🌻 SPIRIT TAHAJUD (310) 0911🌻
Akibat Lengah Dari Kehidupan Dunia
Janganlah kita terus-menerus lengah hidup di dunia, supaya tidak sengsara hidup di dunia dan di akhirat.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Meeka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar di hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini”. (Qs. Al-a’raf : 172).
Menurut KBBI. Lengah adalah lalai; kurang perhatian; kurang berhati-hati; kurang awas. Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat. Hal ini sebagaimana firman Allah Taala,
خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)
Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih. Allah Taala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Dia tertipu dengan dunia, sehingga sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dia habiskan dunia ini, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta saja atau hanya untuk berlomba-lomba dalam teknologi. Hal ini sebagaimana kondisi orang-orang kafir saat ini. Mereka habiskan dunia ini untuk sesuatu yang tidak abadi.
Oleh karena itu, dunia ini dicela bukan semata-mata karena dunia itu sendiri, akan tetapi dicela karena kesalahan kita dalam memanfaatkan dunia. Sebagaimana pisau, bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, bisa juga digunakan untuk hal-hal yang merusak, seperti berbuat kejahatan. Demikianlah perumpamaan dunia, yaitu bagaimana kita memanfaatkannya.
Ustad Adi Hidayat mengatakan, Al-Qur’an telah memerinci bahwa terdapat lima hal utama yang dapat menjadikan manusia larut dan lengah dalam kesenangan dunia. Adapun lima hal yang dapat menjadikan manusia larut dalam kesenangan dunia adalah:
Pertama, La’ibun, (permainan). Ketika kita melakukan permainan yang disenangi seperti bermain sepeda, bermain bola, dan bermain bulu tangkis, akan merasa bahagia. Namun, itu semua hanyalah sementara karena terikat dengan sifat dunia yang semu. “Karena itu, tidaklah mengherankan bila permainan telah usai, maka hilanglah kebahagiaan,”.
Kedua, Lahwun kesibukan yang melalaikan. Coba kita perhatikan aktivitas orang-orang di sekitar kita. Di antara mereka ada yang larut dalam kesibukan demi berlomba meraih pencapaian semu dunia. Ada yang sibuk bekerja di kantor, transaksi di pasar, belajar di kampus, hingga berjejalan di pelataran jalan-jalanan. “Uniknya seluruh kesibukan ini dikatakan dapat membuat sebagian kalangan justru merasa bahagia hingga lalai meniti surga,”.
Ketiga, Zinah, (perhiasan). Dunia dan segala yang ada ini adalah perhiasan. Segala yang menyajikan keindahan tampilan, umumnya menghadirkan rasa bahagia sesaat kala mendapatinya. Misalnya saat mengenakan pakaian baru, mendapati jam baru, maka akan terasa bahagia. Demikian juga bagi perempuan yang mengenakan kalung baru, cincin baru, juga gelang baru tentu bahagia. “Namun semuanya itu hanyalah aksesoris kehidupan dunia. Saat itu melekat, maka terasa membahagiakan, begitu hilang maka putuslah kebahagian. Tidak abadi,”.
Keempat, Tafakhur (saling berbangga). Dalam hal ini jenis tafakhur bermacam-macam. Terkadang nampak pada peningkatan status sosial atau bahkan pengetahuan. Kedudukan, promosi jabatan membuat orang bahagia. Selain penghormatan dan penghargaan juga mendapat fasilitas yang tidak diraih sebelumnya. Semula menggunakan motor segala sekarang berganti mobil. Makan pintunya pun dibukakan orang lain. “Saat masa purna itu tiba, maka kebahagiaan pun mulai menuju senja lantas sirna. Tidak sedikit di antara pendamba kedudukan mengalami post power syndrome demi mengenang masa kebahagiaan semua itu,”.
Kelima, Takatsur fil amwal wal-aulad (memperbanyak harta dan keturunan). Pada bagian terakhir ini yang paling menjadikan manusia larut dalam kesenangan semu dunia ialah berlomba memperbanyak harta dan keturunan. Para pengusaha larut dalam kebahagiaan saat omzet mulai meningkat, keuntungan datang. Perkumpulan pun mulai dibuat untuk berlomba meningkatkan harta dan kenikmatan semu dunia. “Namun ketika mengalami kerugian maka mulai datang rasa gelisah. Terlebih saat omset menurun, terlambat membayar tagihan, kebahagiaan pun sirna,”.
Dalam hal-hal keturunan, Ada rasa bahagia saat putera mulai terlahir, tumbuh, hingga bermain dengan anak tetangga. Perbincangan tentang anak seringkali menyajikan kesenangan dan harapan untuk menambah jumlah pada saat itulah ada rasa kebahagiaan. Namun, itu hanya sementara. Akan tiba saatnya, kala ajal datang menjemput dan mengikis kebahagiaan dunia yang telah larut. Di situlah orang tua sadar bahwa anak adalah titipan akan kembali kepada pemiliknya.
Sejatinya semua hal yang tersebut di atas hanyalah kebahagiaan semu. Jika kita merasa senang dengan urusan dunia maka itu sementara karena ketika hilang dari kita maka berkuranglah kebahagiaan. “Di sinilah kita temukan bahwa kebahagiaan sejati hanyalah terakhir di akhirat, kebahagian yang sifatnya luas tanpa batas, melekat abadi, pada setiap aktivitas,”.
Rasulullah saw. pernah menyampaikan bahwa “Allah azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia”. Demikian puncak kenikmatan surga yang tidak pernah dipandang sebelumnya, tidak pernah dengar kisahnya atau sekedar terlintas dalam fikiran. Berbagai limpahan nikmat yang begitu membahagiakan.
Disebutkan dari Anas ra, bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda, “Bukanlah yang terbaik di antara kamu orang yang meninggalkan urusan dunia karena mengejar urusan akhirat, dan bukan pula orang yang terbaik orang yang meninggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah perantara yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.”
Hadist tersebut di atas menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan di samping kehidupan di akhirat. Islam tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia.
Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan ke akhirat. Kita hidup di dunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, manusia perlu makan, munum, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga dan sebagainya, semua ini harus kita cari dan kita usahakan. Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, kita umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah, sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari. Wallahu a’lam bis showab. 🙏


