Berita Cabang - Ranting

Buka Baitul Arqom PCM Doro, Mardi Rahardjo Ingatkan Kader Jangan Cuma Jadi Anggota di Atas Kertas

muhammadiyahpekalongan.or.id I PANINGGARAN – Tantangan dakwah kontemporer menuntut kematangan ideologi yang kuat dari para pimpinan cabang. Menjadi pengurus Muhammadiyah tidak boleh sekadar formalitas administratif belaka. Dalam Baitul Arqom Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Doro yang digelar di Wana Wisata Kali Paingan, Paninggaran, Ahad (28/6/2026) atau 13 Muharram 1448 H, tokoh senior Muhammadiyah Pekalongan, Bapak Mardi Rahardjo, S.Pd.I., menyerukan gerakan “Memuhammadiyahkan Muhammadiyah” melalui penguatan lima fondasi ideologis.

Mardi Rahardjo menegaskan bahwa esensi dari gerakan “Memuhammadiyahkan Muhammadiyah” adalah menuntut setiap warga, kader, hingga pimpinan untuk tidak sekadar menjadi anggota di atas kertas kartu tanda anggota (KTAM). Lebih dari itu, setiap individu harus benar-benar memahami, menghayati, dan mengamalkan ideologi serta manhaj perjuangan secara nyata.

“Warga Muhammadiyah itu harus komitmen menghidupkan ranting, aktif mengikuti pengajian persyarikatan, memahami keputusan Majelis Tarjih, memakmurkan masjid-masjid kita, serta mendukung penuh pengembangan amal usaha Muhammadiyah (AUM),” tegas Mardi di hadapan jajaran pleno PCM Doro.

Baca Juga  Kisah Firnanda dari Tangkil Kulon: Rumah Nyaris Ambruk, Diselamatkan Gotong Royong Ranting Muhammadiyah

Lima Pondasi Pokok Gerakan

Untuk mewujudkan gerakan yang substantif tersebut, Mardi Rahardjo menguraikan lima pondasi pokok yang wajib dipegang teguh oleh seluruh kader:

  1. Memurnikan Tauhid: Mengesakan Allah SWT dalam seluruh bentuk ibadah serta menjauhi segala macam bentuk syirik, khurafat, tahayul, dan bid’ah yang melenceng dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

  2. Mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah: Menjadikan kedua sumber hukum sahih tersebut sebagai pedoman utama akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah melalui proses belajar, mengkaji, dan mengamalkan dalil yang benar.

  3. Melembagakan Amal Usaha yang Fungsional dan Solutif: Bergerak nyata melalui sekolah, panti asuhan, klinik, dan pelayanan sosial lainnya yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar pandai berwacana atau ceramah.

  4. Berpikir Kekinian dan Masa Depan: Memiliki cara pandang yang maju, visioner, dan adaptif terhadap lompatan sains dan teknologi tanpa kehilangan prinsip syariat Islam.

  5. Toleran, Modern, dan Mau Bekerja Sama: Menjunjung tinggi sikap menghargai perbedaan pendapat dalam ranah ijtihadiyah serta luwes berkolaborasi dengan berbagai pihak demi kemaslahatan kemanusiaan dengan tetap menjaga kemurnian akidah.

Baca Juga  Berlangsung di Lereng Gunung, Baitul Arqam Kedungwuni Pacu Profesionalisme Empat Lini Amal Usaha

Kokoh dalam Akidah, Luas dalam Manfaat

Pemilihan Wana Wisata Kali Paingan sebagai lokasi Baitul Arqom kali ini sengaja dirancang untuk memberikan suasana tadabur alam yang menyegarkan, sekaligus menguatkan kedekatan emosional antar-pimpinan PCM Doro di tengah rimbunnya alam pegunungan.

Melalui internalisasi lima fondasi pokok ini, PCM Doro diharapkan mampu melahirkan klaster kepemimpinan yang tangguh, solid, dan siap mengawal gerak ranting serta cabang. Dengan demikian, Muhammadiyah di tingkat akar rumput akan tetap kokoh secara teologis, modern secara manajerial, serta senantiasa luas dalam menebarkan kemanfaatan bagi masyarakat umum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button