Menjadi Pelajar Kosmopolit: Dakwah Kreatif Muhammadiyah di Era Society 5.0
Oleh: Fachry Mei Sandi

muhammadiyahpekalongan.or.id | Dunia yang kita pijak di 2026 ini bukan lagi Dunia yang sama dengan puluhan tahun kebelakang. Kita telah melangkah jauh ke era Society 5.0. Jika dulu kita menganggap teknologi hanyalah alat bantu yang susah diakses, sekarang kecerdasan buatan (AI), robotika, dan Internet of Things sudah menjadi “teman sekamar” dalam keseharian kita. Namun, bagi kita yang bergiat di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), tantangannya bukan lagi sekadar gagap teknologi atau tidak. Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana kita tetap memegang teguh jati diri sebagai Muslim di tengah arus algoritma yang begitu kencang?.
Islam Berkemajuan: Bukan Sekadar Slogan belaka
Dalam sebuah sesi materi yang disampaikan Bapak Hamam Ph.D., kita diingatkan kembali tentang akar perjuangan kita: Risalah Islam Berkemajuan (RIB). Seringkali kita hanya meneriakkan “Islam Berkemajuan” sebagai yel-yel, padahal maksudnya sangat dalam. Islam Berkemajuan adalah ajakan bagi umatnya untuk tidak berhenti di tempat, melainkan harus unggul dalam segala bidang kehidupan.
Muhammadiyah sejak dulu tegak berdiri di atas tiga pilar utama: Feeding (kepedulian sosial), Schooling (pendidikan), dan Healing (kesehatan). Sebagai pelajar, tugas kita adalah menerjemahkan pilar-pilar ini ke dalam konteks kekinian. Kita harus mampu mewujudkan apa yang disebut sebagai ‘amal shalih yang dilembagakan’. Artinya, kebaikan yang kita lakukan jangan hanya bersifat sekadar viral sesaat. Lewat wadah IPM, kebaikan itu harus diorganisir dengan rapi agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.
Menata Niat: Dari Biologis Menuju Teologis
Bergerak di organisasi sebesar Muhammadiyah menuntut kita untuk jujur pada diri sendiri tentang motivasi apa yang membawa kita ke sini. Ada empat tingkatan mental yang perlu kita refleksikan bersama:
Bio Genetik: Sebagai lahan materialisme
Sosio Genetik: Sebagai basis cari pengaruh sosial
Idio Genetik: Sebagai medan aktualisasi
Theo Genetik: Sebagai tempat pengabdian
Jihad Pelajar: Menjadi Kosmopolitan yang Berintegritas
Bapak Andar Nubowo, Ph.D. menekankan bahwa intisari dari Islam Berkemajuan bagi pelajar adalah langkah jihad dalam menghadapi Society 5.0. Jihad kita hari ini bukan lagi di medan perang fisik, melainkan jihad intelektual. Syarat utamanya adalah memiliki sikap adaptif yang tinggi dan keberanian untuk terus berinovasi.
Kita tidak boleh kaku terhadap perubahan. Sebaliknya, pelajar IPM harus berada di barisan depan sebagai agen literasi dan pemikir kritis. Kita harus menjadi produsen, bukan sekadar konsumen. Kita harus menciptakan konten-konten positif dan solutif yang mampu mewarnai dunia digital.
Menjadi Kosmopolitan bukan berarti kita kehilangan akar budaya atau iman kita. Justru, seorang Kosmopolitan adalah warga dunia yang memiliki wawasan luas, fasih dalam teknologi, dan mampu bergaul di kancah global, namun hatinya tetap terpaut erat pada nilai-nilai Islam yang murni.
Kesimpulan
Menjadi kader IPM di era sekarang adalah sebuah panggilan untuk menjadi pemimpin yang dualistik: cerdas secara digital dan kokoh secara spiritual. Kita harus membuktikan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan membuat kita menjauh dari Tuhan, melainkan justru semakin kagum akan kebesaran-Nya.
Society 5.0 merupakan dakwah baru yang sangat luas untuk kita garap. Setiap unggahan, dan setiap aktivitas digital kita adalah bagian dari syiar Islam Berkemajuan. Mari terus belajar, terus berbagi, dan pastikan jejak digital kita adalah jejak-jejak kebaikan yang akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Nuun Wal Qolami Wamaa Yasthuruun.



