Memikirkan Kehinaan Dunia
Pada suatu hari, Usman bin Affan pergi menemui Zaid bin
Tsabit yang baru saja keluar dari tempat kediaman Marwan. Dalam hati, Usman
bertanya-tanya, ada apakah ia gerangan pada saat seperti ini? Aku yakin, pasti
ada sesuatu yang penting ia bawa.” Usman mendekati Zaid dan langsung bertanya,
”Ada apa gerangan wahai Zaid?” Zaid menjawab, ”Aku membawa sesuatu yang aku
dengar langsung dari Nabi SAW.” Usman bertanya lagi, ”Apa yang Nabi SAW
sabdakan kepadamu?” Zaid menjawab, ”Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang
menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan
yang diinginkannya (dunia), lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di
pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada
setiap manusia sesuai dengan yang telah Ia tetapkan. Tapi siapa yang menjadikan
akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan
mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat
hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk
menerimanya’. (HR Ibnu Majah dari Usman bin Affan).
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang
dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah
segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperoleh kesenangan hidup
di dunia. Karena itu pikirkanlah bahwa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw.,
“Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi
dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan
sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi
apakah ia.” (Thabrani).
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran
kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan
yang ada di dalamnya. Kehidupan dunia seringkali membuat manusia terlena dan
tidak mengingat bahwa kehidupan tersebut tidaklah abadi. Dalam kehidupan dunia,
manusia melewati fase-fase tertentu dan dalam setiap fase kehidupan tersebut
manusia mengalami berbagai macam hal.
Manusia sendiri tidak bisa mengatur apakah dirinya akan
lahir didunia dan dimana ia akan dilahirkan, semuanya sudah diatur oleh Allah
SWT. Suka ataupun tidak, setiap manusia yang terlahir di dunia harus menjalani
kehidupan dan berusaha untuk bertahan hidup dengan segala kemampuannya.
Namun demikian, apakah kita benar-benar sudah mengerti
mengenai apakah sebenarnya dunia itu dan bagaimana pandangan Islam tentang
dunia ? Ketahuilah bahwa al-dunyaa daar al-agyaar (dunia itu tempat berubah),
al-dunnya daar al-ikhtibar (dunia itu tempat ujian), al-dunya daar al-akhyar
(dunia itu tempat memilih).
Pertama, al-dunya daar al-aghyar (dunia itu tempat berubah).
Segala sesuatu di dunia pasti mengalami perubahan baik positif maupun negatif.
Waktu tak selamanya siang, pasti berganti malam. Musim tak selamanya panas,
pasti berganti hujan. Perut tak selamanya kenyang, pasti merasakan lapar. Hari
ini kita bahagia, bisa jadi esok kita bersedih. Begitupun jabatan, tak
selamanya posisi kita di atas, kadang bisa jadi kita di bawah. Begitulah sifat
dunia dan kehidupan di dalamnya.
Oleh sebab itu, kita mesti memahami setiap perubahan
tersebut dan menghadapinya secara bijak dan menerima.
Dunia menurut islam hakikatnya hanyalah permainan dan
sifatnya fana atau tidak abadi. Dunia adalah tempat dimana manusia hidup dan
beraktifitas serta menjalankan segala urusannya terutama untuk beribadah kepada
Allah SWT. Dunia diciptakan oleh Allah beserta isinya untuk mendukung kehidupan
manusia dan memenuhi segala kebutuhannya, meskipun demikian keindahan dunia dan
segala yang ada di dalamnya justru membuat manusia lupa atas tujuan
penciptaannya dan melupakan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Al-hadid
ayat 20 bahwa dunia ini sebenarnya hanya permainan belaka, sebagaimana yang
disebutkan berikut ini
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي
الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ
ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ
عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs Al Hadid ; 20)
Kedua, al-dunya daar al-ikhtibar (dunia itu tempat ujian).
Segala bentuk perubahan situasi dan kondisi kehidupan
merupakan sebuah ujian. Perubahan positif maupun perubahan negatif tetap
merupakan sebuah ujian.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan,
Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang
nyata. Dan, hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan (QS al-Anbiya : 35).
Sesungguhnya, kebahagiaan dan kesedihan itu samasama
merupakan ujian. Ketika kita bahagia, hakikatnya Allah SWT sedang menguji kita,
apakah kita bersyukur atau malah lupa akan nikmat-Nya. Begitupun ketika kita
diberi musibah berupa kesedihan. Hakikatnya, Allah menguji apakah kita mampu
bersabar atau malah tidak menerima ketentuan-Nya. Karena itu, mesti kita sadari
segala bentuk ujian Allah harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal.
Ketiga, al-dunya daar al-Ikhtiyar (dunia itu tempat
memilih).
Allah memberikan kebebasan dan memberikan batasan.
Selanjutnya, kita yang akan memilih dan kita pula yang akan bertanggung jawab
atas pilihan kita. Allah menciptakan surga dan neraka, merupakan bukti
keadilan-Nya yang agung. Surga sebagai balasan orang yang memilih jalan
kebenaran dan neraka sebagai balasan orang yang memilih jalan keburukan.
Ada perintah dan ada larangan Allah, ada perkara yang halal
dan ada pula yang haram. Semua itu ketentuan Allah bagi manusia dan manusia
yang akan menentukan pilihan serta menerima balasan atas pilihannya. Kaya dan
miskin, sukses dan tidak sukses, itu pun tergantung pilihan kita. Orang yang
ingin kaya dan sukses pasti memilih bekerja keras dan memaksimalkan usahanya.
Orang malas dan tidak mau berusaha akan berada dalam kemiskinan.
Itulah sunatullah. Tiga sifat kehidupan dunia tersebut
ternyata saling berhubungan. Dunia yang selalu berubah akan diiringi cobaan.
Ketika cobaan datang, kita yang akan menentukan pilihan. Semoga kita bisa
menentukan pilihan yang terbaik untuk menentukan masa depan kita di akherat.
ditulis oleh : Drs. H. Ahmad Sulaiman, Wakil Ketua PDM Kabupaten Pekalongan



