Educare Anak Nasyiatul Aisyiyah (EMINA) dan Reclaiming Ruang Aman: Menjawab Paradoks Pengasuhan di Era Modern
Oleh: Siti Zahroul Maqnuzah

muhammadiyahpekalongan.or.id I Dunia pengasuhan anak di Indonesia baru saja diguncang oleh kabar pilu dari Umbulharjo, Yogyakarta. Kasus kekerasan di daycare Little Aresha menjadi potret kelam bagaimana ruang yang seharusnya menjadi “benteng” perlindungan justru berubah menjadi tempat trauma bagi jiwa-jiwa mungil. Rekaman perlakuan kejam pengasuh terhadap anak-anak di sana tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga merobek rasa percaya para orang tua bekerja terhadap institusi pengasuhan formal.
Di tengah krisis kepercayaan ini, sebuah inisiatif menarik muncul dari akar rumput pergerakan perempuan di Kabupaten Pekalongan. Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Pekalongan menghadirkan EMINA (Educare Anak Nasyiatul Aisyiyah) dalam perhelatan Musyawarah Kerja Daerah (Musykerda) Pelatihan Mubalighot dan Kado Ramadhan beberapa waktu lalu. EMINA bukan sekadar ruang tunggu anak; ia adalah pernyataan sikap atas hak-hak perempuan dan keamanan anak.
Memutus Stigma: Aktivitas dan Ibu Muda
Selama ini, terdapat stigma yang menghantui perempuan muda: pilihan antara menjadi ibu rumah tangga seutuhnya atau menjadi perempuan aktif dengan risiko menelantarkan pengasuhan. PDNA Kabupaten Pekalongan melalui EMINA mencoba meruntuhkan dikotomi tersebut.

Ketua PDNA Kabupaten Pekalongan, apt. Ainun Muthoharoh, M.Farm., menegaskan bahwa menjadi ibu tidak seharusnya menghalangi perempuan untuk berkontribusi dalam dakwah dan sosial. EMINA dirancang sebagai solusi konkret. Saat para ibu berjibaku dengan materi kepemimpinan dan pelatihan mubalighot, anak-anak mereka tidak “dititipkan” dalam arti pasif, melainkan didampingi dengan pendekatan edukatif berbasis nilai Islam.
Ini adalah bentuk pengasuhan kolektif. Imanti Galih, salah satu kader, merasakannya sebagai sebuah kemewahan fungsional. Perasaan tenang karena anak terpantau dengan baik adalah kunci utama produktivitas perempuan. Inilah yang seharusnya menjadi standar dasar bagi setiap lembaga yang mengeklaim dirinya sebagai tempat penitipan anak.
Belajar dari Tragedi Little Aresha
Tragedi di Little Aresha Yogyakarta adalah pengingat keras bahwa aspek “keamanan” tidak boleh dikompromikan. Kekejaman yang terjadi di sana seringkali berakar dari kurangnya pengawasan, beban kerja pengasuh yang tidak manusiawi, hingga absennya nilai-nilai empati dalam manajemen institusi.
EMINA hadir dengan antitesis dari model pengasuhan dingin tersebut. Karena lahir dari rahim organisasi perempuan yang mengedepankan nilai spiritualitas dan kasih sayang, EMINA menempatkan pengasuhan sebagai bagian dari ibadah. Di sini, pengawasan dilakukan secara komunal. Ruang terbuka yang ramah anak memastikan tidak ada “sudut gelap” yang bisa memicu kekerasan tersembunyi.
Masa Depan: Menuju Daycare Berbasis Komunitas
Harapan para kader agar EMINA berkembang menjadi daycare harian bukan sekadar impian pragmatis. Ini adalah kebutuhan mendesak. Ke depan, kita membutuhkan lebih banyak model pengasuhan berbasis komunitas seperti EMINA untuk mengimbangi menjamurnya daycare komersial yang terkadang hanya mengejar profit tanpa kualitas sdm pengasuh yang mumpuni.
Gerakan dakwah Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah melalui EMINA sedang mengirimkan pesan kuat kepada publik: bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab kolektif. Kita perlu menciptakan lingkungan di mana setiap anak bisa tertawa meski orang tuanya sedang bekerja atau berorganisasi.EMINA PDNA Kabupaten Pekalongan telah terlaksana pada setiap kegiatan daerah. Sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi anak maupun bagi ibunya.
Kehadiran EMINA adalah oase di tengah gersangnya rasa aman bagi anak-anak kita. Jika institusi komersial gagal memberikan perlindungan, maka kekuatan komunitas—lewat organisasi perempuan yang berdaya—harus mengambil alih peran tersebut. Karena pada akhirnya, memuliakan perempuan berarti memastikan buah hati mereka berada di tangan yang penuh kasih, bukan di bawah bayang-bayang kekerasan.



