1๐ป
Masjid merupakan sarana pembinaan utama bagi umat. Lihat saja di masa Rasulullah Saw. Bahkan, ketika Rasulullah Saw baru sampai di Madinah, bangunan pertama yang didirikan adalah masjid. Oleh karena itu, sebagai Muslim semestinya kita memiliki perhatian dan kecintaan yang besar terhadap Masjid. Kecintaan yang besar kepada masjid akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pemakmurannya.
Berada di dalam masjid sungguh memiliki keutamaan yang besar dan setiap kebaikan yang dilakukan di dalamnya akan bernilai mulia di sisinya. Bahkan sekedar duduk untuk menanti waktu sholat pun akan didoakan kebaikan oleh para malaikat. Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal bab tentang keutamaan shalat berjamaah menuliskan, bahwa Muhammad bin Sam’ah at-Tamimi selama 40 tahun tidak pernah Tertinggal Takbiratul Ihramnya Imam. Kecuali ketika ibunya meninggal.” Kerinduan menuju masjid senantiasa akan dirasakan oleh orang beriman. Mereka rindu bermunajat kepada rabb-Nya, mengingat-Nya, menghadap-Nya dan membaca ayat-ayat-Nya. “Orang-orang yang hatinya senantiasa merindu masjid akan mendapat rahmat Allah di akhirat,”
Menurut Imam an-nawawi, maksud kalimat “seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid” dalam hadis tersebut adalah orang yang sangat cinta masjid dan selalu salat berjamaah di dalamnya, bukan orang-orang yang hanya sering duduk duduk atau diam di masjid tanpa amalan ibadah. Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan,
ููุฑูุฌููู ููุงูู ููููุจููู ู ูุนููููููุง ุจูุงูููู ูุณูุฌูุฏู ุฅูุฐูุง ุฎูุฑูุฌู ู ููููู ุญูุชููู ููุนูููุฏู ุฅููููููู โฆ
Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, apabila ia keluar dari masjid hingga kembali kepadanya.
Hal ini menunjukkan tentang rasa cintanya kepada masjid untuk shalat dan dzikir kepada Allรขh Azza wa Jalla . Hatinya bagaikan lampu pelita yang terpasang di atapnya, di mana tidaklah dia keluar darinya melainkan dia akan kembali.
Terkait hati yang bergantung ke masjidโsebagaimana tertulis dalam hadits shahihโada penjelasan menarik dari Ibnu Hajar. Menurutnya, hati yang bergantung itu seperti sesuatu yang tergantung di masjid seperti lampu sebagai bukti dari ketergantungan hatinya meskipun jasadnya tidak berada di dalam masjid. Jadi, meski fisik berada jauh dari masjid. Tetapi hatinya selalu merindukan dan ingin selalu mendatanginya. Tiadalah manusia yang hatinya paling bergantung kepada masjid kecuali Nabi Muhammad Shallallahu โalaihi wa Sallam. Bahkan masjid menurut Nabi adalah tempat yang sangat disukainya. Karena itu, hatinya selalu diliputi selaksa rindu untuk selalu datang, dan hadir ke masjid. Terlebih lagi, posisi masjid itu luar biasa, sebagaimana kabar di ayat ini: โSesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allahโ (QS Al-Jin [72]: 18). Posisi masjid memang luar biasa, sebagaimana fakta di berikut ini: Ketika atas titah Allah, Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka yang pertama didirikannya adalah masjid. Hal itu, jelas bukanlah sesuatu yang tanpa strategi.
Masjid memiliki keutamaan dan kedudukan yang agung dalam Islam. Selain menjadi rumah ibadah bagi kaum muslimin, masjid merupakan pusat keberkahan. Masjid artinya tempat bersujud dan sebutan lain masjid adalah mushalla, langgar atau surau. Masjid berasal dari kata “sajada” yang berarti sujud atau tunduk. Selain digunakan sebagai tempat salat dan berdzikir, masjid juga merupakan pusat kegiatan umat muslim seperti perayaan hari besar Islam, kajian agama, belajar Al-Qur’an. Bahkan keberadaan masjid memegang peranan penting dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Dalam satu hadis, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda:
ุฃูุญูุจูู ุงููุจูููุงุฏู ุฅูููู ุงูููููู ู ูุณูุงุฌูุฏูููุง ููุฃูุจูุบูุถู ุงููุจูููุงุฏู ุฅูููู ุงูููููู ุฃูุณูููุงููููุง
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar- pasarnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA)
Lalu, seperti yang kemudian kita ketahui, masjid -di samping fungsi utamanya sebagai pusat tempat ibadah- ia pun merupakan pusat aktivitas sosial dan budaya umat Islam. Dari dalam masjid, kegiatan ibadah, dakwah, pendidikan, kebudayaan, kesejahteraan, dan aspek-aspek kehidupan umat Islam lainnya dirancang dan dilaksanakan. Masjid adalah tempat melaksanakan segala aktivitas yang mencerminkan kepatuhan kita kepada Allah. Dengan demikian, masjid menjadi pangkal tempat umat Islam โberangkatโ untuk melaksanakan semua aktivitas kehidupannya, sekaligus menjadi ujung tempat umat Islam kembali โberlabuhโ. Dalam riwayat lain, orang yang pergi ke masjid pagi atau petang akan memperoleh pahala besar. Rasulullah SAW bersabda:
ู ู ุบุฏุง ุฅูู ุงูู ุณุฌุฏ ู ุฑุงุญ ุฃุนุฏ ุงููู ูู ูุฒูุง ู ู ุงูุฌูุฉ ููู ุง ุบุฏุง ู ุฑุงุญ
“Barangsiapa pergi pagi hari ke masjid, atau petang hari, akan Allah sediakan untuknya tempat di surga setiap kali dia pergi (pagi atau petang hari).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).
Pada Muktamar Risalatul Masjid di Mekkah, 1975, disepakati, masjid dikatakan berperan baik jika memiliki: 1).Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2).Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar-masuk tanpa bercampur dengan pria, baik digunakan untuk shalat maupun untuk membina ketrampilan mereka. 3).Ruang pertemuan dan perpustakaan. 4).Ruang poliklinik dan ruang untuk merawat jenazah. 5).Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.
Dengan demikian, masjid bukan saja tempat sujud (dalam arti sempit), tetapi juga tempat menujukan keseluruhan hidup dan kehidupan kita kepada Allah. Keseluruhan hidup artinya tidak hanya terbatas pada peribadatan sehari-hari, tetapi juga pada persoalan di luar shalat. Telah terbukti dalam setiap urusan, siapa saja yang mempersiapkan diri lebih baik akan mendapatkan hasil yan lebih baik. Bila di malam gelap ke Masjid dijanjikan cahaya sempurna di akhirat.
ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ุฃูููุณู ุนููู ุจูุฑูููุฏูุฉู ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ุจูุดููุฑู ุงููู ูุดููุงุฆูููู ููู ุงูุธููููู ู ุฅูููู ุงููู ูุณูุงุฌูุฏู ุจูุงูููููุฑู ุงูุชููุงู ูู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู
Dari Abdullah bin Aus dari Buraidah dari dar Nabi shallallahu โalaihi wasallam, beliau bersabda: โBerilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk shalat berjamaโah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti.โ [Sunan Abu Daud HN 474]
Waktu shalat Subuh dan Isya adalah waktu gelap. Waktu Isyaโ matahari telah tenggelam, dan waktu shubuh matahari belum terbit. Suasana lebih mencekam bila jalanan menuju masjid belum dipasang lampu penerangan. Apalagi bila mendung gelap. Kegelapan identik dengan kesulitan. Seseorang yang tetap memantapkan dirinya menuju masjid meskipun diliputi berbagai kesulitan, dijanjikan kemudahan yang digambarkan sebagai cahaya yang sempurna.
Orang yang hatinya terpaut dengan masjid adalah orang yang senang berada di masjid, selalu berusaha memakmurkannya, menjaganya dalam keadaan yang sebaik-baiknya, dan menjaga hak-haknya. Ia senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaโah di masjid. Bila melihat masjidnya kotor, ia mengusahakan agar segera bersih. Bila melihat ada bagian yang rusak, ia berusaha memperbaiki. Bila ada yang tak layak, ia mengusahakan agar menjadi layak. Bila ada yang tak sedap dipandang mata, ia berusaha merapikannya. Ia sangat mencintai rumah Allah tesebut dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.



