara suami dan istri dalam mengurus urusan rumah tangga, termasuk keuangan. “Suami bukan satu-satunya yang bertanggung jawab, dan istri juga bukan hanya penerima apa yang diberikan,” jelas Ust. Ali. Kedua pasangan perlu belajar bersama tentang manajemen keuangan, membicarakan setiap keputusan pengeluaran, dan saling mendukung dalam menjalankan tugas-tugas rumah tangga agar tidak ada beban yang terpusat pada satu pihak saja. Setelah menjelaskan bagian ini, beliau mengajukan pertanyaan pertama, dan seorang ibu dari Rowoyoso yang dengan cepat menjawab dengan benar langsung mendapatkan voucher belanja senilai 50.000 rupiah.
“Yang tak kalah penting,” sambung beliau, “kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Gunakan keuangan sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan yang kadang hanya sebatas hasrat semata.” Beliau memberikan contoh sederhana: kebutuhan adalah makanan, sandang, dan papan untuk keluarga, sedangkan keinginan bisa jadi membeli barang baru hanya karena sedang tren, padahal barang lama masih bisa digunakan dengan baik. Kemudian beliau mengajukan pertanyaan kedua, dan seorang ayah yang sedang mengikuti pengajian bersama anaknya berhasil menjawab dengan tepat dan membawa pulang voucher yang sama.
Pada bagian akhir pemaparan, beliau mengingatkan tentang pentingnya menyisihkan sebagian uang untuk bersedekah dan menabung untuk masa depan. “Sedekah bukan hanya membuat orang lain bahagia, tetapi juga membersihkan harta kita dari dosa,” ujarnya. Selain itu, menabung adalah bentuk persiapan yang cerdas untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga dan merencanakan masa depan yang lebih baik bagi keluarga, seperti pendidikan anak atau persiapan usia tua. Setelah itu, tiga pertanyaan lagi diajukan dan dengan cepat dijawab oleh jamaah yang antusias. Semua pemenang sangat senang menerima voucher belanja yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka di Jasmine Mart.
Setelah pemaparan selesai dan semua hadiah diberikan, jamaah antusias bertanya tentang berbagai kasus yang mereka alami dalam mengelola keuangan keluarga. Ust. Ali menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan memberikan solusi yang sesuai dengan ajaran Islam serta kondisi nyata masyarakat.



