Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan Minta Pengurus Lazismu Pahami SDG’s
Pekalongan – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Amat Sulaiman, meminta seluruh jajaran Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) se-Kabupaten Pekalongan memahami tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) dalam upaya mewujudkan tema sinergi kebajikan untuk inovasi sosial dan capaian SDG’s, saat membuka acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Lazismu Kabupaten Pekalongan, Sabtu, 21 Desember 2024 di Hotel Dafam Pekalongan, Jl. Urip Sumoharjo No. 53 Pekalongan.
Dihadapan seratus peserta Rakerda Lazismu Kabupaten Pekalongan yang terdiri dari 26 Kantor Layanan Lazismu se-Kabupaten Pekalongan, 17 Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan (tingkat kecamatan) dan satu Pimpinan Ranting Muhammadiyah Perumahan Puri Kedungwuni, Sulaiman memaparkan tiga prinsip SDG’s antara lain integratif, inklusif dan leave no one behind.
“Integratif artinya penyatuan, atau penggabungan beberapa aspek dalam satu proses sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh”, tutur Sulaiman.

Sulaiman menjelaskan bahwa Lazismu Kabupaten Pekalongan terdiri dari Kantor-kantor Layanan ditingkat Cabang (Kecamatan) dan Amal Usaha Muhammadiyah jika berjalan sendiri-sendiri tidak akan mampu memberikan manfaat yang signifikan.
“Kalau berjalan sendiri-sendiri gak kuat, maka harus digabung menjadi satu. Sapu lidi kalau cuma lidi satu tidak kuat, tapi kalau lidi itu kemudian kita gabung menjadi sapu lidi, bisa untuk menyapu apa saja yang bisa mengotori dan bisa menjadi kekuatan. Oleh karena itu, Lazismu yang ada di amal usaha Muhammadiyah maupun di cabang harus menggabungkan diri dibawah Lazismu Kabupaten Pekalongan. Kalau Ketua Badan Pengurus Lazismu mencanangkan manajemen satu atap, ibarat kita punya imam, maka sebagai makmum harus sami’na wa ‘atho’na, sehingga nanti manfaatnya bukan hanya dari kita saja, tapi semua akan merasakan manfaatnya”, tutur Sulaiman.
Sulaiman juga menjelaskan prinsip SDG’s yang kedua, yaitu inklusif, menyeluruh, melibatkan semua orang dari berbagai kelompok dan tidak meninggalkan salah satupun.
“Penting melibatkan seluruhnya. Bahasane ning Pekalongan (bahasa di Pekalongan) udkluhu fissilmi kaaffah. Jadi jangan kita jangan ragu-ragu, semua elemen yang ada di Muhammadiyah seluruhnya menyatu dalam satu kesatuan, seperti yang dilaporkan Ketua Badan Pengurus ada Lazismu yang di daerah sudah satu atap, selama ini saya tahu Lazismu Banyumas yang menghimpun seluruh keuangan yang ada di amal usaha Muhammadiyah melalui Kantor Layanan. Misalnya Kantor Layanan Pekajangan dengan ZIS 50 juta dapatnya nisbah kecil, tapi kalau seluruh Kantor Layanan dijadikan satu di Lazismu Kabupaten Pekalongan, maka nisbahnya akan besar, uangnya milyaran”, tutur Sulaiman
Sulaiman menjelaskan prinsip yang ketiga yaitu leave no one behind, setiap orang akan memperoleh manfaat tidak peduli siapa dia dan dimana dia.
“Lazismu sudah membuktikan tidak peduli siapa dia yang mendapat program bedah rumah misalnya, kita tidak mengenal siapa dia, kebetulan di Wonokerto, nanti lain waktu dimana lagi, kita bisa memberi manfaat kepada siapapun sesuai taglinenya lazismu, memberi untuk negeri”, ungkap Sulaiman.

Pembukaan Rakerda Lazismu Kabupaten Pekalongan sendiri dihadiri oleh Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Tengah, Ir. Akhmad Zaeni, MM, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Pekalongan, Rumainur, Pimpinan Bank Danamon Syariah Pusat, Bank Syariah Indonesia Kantor Cabang Kajen, Tim Gawe Rumah Kabupaten Pekalongan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan dan jajaran Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Pekalongan. (Fakhrudin)



