Artikel

Waktu yang Diam-diam Menghabiskan Kita

Tadabbur Malam (026)

Waktu yang Diam-diam Menghabiskan Kita

 

Kita sering merasa kehabisan waktu. Hari terasa singkat, usia terasa cepat. Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah kita yang mengejar waktu, melainkan waktu yang perlahan sedang menghabiskan kita—tanpa suara, tanpa aba-aba.

 

Hari demi hari berlalu begitu saja. Pagi berganti malam, pekan berubah bulan, dan tanpa sadar angka usia terus bertambah. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kehidupan dunia, karena ia hanyalah kesenangan yang menipu—indah di permukaan, rapuh dalam genggaman.

 

> “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

 

> Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia: waktu luang dan kesehatan. Bukan karena keduanya kecil, melainkan karena terlalu sering hadir. Ia terasa biasa, sampai suatu hari ia pergi dan tak bisa diminta kembali.

Baca Juga  Berlindung dari Sifat Pengecut

(HR. Bukhari)

 

Di situlah letak kelalaian manusia. Kita menunda kebaikan karena merasa masih ada esok. Kita menyepelekan hari ini karena yakin waktu masih panjang. Padahal tidak ada satu pun jaminan bahwa detik berikutnya masih menjadi milik kita.

 

Tadabbur malam mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya dengan jujur:

 

*untuk apa waktu hari ini dihabiskan?*

 

Sebab setiap detik yang berlalu bukan sekadar lewat, tetapi menjadi saksi—apakah ia membawa kita mendekat kepada Allah, atau justru menjauh tanpa disadari.

 

*Malam selalu datang sebagai pengingat yang setia.* Ia tidak menegur dengan suara keras, tetapi dengan kesunyian. Bahwa waktu tidak pernah kembali, namun ia selalu meninggalkan jejak. Dan kelak, jejak-jejak itulah yang akan kita temui kembali.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button