Berita AUMBerita Persyarikatan

Belajar Membangun Sekolah Unggul, SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Studi Terap ke SMA Muhammadiyah 3 Jakarta

JAKARTA — Perjalanan panjang dari Kota Pekalongan menuju ibu kota menjadi langkah awal ikhtiar transformasi pendidikan SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Pekalongan (SMUHI). Pada Jumat, 16 Oktober 2026, rombongan SMUHI tiba di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta pukul 07.00 WIB untuk melaksanakan studi terap dan menggali praktik-praktik baik pengelolaan sekolah yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik SMUHI.

Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi antarsekolah Muhammadiyah. Lebih dari itu, studi terap menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat budaya kerja, meningkatkan mutu layanan pendidikan, mengembangkan kepemimpinan murid, serta membangun citra sekolah yang semakin dipercaya masyarakat.

Rombongan SMUHI terdiri atas Kepala Sekolah, Amilah, S.Pi., didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Pasrum Affandi, Kepala Tata Usaha Muhamad Husain, dan Bendahara Etti Rossiana Dewi.

Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Kepala SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Suranti, S.Pd., bersama jajaran Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Kesiswaan, Humas, serta Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru, Dr. Ahmad Said Matondang, M.E.Sy.

Sambutan hangat, semangat berbagi, dan komitmen untuk maju bersama

Dalam sambutan penerimaannya, Kepala SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Suranti, S.Pd., menyambut baik kehadiran rombongan SMUHI. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperluas jejaring kolaborasi, dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan sekolah Muhammadiyah.

Sambutan penerimaan ini sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari penguatan sumber daya manusia, pengelolaan kurikulum, pembinaan karakter dan kepemimpinan murid, hingga strategi komunikasi publik dan pemasaran sekolah.

Kepala SMUHI, Amilah, S.Pi., dalam sambutan balasannya menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang hangat dari keluarga besar SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. Kunjungan ini diharapkan menjadi kesempatan berharga bagi SMUHI untuk belajar secara langsung dari pengalaman sekolah yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan, prestasi, kedisiplinan, dan penguatan budaya sekolah.

Bagi SMUHI, studi terap ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk mewujudkan sekolah yang Islami, Unggul, dan Kreatif. Berbagai pengalaman yang diperoleh akan dikaji dan disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan sekolah, sehingga hasil kunjungan tidak berhenti pada catatan dan dokumentasi, tetapi berlanjut menjadi program nyata.

Ketua PCM Kebayoran Baru: Sekolah harus berani berbenah dan melakukan lompatan

Sesi berikutnya diisi pengarahan dan materi oleh Ketua PCM Kebayoran Baru, Dr. Ahmad Said Matondang, M.E.Sy. Dalam pemaparannya, ia membagikan pengalaman mengenai dinamika pasang surut pengelolaan sekolah serta pentingnya keberanian melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Menurut paparan yang diterima rombongan, tantangan sekolah dapat muncul dari berbagai sisi: kualitas sumber daya manusia yang perlu terus ditingkatkan, layanan sarana dan prasarana yang belum memberikan kenyamanan optimal, citra sekolah yang kurang menarik, hingga inovasi program yang berjalan monoton dan kurang mengalami pembaruan.

Kondisi tersebut menuntut sekolah untuk tidak berpuas diri. Pembenahan harus dilakukan secara terpadu, bukan hanya dengan memperbaiki satu bagian, melainkan dengan mengintegrasikan sumber daya manusia, layanan, program pendidikan, budaya kerja, dan strategi komunikasi.

Salah satu jalan yang ditekankan ialah benchmarking atau belajar dari praktik baik sekolah lain, baik di dalam maupun luar negeri. Jepang dan Tiongkok disebut sebagai referensi pembelajaran yang dapat memberikan inspirasi bagi percepatan pengembangan sekolah.

Namun, belajar dari sekolah lain tidak berarti menyalin seluruh programnya. Setiap praktik harus dipahami, dikaji, kemudian diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah.

Tiga kata kunci yang mengemuka dalam sesi ini adalah integrasi, inovasi, dan pendekatan suprarasional—yakni keberanian menumbuhkan ikhtiar yang melampaui kebiasaan, disertai keyakinan, kesungguhan, dan kerja nyata.

Semua itu membutuhkan growth mindset, pola pikir bertumbuh yang meyakini bahwa kualitas sekolah dapat terus ditingkatkan melalui kemauan belajar, evaluasi, kedisiplinan, dan perbaikan berkelanjutan.

Dorong Sekolah Unggul, SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Kunjungi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta
Dorong Sekolah Unggul, SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Kunjungi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta

Pendidikan karakter dimulai dari keteladanan

Salah satu hal menarik dari pemaparan Ketua PCM Kebayoran Baru ialah penekanan pada penguatan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi budaya sekolah.

Baca Juga  SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Pekalongan Gelar Latihan Kurban

Program yang dipaparkan antara lain Mabit wajib pada setiap akhir bulan, pembiasaan tahajud, salat duha, serta pembacaan Sayyidul Istigfar. Guru ISMUBA juga diarahkan untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui target bacaan satu juz dalam sehari.

Pesan yang mengemuka bukan semata-mata tentang banyaknya program keagamaan, melainkan bagaimana nilai-nilai Islam menjadi budaya yang hidup dalam keseharian sekolah.

Keteladanan harus dimulai dari pimpinan dan guru. Kedisiplinan, ibadah, tanggung jawab, serta pelayanan yang baik akan lebih mudah tumbuh ketika murid melihat contoh nyata dari orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Dalam hal pelayanan tamu, sekolah menanamkan prinsip bahwa menjamu tamu merupakan keberkahan. Tamu perlu dilayani dengan baik, penuh keramahan, dan tanpa membebankan biaya kepada mereka. Bahkan, rasa syukur diharapkan tidak berhenti di dalam hati, tetapi juga diungkapkan melalui ucapan dan diwujudkan dalam tindakan.

Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah unggul tidak hanya dinilai dari prestasi akademik, fasilitas, atau jumlah peminat, tetapi juga dari akhlak, suasana pelayanan, dan kualitas hubungan antarmanusia.

Kurikulum adaptif: setiap murid memiliki kesempatan berkembang

Pada sesi bidang kurikulum, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Pak Febri, memaparkan sejumlah pendekatan pembelajaran yang dikembangkan di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta.

Salah satu perhatian utamanya adalah bagaimana kurikulum dirancang agar lebih fleksibel, relevan, dan memberikan ruang bagi pengembangan kompetensi serta karakter murid. Sekolah juga menjajaki pendekatan kurikulum internasional.

Dalam paparan tersebut, disampaikan pengembangan pembelajaran berbasis sistem kredit semester (SKS), dengan penataan mata pelajaran dan proyek yang mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran, praktik ibadah, serta pembentukan nilai-nilai karakter. Rincian implementasinya tentu memerlukan kajian lebih lanjut sebelum diadaptasi oleh sekolah lain.

SMA Muhammadiyah 3 Jakarta juga mengembangkan beberapa layanan khusus, di antaranya:

– Kelas Tahfidz, dengan pembiasaan murojaah pada pagi hari dan penambahan hafalan, serta pembelajaran tahsin pada siang hari.

– Kelas daring berbasis LMS, bagi murid yang karena kondisi tertentu tidak dapat mengikuti pembelajaran secara langsung, misalnya atlet. Layanan ini didukung modul pembelajaran yang disiapkan guru.

– Kelas klinis literasi dan numerasi, yang dijadwalkan pada hari Jumat untuk membantu murid yang membutuhkan penguatan kemampuan dasar.

– Pemantapan kelas XII, melalui pendalaman materi dan tryout sebagai persiapan memasuki perguruan tinggi negeri yang dituju.

Program-program tersebut memberikan gambaran bahwa layanan pendidikan dapat dirancang lebih beragam. Murid yang membutuhkan pendampingan mendapat penguatan, murid yang memiliki potensi khusus memperoleh ruang berkembang, dan murid kelas akhir mendapatkan persiapan yang lebih terarah untuk melanjutkan pendidikan.

Bagi SMUHI, pelajaran pentingnya adalah perlunya pemetaan kebutuhan murid, penguatan pendampingan akademik, serta pengembangan program yang tidak hanya seragam bagi semua, tetapi juga memperhatikan potensi dan kebutuhan masing-masing murid.

Dari kelas Tahfidz menuju imam masjid: ilmu harus diamalkan

Program Tahfidz yang dipaparkan tidak berhenti pada target hafalan. Murid juga diberi kesempatan mengamalkan kemampuan Al-Qur’an di tengah masyarakat melalui penugasan menjadi imam masjid secara berkala.

Sebelum ditugaskan, murid mengikuti tes pemetaan kemampuan. Murid yang masih membutuhkan penguatan dibina melalui pembelajaran Iqra’, sedangkan mereka yang telah memiliki kemampuan memadai diarahkan untuk mengembangkan potensi tilawah, tahsin, dan kepemimpinan ibadah.

Pembinaan tersebut dilaksanakan dengan pendampingan guru dan penugasan terjadwal, disertai dukungan perlengkapan berupa gamis. Dalam paparan disampaikan bahwa kegiatan pembinaan dan penugasan dirancang secara rutin, termasuk hingga tiga kali dalam sepekan, dengan alokasi pembinaan yang perlu disesuaikan menurut program masing-masing.

Model ini memperlihatkan hubungan erat antara pembelajaran, praktik, dan pengabdian. Murid tidak hanya mempelajari teori agama, tetapi juga belajar memimpin, bertanggung jawab, menjaga adab, dan melayani jamaah.

Program bahasa Arab melalui kegiatan ekstrakurikuler dua kali sepekan juga menjadi bagian dari pengembangan kemampuan keislaman murid.

Bagi SMUHI, praktik ini dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat sinergi Kelas Tahfidz, pembinaan masjid, pembelajaran Al-Qur’an, dan pengabdian murid di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Baca Juga  Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan Kirimkan Peserta Terbanyak Kegiatan Diksuspala Region Jawa Tengah 5

 

*Kesiswaan: membangun disiplin, kepemimpinan, dan keberanian*

 

Pada bidang kesiswaan, rombongan memperoleh gambaran tentang program kepemimpinan yang dirancang untuk membentuk murid yang disiplin, tangguh, mandiri, dan bertanggung jawab.

 

Salah satu program yang menonjol adalah Leadership Camp bekerja sama dengan Kopassus selama delapan hari. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman pembinaan kedisiplinan, kepemimpinan, dan pembentukan karakter melalui kegiatan terstruktur.

 

Dalam pemaparan, disiplin tidak hanya ditujukan kepada murid, tetapi juga menuntut konsistensi guru dan seluruh unsur sekolah. Keteladanan orang dewasa menjadi bagian penting dari keberhasilan pembinaan.

 

Selain itu, SMA Muhammadiyah 3 Jakarta memiliki sekitar 30 kegiatan ekstrakurikuler atau komunitas yang menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan bakat, minat, dan keterampilan.

 

Pembinaan dilakukan secara berjenjang agar murid mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan tahap perkembangan dan tanggung jawabnya. Ketertiban lingkungan sekolah juga didukung aturan yang dipahami bersama, termasuk ketentuan parkir bagi pengendara yang memiliki SIM.

 

Bagi SMUHI, berbagai praktik tersebut membuka ruang refleksi tentang bagaimana kegiatan kesiswaan dapat diintegrasikan dengan pembentukan karakter, budaya disiplin, kepemimpinan, serta prestasi murid.

 

Program yang efektif bukan hanya program yang ramai dilaksanakan, melainkan program yang memiliki tujuan jelas, indikator keberhasilan, pembinaan berkelanjutan, dan evaluasi yang terukur.

 

*Humas modern: membangun kepercayaan melalui konten dan branding*

 

Sesi bidang Humas menjadi bagian yang sangat relevan dengan tantangan sekolah di era digital. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh Pak Handi, Humas tidak cukup hanya menjalankan fungsi dokumentasi kegiatan atau menyebarkan pengumuman.

 

Humas harus mampu mengelola citra sekolah, memproduksi konten kreatif, membangun jejaring, dan menyampaikan keunggulan sekolah kepada masyarakat secara konsisten.

 

Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah produksi video secara rutin, dengan target sedikitnya satu video dipublikasikan setiap hari. Konten dibuat dengan memperhatikan kualitas visual, kecepatan produksi, daya tarik pesan, dan peluang menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk melalui platform video pendek.

 

Perangkat kerja yang memadai, pemanfaatan akun premium yang relevan, dan peningkatan keterampilan tim menjadi bagian dari strategi tersebut. Investasi pada perangkat komunikasi dipandang sebagai dukungan terhadap kualitas dan kecepatan produksi, bukan sekadar pengadaan barang.

 

Dalam strategi penerimaan murid baru, sekolah mengarahkan perhatian pada penguatan branding, kerja sama dengan mitra yang relevan, pemanfaatan duta sekolah atau school ambassador, serta keikutsertaan dalam edufair. Pendekatan promosi tidak lagi hanya bergantung pada brosur, tetapi bergerak menuju komunikasi digital yang lebih aktif dan terarah.

 

Inti pesannya sangat jelas: masyarakat perlu mengetahui apa keunggulan sekolah, merasakan manfaat programnya, dan memperoleh bukti nyata dari aktivitas serta prestasi murid.

 

Publikasi yang konsisten harus dibangun di atas kegiatan yang benar-benar berkualitas. Dengan demikian, Humas tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga membantu membangun kepercayaan masyarakat.

 

Bagi SMUHI, praktik tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan strategi komunikasi yang lebih sistematis, dengan menampilkan program unggulan, pembelajaran, prestasi, kegiatan keislaman, karya murid, dan cerita inspiratif guru secara berkelanjutan.

 

*Digitalisasi dan budaya kerja: semua program harus saling menguatkan*

 

Dalam materi yang disampaikan, pengembangan sekolah juga diarahkan pada digitalisasi layanan pendidikan, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Program antarsatuan pendidikan diharapkan saling mengisi sehingga membentuk ekosistem pendidikan yang terintegrasi.

 

Pengelolaan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Proses perekrutan guru dilaksanakan oleh sekolah dengan mekanisme pelaporan kepada Majelis terkait. Evaluasi dilakukan secara berkala, sementara guru yang mendapat tugas tertentu diharapkan menyampaikan laporan harian sesuai tanggung jawabnya.

 

Prinsip yang dapat ditarik adalah bahwa perubahan sekolah harus ditopang sistem kerja yang jelas: tugas terdefinisi, standar layanan dipahami, pelaksanaan dipantau, dan hasil dievaluasi.

Baca Juga  Lazismu Pekalongan Targetkan Bantu 400 Guru Honorer Senilai 100 Juta Rupiah

 

Pengawasan dan pembinaan oleh Majelis Dikdasmen serta PCM menjadi bagian dari upaya menjaga konsistensi program dan memastikan bahwa pengembangan sekolah berjalan dalam koridor organisasi Muhammadiyah.

 

Praktik ini mengingatkan bahwa inovasi tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada semangat individu. Inovasi membutuhkan sistem, pembagian peran, kepemimpinan, dan budaya evaluasi.

 

*Studi terap bukan akhir, tetapi awal perubahan*

 

Rangkaian kegiatan studi terap ini menjadi kesempatan bagi SMUHI untuk melihat secara langsung bagaimana visi sekolah diterjemahkan menjadi program, budaya kerja, dan layanan pendidikan.

 

Ada sejumlah pelajaran penting yang dapat dirangkum dari kunjungan tersebut.

 

Pertama, membangun sekolah unggul harus dimulai dari pembenahan internal. Peningkatan kualitas SDM, kedisiplinan, kenyamanan layanan, dan keteladanan merupakan fondasi sebelum sekolah melangkah lebih jauh.

 

Kedua, program unggulan harus memiliki identitas yang jelas. Kelas Tahfidz, penguatan literasi dan numerasi, pembinaan kepemimpinan, serta pengembangan bakat murid akan lebih berdampak jika dilengkapi tujuan, tahapan, indikator, dan evaluasi yang terukur.

 

Ketiga, pembelajaran harus memberi ruang bagi kebutuhan murid yang beragam. Penguatan akademik, layanan daring, pembelajaran berbasis proyek, serta pendampingan khusus merupakan contoh pendekatan yang dapat dikaji untuk diterapkan sesuai kesiapan sekolah.

 

Keempat, budaya Islami perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Ibadah, akhlak, disiplin, keteladanan, dan pelayanan yang ramah harus saling terhubung dalam kehidupan sekolah.

 

Kelima, Humas harus menjadi bagian dari strategi pengembangan sekolah. Konten berkualitas, publikasi konsisten, jejaring kemitraan, dan branding yang kuat dapat membantu masyarakat mengenali keunggulan sekolah secara lebih luas.

 

Keenam, perubahan harus dikawal dengan evaluasi. Setiap program perlu memiliki penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, laporan, serta tindak lanjut agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

 

Tentu saja, tidak semua praktik harus diterapkan sekaligus. SMUHI perlu menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan, sumber daya, karakteristik murid, serta arah kebijakan sekolah. Praktik yang relevan dapat diuji melalui program percontohan, dievaluasi, kemudian dikembangkan secara bertahap.

 

*Lima guru SMUHI akan menjalani magang selama tiga hari*

 

Sebagai tindak lanjut konkret dari studi terap, SMUHI merencanakan program magang bagi lima guru di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta pada Senin–Rabu, 19–21 Oktober 2026.

 

Selama tiga hari tersebut, para guru diharapkan dapat mengamati lebih dekat pelaksanaan program, mempelajari pola kerja, berdiskusi dengan guru pendamping, dan mengidentifikasi praktik yang dapat diadaptasi di SMUHI.

 

Agar kegiatan magang memberikan hasil nyata, pengalaman yang diperoleh perlu dirangkum dalam laporan, disertai rekomendasi dan rencana tindak lanjut. Hasilnya kemudian dapat dibagikan kepada pimpinan dan guru lain sehingga manfaat pembelajaran tidak hanya dirasakan oleh peserta magang.

 

Dengan cara ini, studi terap berkembang menjadi proses peningkatan kompetensi yang berkelanjutan: berkunjung, mengamati, mempelajari, mempraktikkan, mengevaluasi, dan memperbaiki.

 

*Bergerak bersama menuju SMUHI yang semakin unggul*

 

Kunjungan ke SMA Muhammadiyah 3 Jakarta menegaskan bahwa kemajuan sekolah tidak terjadi secara tiba-tiba. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi diri, keterbukaan untuk belajar dari pihak lain, kesungguhan memperbaiki budaya kerja, dan konsistensi menjalankan program.

 

Bagi SMUHI, semangat tersebut sejalan dengan cita-cita membangun sekolah yang Islami, Unggul, dan Kreatif—sekolah yang kuat dalam nilai keislaman, bermutu dalam pembelajaran, disiplin dalam budaya kerja, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

 

Perjalanan dari Pekalongan menuju Jakarta diharapkan menjadi lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia menjadi perjalanan gagasan, pengalaman, dan tekad untuk melakukan pembaruan.

 

Sebab, sekolah yang terus belajar adalah sekolah yang terus bertumbuh. Dan sekolah yang berani berubah, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah, akan memiliki peluang lebih besar untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi generasi masa depan. (Humas SMUHI)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button