Artikel

Spirit Tahajud #25 : Menggapai Cahaya Allah

Salah satu kerugian manusia yang
sangat besar adalah menyia-nyiakan waktu istirahatnya di malam hari dengan
berbagai hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Banyak hal yang bisa kita
lakukan, misalnya kita habiskan dengan tadarus Al-Qur’an, berkhalwat dengan
Allah Ta’ala dikala manusia yang lain terlelap tidur, atau mengerjakan shalat.

Salah satu hal yang membuat manusia
rugi adalah karena pada waktu tersebut Allah Ta’ala menawarkan suatu keuntungan
yang sangat besar bagi orang-orang yang mau pergi menuju masjid saat malam
gelap untuk melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjama’ah, yakni akan
diberikan padanya cahaya yang sempurna di hari kiamat kelak. Hal ini ditegaskan
dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw,  bersabda:

بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ
إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ

Artinya: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
suka pergi berjalan kaki di malam gelap ke masjid-masjid, yaitu bagi mereka
cahaya yang sempurna di hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Cahaya yang sempurna pada hari kiamat
kelak, inilah keuntungan yang jauh lebih besar daripada gaji yang kita dapatkan
dengan bekerja di malam hari. Bahkan, boleh jadi cahaya tersebut juga Allah
berikan kepada kita di dunia ini sebagaimana hal ini pernah terjadi di masa
Rasulullah Saw. Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata:

أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ
الْمِصْبَاحَيْنِ يُضِيئَانِ بَيْنَ أَيْدِيهِمَا فَلَمَّا افْتَرَقَا صَارَ مَعَ
كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أَتَى أَهْلَهُ

Baca Juga  Tinggalkan Hidup Berangan-angan

Artinya: “Dua orang laki-laki diantara sahabat-sahabat Nabi
Saw, keluar dari sisi Nabi pada suatu malam yang gelap gulita dan bersama
keduanya terdapat sesuatu seperti lampu yang menerangi di hadapan mereka. Saat
keduanya berpisah, maka tiap seorang dari keduanya ditemani dengan satu cahaya
sehingga sampai ke keluarga mereka masing-masing.” (HR. Bukhari)

Orang yang mendirikan shalat Shubuh
akan mendapat cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Shalat Shubuh merupakan
sumber dari segala sumber cahaya di Hari Kiamat. Di hari itu, semua sumber
cahaya di dunia padam. Matahari akan di gulung dan bintang-bintang pun
berjatuhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ (١) وَإِذَا
ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ (٢)

Artinya: “Apabila matahari di gulung. Dan apabila
bintang-bintang berjatuhan.” (Qs. At-Takwir : 1-2)

Jika ingin melihat kiamat, bayangkan
matahari digulung. Wow. Para ahli mengatakan, matahari adalah pusat tata surya
kita. Bintang yang satu ini sangat istimewa karena perannya sangat menentukan
bagi kehidupan di Bumi. Sehari saja matahari tak menunaikan tugasnya, entah
jadi apa bumi kita ini. 

Allah swt mengungkapkan pada ayat
pertama ini bahwa matahari kelak akan “digulung” atau (dalam bahasa Arab)
“kuwirat”. Ungkapan “kuwwirat” ini menarik untuk dicermati. Menurut Imam Al-Alusi,
kata ini diambil dari asal kata “kara” yang berarti melipat kain menjadi surban
di kepala. Pada masyarakat Arab, memakai surban (imamah) adalah tradisi yang
telah berlangsung ribuan tahun. Untuk menunjukkan betapa mudahnya menggulung
matahari bagi Allah, maka Allah memberi perumpamaan sebagaimana mudahnya
orang-orang Arab menggulung kain menjadi surban.

Baca Juga  Raih Rahmat Kasih Sayang Allah

Ayat kedua: Dan apabila
bintang-bintang berjatuhan. Diriwayatkan dari Abu Shaleh dari Ibn Abbas
berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Pada hari (kiamat) itu, tidak
tersisa di langit satu bintang pun kecuali seluruhnya berjatuhan ke atas bumi.
Hingga, hingga lapisan bumi ketujuh terbawa ke atas dan menimpa yang di
atasnya.” Bayangkan, bintang gemintang yang entah berapa jumlahnya, kelak akan
hancur berjatuhan. Kata Ibn Abbas, sesungguhnya peredaran seluruh bintang
dijaga oleh malaikat. Jika lonceng kematian dibunyikan, maka seluruh makhluk
yang bernyawa akan mati. Malaikat penjaga bintang pun akan selesai menunaikan
tugasnya. Pada posisi seperti itulah bintang akan berjatuhan.

Manusia di bangkitkan dalam keadaan
gelap gulita. Gelap yang berlipat ganda. Saat itu, manusia sangat membutuhkan
cahaya supaya bisa meraba jalannya, agar bisa melewati kumpulan orang-orang
yang begitu banyak jumlahnya. Tatkala melewati Sirath (jembatan di akhirat),
cahaya sangat dibutuhkan. Sirath ini mengerikan kondisinya. Tidak akan ada yang
bisa melewati, kecuali orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Orang-orang yang bisa memperoleh  pancaran cahaya Ilahi tersebut adalah seperti
berikut:

1.    Mereka yang
gemar mendirikan shalat; baginya shalat bukan lagi sebagai kewajiban atau beban
yang memberatkan, tetapi sudah merupakan kegemaran yang menyenangkan, maka
baginya shalat tak terbatas hanya yang fadhu belaka, tetapi ia tak melupakan
shalat-shalat sunat, seolah-olah shalat sudah menjadi menu/santapan
kesukaannya.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Ranting Simbang, Cabang Doro – Pekalongan

2.    Mengeluarkan
zakat; sebagai lambang kepedulian sosial, ia memiliki kepedulian sosial yang
tinggi, gemar berbagi antar sesama, hatinya pilu-gelisah jika ada atau melihat
saudaranya yang menderita. Setiap saat siap memberi miliknya kepada orang lain,
– berupa tenaga, pemikiran atau harta – terutama kepada yang membutuhkannya.
Senantiasa bertasbih, zikir dimana dia berada, terutama di rumah-rumah Allah
(mesjid) pagi dan sore; duduk bertasbih, berdiri bertasbih, di rumah dan di
kantor tempat kerja, sambil bertasbih. Tasbih menjadi cemilannya.

3.    Mereka yang
tidak dilalaikan oleh urusan duniawi – seperi perdangan, jual beli,
kedudukan,  pangkat, jabatan dan berbagai
bisnis lainnya – dari mengingat Allah swt. Bahkan semua itu ia jadikan alat
pendorong untuk lebih dekat dan tetap berdzikir mengingat Allah.

4.     Mereka takut
akan satu hari yang ketika itu hati dan penglihatan manusia bergoncang. Takut
jika ketika berhadapan dengan Allah nanti, tidak mendapat ucapan selamat dan
ridha dari Allah Swt. Orang yang akan mendapat ridha Allah adalah yang datang
dengan hati yang bersih dan sehat “man ata Allah bi qalbin salim”.

ditulis oleh : Drs. H. Ahmad Sulaiman, Wakil Ketua PDM Kabupaten Pekalongan 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button