BeritaBerita AUM

Cegah Risiko Interaksi Obat, Kuliah Umum Kefarmasian UMPP Bahas Keamanan Herbal Penyakit Kronis

muhammadiyahpekalongan.or.id I PEKALONGAN – Menghadirkan pakar herbal UAD Dr. Moch. Saiful Bachri, UMPP ingatkan pentingnya edukasi dosis dan mutu produk herbal oleh apoteker. Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) menggelar Kuliah Umum Kefarmasian pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan bertema “Transformasi Pelayanan Kefarmasian: Komunikasi Efektif dan Pemanfaatan Herbal untuk Optimalisasi Terapi Penyakit Degeneratif” ini berlangsung secara hybrid di Gedung Rektorat UMPP dan disiarkan langsung melalui kanal Zoom serta YouTube.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. apt. Moch. Saiful Bachri, M.Si., Ketua Prodi S2 Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemanfaatan bahan alam berbasis bukti ilmiah (evidence-based medicine) serta edukasi mendalam terkait risiko interaksi antara obat herbal dan obat konvensional.

Keamanan Produk Herbal dan Kepatuhan Pasien

Baca Juga  Mahasiswa Penjas UMPP Angkatan 2024 Sukses Selenggarakan PENJAS UMPP PENCAK SILAT OPEN

Penggunaan herbal pada pasien penyakit kronis dan degeneratif memerlukan perhatian khusus mengenai mutu, keamanan, ketepatan dosis, serta potensi interaksinya dengan terapi medis utama. Tenaga kefarmasian dituntut tidak sekadar menyerahkan obat, tetapi juga bertindak sebagai edukator yang mampu memandu pasien menggunakan kombinasi terapi secara aman.

“Produk herbal tidak secara otomatis menggantikan terapi yang telah diresepkan dokter. Oleh karena itu, apoteker harus memiliki literasi informasi kesehatan yang kuat untuk memberikan pemahaman objektif agar pasien terhindar dari risiko yang tidak diinginkan,” jelas Saiful Bachri.

Penguatan Kompetensi Komunikasi dan Keselamatan Pasien

Selain penanganan herbal, kuliah umum ini juga menyoroti pentingnya pendekatan pelayanan berorientasi pada pasien (patient-centered care). Melalui komunikasi yang efektif dan persuasif, apoteker dapat menggali riwayat pengobatan pasien serta meningkatkan kepatuhan minum obat yang menjadi kunci keberhasilan terapi penyakit degeneratif.

Baca Juga  BPKH Bersama Muhammadiyah Salurkan 1.000 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Banjir dan Longsor Pekalongan

Langkah ini mempertegas komitmen UMPP dalam mencetak calon apoteker yang kompeten, beretika, dan siap menghadapi tantangan transformasi pelayanan kesehatan berbasis keselamatan pasien.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button