Artikel

Namimah: Racun Sunyi yang Meretakkan Persaudaraan

Oleh Rosichudin

muhammadiyahpekalongan.or.id | Di tengah kehidupan yang tampak rukun, sering kali keretakan justru berawal dari hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Bukan dari pertengkaran besar atau perbedaan prinsip yang tajam, melainkan dari bisik-bisik yang dipindahkan dari satu telinga ke telinga lain. Dalam tradisi Islam, perilaku ini dikenal sebagai namimah—sebuah kebiasaan yang kerap dianggap sepele, padahal dampaknya bisa merusak sendi-sendi persaudaraan.

 

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan dicatat oleh Imam Bukhari menggambarkan betapa seriusnya perkara ini. Dikisahkan, ketika Nabi Muhammad melewati sebuah kebun di Madinah atau Mekkah, beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kubur. Nabi menjelaskan bahwa keduanya disiksa bukan karena dosa yang dianggap besar oleh pelakunya. Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sementara yang lain terbiasa melakukan namimah—mengadu domba.

 

Hadits ini memberi pesan yang tegas: ada dosa yang kerap diremehkan, padahal konsekuensinya tidak ringan. Namimah termasuk di dalamnya. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk fitnah besar atau kebohongan terang-terangan. Kadang ia hanya berupa kalimat sederhana yang dipindahkan tanpa pertimbangan, tetapi dengan efek yang merusak hubungan.

 

Menurut penjelasan Imam Nawawi, namimah adalah menyampaikan ucapan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka. Definisi ini penting, karena menunjukkan bahwa inti dari namimah bukan sekadar “menyampaikan informasi”, melainkan niat dan dampaknya. Ketika sebuah perkataan dipindahkan hingga memicu kebencian, prasangka, atau permusuhan, di situlah namimah bekerja.

Baca Juga  Pitulasan Ala Masyarakat Kampung : Wujud Cinta Tanah Air Merayakan Kemerdekaan Indonesia

 

Dalam praktik sehari-hari, bentuknya bisa sangat beragam. Tidak selalu berupa cerita yang dilebih-lebihkan. Bahkan kalimat yang benar sekalipun, jika disampaikan tanpa hikmah dan hanya untuk memancing konflik, tetap masuk dalam kategori ini. Namimah bisa hadir dalam obrolan santai, percakapan grup, bahkan dalam bentuk isyarat atau tindakan yang sengaja memperkeruh suasana.

 

Dampaknya tidak berhenti pada satu-dua orang. Sekali benih kecurigaan ditanam, ia bisa tumbuh menjadi prasangka yang sulit dikendalikan. Persaudaraan yang semula hangat perlahan menjadi renggang. Dari sini, konflik kecil bisa berkembang menjadi pertengkaran terbuka. Dalam situasi tertentu, bahkan berujung pada kerugian materi atau kekerasan fisik. Semua berawal dari kata-kata yang seharusnya bisa ditahan.

Ada kisah menarik dari Imam Syafi’i yang menunjukkan cara menyikapi namimah dengan elegan. Suatu ketika, seseorang datang kepadanya dan melaporkan bahwa ada orang lain yang membicarakan keburukannya dalam sebuah majelis. Alih-alih marah atau tersulut emosi, Imam Syafi’i justru mendatangi orang tersebut dan mengucapkan terima kasih.

Baca Juga  Memperbanyak Amalan Hati

 

Sikap ini tentu membuat orang yang menyampaikan kabar itu heran. Imam Syafi’i kemudian menjelaskan bahwa orang yang membicarakan keburukannya telah “memindahkan” pahala kepada dirinya, sementara dosa justru beralih kepada si pembicara. Dengan cara pandang seperti ini, beliau tidak memberi ruang bagi namimah untuk merusak hatinya.

 

Kisah tersebut bukan hanya menunjukkan kelapangan jiwa, tetapi juga mengajarkan bahwa reaksi kita menentukan sejauh mana namimah bisa berdampak. Jika setiap kabar negatif langsung ditelan mentah-mentah, maka kita ikut menjadi bagian dari rantai kerusakan itu. Sebaliknya, jika disikapi dengan bijak, rantai tersebut bisa terputus.

 

Islam sendiri memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini. Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa orang yang gemar mengadu domba tidak akan masuk surga. Dalam Al-Qur’an, Allah juga mengingatkan agar tidak mengikuti orang yang suka mencela dan menyebarkan fitnah untuk memecah belah.

 

Peringatan ini sejalan dengan tujuan besar ajaran Islam: menjaga kehormatan dan persatuan umat. Seorang muslim dituntut tidak hanya menjaga perilaku lahiriah, tetapi juga lisan dan sikap dalam berkomunikasi. Apa yang diucapkan atau disampaikan kepada orang lain bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan juga soal manfaat dan dampaknya.

Baca Juga  Sholat Khusyuk dan Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia

 

Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka—termasuk melalui media digital—potensi namimah justru semakin besar. Informasi bergerak cepat, sering kali tanpa verifikasi, dan mudah memicu kesalahpahaman. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian menjadi kunci. Tidak semua yang kita dengar perlu disampaikan kembali. Tidak semua yang kita ketahui harus dibagikan.

 

Menahan diri mungkin terasa sederhana, tetapi di situlah letak ujian sebenarnya. Menjaga lisan—atau dalam konteks hari ini, menjaga jari dari mengetik sesuatu yang berpotensi memecah belah—adalah bagian dari upaya merawat persaudaraan.

 

Pada akhirnya, namimah bukan sekadar persoalan etika komunikasi, melainkan persoalan iman dan tanggung jawab sosial. Ia bisa menjadi racun yang bekerja diam-diam, merusak hubungan tanpa disadari. Karena itu, setiap individu perlu mengambil peran: berhenti menjadi penyambung kabar yang belum tentu membawa kebaikan, dan mulai menjadi penjaga harmoni di lingkungannya.

 

Persaudaraan tidak runtuh dalam semalam. Ia retak perlahan, sering kali dimulai dari hal-hal kecil. Dan namimah, dalam banyak kasus, adalah salah satu pemicunya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button