Khutbah Idul Fitri

khutbah Idul Fitri: Fitrah yang Dihidupkan atau Kebiasaan yang Diulang?

“khutbah Idul Fitri: Fitrah yang Dihidupkan atau Kebiasaan yang Diulang?”

Oleh: Asfal Fuad, M.Pd

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ يَوْمَ الْعِيْدًا لِعِبَادَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَخَتَمَ شَهْرَ رَمَضَانَ المُبَارَكَ لِلْمُخْلِصِيْنَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرَيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنَ. وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنُ.

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَي ألِهِ وَ أَصْحَبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَ مَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

فَيَا أَيُّهَا الإِخْوَانُ فِي الدِّيْنِ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَ الْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيِنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.

 

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahilhamdu

Ayyuhal hadhirin rahimakumullah

Segala puji kita panjatkan kepada Allah swt, yang telah memberikan kenikmatan iman dan Islam. Diseluruh penjuru dunia umat Islam mengucapkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai tanda kebesaran Allah swt. Dan atas kehendak Allah swt kita dapat berkumpul untuk melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri tahun 1447 H. Sebagai hari kemenangan umat Islam setelah 1 bulan melaksanakan ibadah puasa dibulan Ramadhan yang mulia.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa risalah dinul Islam hingga sampai kepada kita semua. Dan mudah-mudahan sebagai umat Islam kita dapat sedikit demi sedikit mengikuti Sunnah Rasul secara istiqomah dan sesuai dengan kemampuan.

 

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahilhamdu

Ayyuhal hadhirin rahimakumullah

Sebagai khotib saya mewasiatkan kepada diri sendiri dan kepada jamaah shalat Idul Fitri untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Hal ini dikarenakan, keimanan dan ketaqwaan adalah bekal kelak dihari akhir nanti, ketika harta, tahta, dan keluarga yang kita miliki dan dibanggakan di dunia sudah musnah dan tidak berguna lagi dihadapan Allah swt. Keimanan dan ketaqwaan yang diimplementasikan dalam bentuk keikhlasan beribadah yang akan membuahkan pahala yang dapat menolong kita di akhirat nanti. Selain itu, keimanan dan ketaqwaan tidak dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Maka kewajiban berdakwah adalah jalan untuk melanjutkan visi dan misi ajaran Islam, yaitu menyembah hanya kepada Allah swt.

 

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahilhamdu

Ayyuhal hadhirin rahimakumullah

Ramadhan merupakan bulan yang mulia, dimana Allah swt menetapkan dan mewajibkan untuk berpuasa, dengan menahan rasa lapar dan dahaga dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan ini, merupakan benteng penahan hawa nafsu manusia. Bagi yang melaksanakan puasa, seakan-akan ada benteng yang menahan kita untuk melakukan kemaksiatan. Pada hari ini 1 Syawwal 1447 H, ibarat manusia seperti bayi yang baru lahir, tanpa nafsu, tanpa rasa iri dan dengki, tanpa kemaksiatan, tanpa balas dendam, dan memiliki mata yang jernih.

Pagi ini adalah pagi yang agung. Pagi yang dipenuhi dengan gema takbir. Pagi yang dipenuhi dengan harapan ampunan dari Allah. Sebulan penuh kita ditempa oleh madrasah Ramadhan.

Menahan lapar. Menahan amarah. Menahan hawa nafsu. Dan hari ini kita merayakan Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah. Allah berfirman:

Baca Juga  KHUTBAH IDUL FITRI 1447 H : IDUL FITRI ADALAH HARI KEMENANGAN KITA

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30).

 

Namun pada pagi yang penuh berkah ini, ada satu pertanyaan besar yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri: Apakah kita benar-benar kembali menghidupkan fitrah… atau hanya kembali mengulang kebiasaan lama setelah Ramadhan berlalu?

 

Fitrah Manusia dan Akal yang Membedakan

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang suci.

Fitrah untuk mengenal Allah. Fitrah untuk mencintai kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Selain fitrah, Allah juga memberikan akal. Dengan akal manusia mampu: berpikir, menganalisis, membedakan Haq-Batil, Halal-Haram dan membedakan Baik-Buruk . Itulah hakikat fitrah manusia. Karena itu secara fitrah, manusia sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Manusia juga memiliki standar moral yang sederhana namun sangat dalam: Apa yang diterapkan kepada dirinya dan dia menerimanya dengan senang hati, maka jika itu diterapkan kepada orang lain, orang lain pun akan senang. Sebaliknya, Apa yang jika diterapkan kepada dirinya membuatnya sedih, tersakiti, bahkan marah, maka janganlah ia menerapkannya kepada orang lain. Inilah prinsip akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Madrasah Ramadhan: Menghidupkan Fitrah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ramadhan sejatinya telah menjadi madrasah untuk menghidupkan kembali fitrah manusia. Di bulan Ramadhan kita dilatih untuk: menahan diri, mengendalikan nafsu, jujur, menjaga lisan, dan memperbanyak ibadah. Hari-hari biasa mungkin seseorang mudah berbohong, hari-hari biasa mungkin seseorang ringan melakukan maksiat. Namun ketika ia berpuasa, bahkan ketika ingin melakukan dosa kecil saja, akalnya langsung bekerja. Akalnya berkata: “Allah sedang melihatku.” Jiwanya berkata: “Aku sedang berpuasa.” Hatinya berkata: “Ini bulan Ramadhan.” Saat itulah terjadi sesuatu yang luar biasa. Akal manusia langsung terkoneksi dengan tauhid. Ia merasakan kehadiran Allah dalam jiwanya. Sehingga puasa yang dilakuan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.Puasa adalah latihan menghidupkan kesadaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, di sinilah letak persoalan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Setelah Ramadhan selesai, setelah Idul Fitri berlalu, banyak manusia justru kembali kepada kebiasaan lamanya. Padahal akalnya masih sama. Fitrahnya masih sama, Al-Qur’annya masih sama. Namun perilakunya berubah kembali.

Ramadhan mengajarkan kejujuran, tetapi setelah Ramadhan masih ada yang kembali kepada kebohongan. Ramadhan mengajarkan kesabaran, tetapi setelah Ramadhan masih ada yang mudah marah. Ramadhan mengajarkan kepedulian, tetapi setelah Ramadhan masih ada yang tega menyakiti orang lain. Inilah kontroversi besar dalam kehidupan manusia: Manusia tahu mana yang benar, tetapi tidak selalu memilih yang benar. Allah sudah menunjukkan dua jalan: jalan kebaikan dan jalan keburukan. Akal manusia mampu membedakannya.

Namun sayangnya, ketika diuji dengan dunia, dengan masalah kehidupan, dengan godaan harta, jabatan, dan kepentingan, masih banyak manusia yang justru memilih jalan kemaksiatan. Karena itu sebenarnya manusia tahu ketika ia berbuat salah. Namun dalam kehidupan modern hari ini, sering kali manusia mengabaikan suara fitrahnya sendiri. Ia tahu yang benar… tetapi tidak melakukannya. Ia tahu yang salah… tetapi tetap melakukannya.

Baca Juga  Janji yang Pernah Kita Ucapkan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jika Ramadhan sejatinya menghidupkan kembali fitrah manusia, maka salah satu fitrah yang paling kuat dalam diri manusia adalah fitrah untuk berbuat baik kepada orang tua. Karena ketika akal manusia benar-benar jernih, ketika hati manusia benar-benar hidup dengan tauhid, maka salah satu kebaikan pertama yang akan muncul dalam dirinya adalah rasa hormat, cinta, dan bakti kepada ayah dan ibunya. Sebab setiap manusia yang jujur kepada akalnya akan menyadari satu kenyataan besar dalam hidupnya

Tidak ada manusia yang lebih tulus mencintai kita sejak kita lahir, selain orang tua kita. Namun di sinilah sering terjadi ironi dalam kehidupan manusia. Ramadhan telah melatih kita untuk jujur, sabar, dan peduli kepada sesama, tetapi terkadang orang yang paling dekat dengan kita justru yang paling sering kita abaikan.

Kita mampu tersenyum kepada banyak orang, tetapi kadang lupa bertanya kepada ibu kita:

“Ibu sehat?” Kita mampu menghormati banyak orang, tetapi kadang jarang menanyakan kepada ayah kita: “Ayah bagaimana kabarnya?” Padahal, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah setelah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, langsung memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan orang tua dalam Islam. Allah berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)

 

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa tauhid kepada Allah tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus tercermin dalam akhlak kepada orang tua. Karena seseorang yang benar-benar menghadirkan Allah dalam hatinya, tidak mungkin ia tega menyakiti hati ayah dan ibunya. Namun dalam realitas kehidupan, sering kali terjadi sesuatu yang menyedihkan. Ketika manusia masih kecil, ia sangat membutuhkan orang tuanya. Namun ketika ia telah dewasa, ketika ia telah memiliki pekerjaan, jabatan, dan harta, justru sering kali ia mulai lupa. Ia sibuk dengan urusan dunianya. Ia bangga dengan jabatan yang dimilikinya. Ia bangga dengan harta yang berhasil dikumpulkannya.

Namun dalam kesibukan itu, terkadang tanpa disadari hubungannya dengan Allah justru semakin jauh. Ibadah mulai berkurang, ketaatan mulai melemah, dan perhatian kepada orang tua pun perlahan mulai berkurang. Padahal sering kali yang dibanggakan oleh seorang anak bukanlah yang paling diharapkan oleh orang tuanya. Anak merasa telah membahagiakan orang tuanya karena membawa pulang harta, jabatan, dan keberhasilan dunia.

Padahal sesungguhnya, orang tua tidak hanya ingin melihat anaknya sukses secara dunia. Mereka tidak hanya ingin anaknya kaya. Yang paling mereka harapkan adalah anak yang shalih, anak yang taat kepada Allah, anak yang hidupnya bermanfaat bagi orang lain, dan anak yang tidak pernah lupa mendoakan kedua orang tuanya dalam setiap sujudnya.

 

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Banyak orang tua yang tidak menangis karena anaknya hidup sederhana. Banyak orang tua yang tidak sedih karena anaknya tidak memiliki jabatan tinggi. Tetapi ada orang tua yang diam-diam menangis dalam doanya… ketika melihat anaknya semakin jauh dari Allah.

Ada ibu yang tidak pernah mengeluh ketika rumahnya kecil. Tetapi hatinya sangat sedih ketika melihat anaknya jarang shalat. Ada ayah yang tidak kecewa ketika anaknya tidak menjadi orang kaya.

Baca Juga  Khutbah Idul Fitri 1446 H / 2025 : Momentum Membentuk Kesalehan Diri dan Sosial

Tetapi hatinya sangat terluka ketika melihat anaknya tidak lagi mengenal Al-Qur’an.

Karena bagi orang tua yang beriman, kebahagiaan terbesar mereka bukanlah melihat anaknya kaya, tetapi melihat anaknya dekat dengan Allah. Bukan bangga karena anaknya terkenal di dunia, tetapi bangga karena anaknya taat kepada Tuhannya. Dan barangkali di sepertiga malam ketika kita sedang tidur, ada seorang ibu yang diam-diam mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah…

jadikanlah anakku anak yang shalih… jangan Engkau jauhkan ia dari jalan-Mu…”

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Doa seperti inilah yang sering kali menjadi penyelamat kehidupan seorang anak. Dan pada saat yang sama, justru doa anak pula yang kelak akan menyelamatkan orang tuanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ

“Jika manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara.”

Salah satunya:

وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)

 

Bayangkan… Ketika orang tua kita berada di dalam kubur. Gelap dan Sunyi. Tidak ada harta yang menemani mereka. Namun tiba-tiba pahala mengalir kepada mereka. Dari mana pahala itu datang? Dari doa seorang anak yang berkata:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil.”

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari ini adalah hari yang paling indah untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang tua. Jika mereka masih hidup… Peluklah mereka. Cium tangan mereka. Mintalah maaf dengan tulus. Jika mereka sudah tiada… Jangan berhenti mendoakan mereka. Karena boleh jadi kita sukses di dunia. Tetapi keselamatan kita di akhirat justru datang dari ridha orang tua kita.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian baru. Bukan hanya tentang makanan enak. Bukan hanya tentang berkumpul bersama keluarga. Tetapi Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada fitrah yang sejati: fitrah tauhid, fitrah kebaikan, fitrah kasih sayang, dan fitrah berbakti kepada orang tua.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah merahmati kedua orang tua kita. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang shalih yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

 

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button