Kembali ke Al-Qur’an, Jalan Menuju Makna Taqwa Idul Fitri yang Sesungguhnya

muhammadiyahpekalongan.or.id | KEDUNGWUNI – Menutup rangkaian Ramadan, pesan mengenai makna taqwa Idul Fitri disampaikan dengan lugas di Desa Tangkil Kulon sebagai ajakan bagi jamaah Masjid Al Mujahidin untuk menjadikan aturan Allah sebagai pengatur hidup yang utama, Jumat (20/3/2026).
Bertindak sebagai Imam sekaligus Khatib, Najmuddin Mashuri, Lc., menekankan bahwa Idulfitri adalah momentum untuk meraih derajat ketakwaan yang sesungguhnya. Ia mengingatkan bahwa taqwa memiliki indikator yang jauh lebih dalam daripada sekadar atribut lahiriah atau partisipasi dalam perayaan besar Islam.
”Apakah seseorang dikatakan bertaqwa hanya lantaran hobi menghadiri peringatan besar Islam, sedangkan hati dan pikirannya menolak hukum Allah? Ataukah mereka yang membangun masjid namun tindakannya justru menghalangi orang untuk sujud kepada Allah?” tegas Najmuddin dalam orasinya.
Waspadai Perusakan Fitrah Manusia
Lebih lanjut, Najmuddin memberikan peringatan keras mengenai munculnya perilaku jahiliyah modern yang merusak fitrah Islami manusia. Menurutnya, ketika ketakwaan telah hilang dari jiwa, maka akan muncul penguasa yang zalim serta orang-orang kaya yang tamak tanpa mempedulikan halal dan haram.
Ia juga menyoroti bahaya munculnya pemuka agama yang menyalahgunakan ilmu untuk melegitimasi kepentingan tertentu. Najmuddin merefleksikan sejarah kelam zaman Nabi Musa AS, di mana persekutuan antara penguasa yang kejam (Firaun), pengusaha yang tamak (Karun), dan pemuka agama yang jahat (Bal’am) telah menghancurkan tatanan sosial.
Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah
Sebagai solusi, Najmuddin Mashuri mengajak seluruh lapisan masyarakat di Desa Tangkil Kulon untuk konsisten kembali kepada dua pegangan utama, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Ia menegaskan bahwa karena Allah yang menciptakan manusia, maka hanya aturan Allah yang paling cocok untuk mengatur hidup manusia.

Usai rangkaian salat dan khutbah berakhir, suasana khidmat ditutup dengan tradisi bersalam-salaman antarwarga di halaman masjid sebagai simbol saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi di hari kemenangan ini.



