Artikel

Hidup Kita bagai Seorang Musafir

🌻 SPIRIT TAHAJUD (296) 2510🌻 Oleh Drs. H. Amat Sulaiman

Dalam KBBI, kata ‘musafir’ diartikan sebagai “orang yang bepergian meninggalkan negerinya (selama tiga hari atau lebih) : pengembara”. Dalam pandangan hukum Islam, musafir adalah orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dalam jarak tertentu dan berniat tinggal di tempat yang dituju dalam waktu tertentu.

عن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

👉 Sesungguhnya kita ini “musafir”. Kita ini “pengembara”. Seorang musafir tentu sedang dalam perjalanan menuju tujuan akhir yang masih jauh. Jika saat ini kita berada di suatu tempat, maka kita hanyalah mampir di tempat itu untuk sementara, dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yang sebenarnya. Demikianlah kehidupan dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Tujuan akhir kita adalah “Akherat”. Disanalah kehidupan yang sebenarnya. Disanalah kebahagiaan yang sebenarnya, sebagaimana juga penderitaan yang sebenarnya. Disanalah kehidupan yang kekal.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَا ( 17)

“Tetapi kamu orang-orang kafir memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la :16-17).

👉 Allah Swt. menciptakan kita, lalu menempatkan kita di dunia ini. Karena perjalanan kita masih panjang, maka kita pasti akan meninggalkan dunia ini, melanjutkan perjalanan ke tempat (alam) berikutnya, yaitu alam kubur atau alam barzah, lalu berlanjut ke tempat (alam) berikutnya yaitu akhirat. Inilah kebenaran dan kepastian dari Allah tentang perjalanan hidup kita.

Baca Juga  Cara Berdialog Dengan Allah

Kita telah melewati sebuah alam (alam Ruh dan ‘alam rahim’), dan sekarang kita di alam dunia, akan menuju ke alam yang akan datang, yaitu Akhirat.

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu kembali.” (QS. Albaqarah : 28).

Pada ayat ini terdapat sebuah pertanyaan yang mengandung makna keheranan dan celaan serta pengingkaran dari Allah, yaitu bagaimana bisa terjadi kekufuran kepada Allah yang telah menciptakan kita dari tidak ada. Dia memberikan nikmat dengan berbagai macam nikmat. Dia yang mematikan kita ketika ajal telah tiba. Dia yang memberikan balasan siksa atau nikmat kubur atas amal kita sewaktu hidup di dunia. Dia pula yang membangkitkan kembali di hari ba’ats (hari kebangkitan) dan berdiri di padang mahsyar. Akhirnya kita akan kembali kepada-Nya dengan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat.

Dulu kita tidak ada, lalu Allah mengeluarkan kita ke dalam wujud (menjadi ada). Cobalah kita merenung sejenak, kita dari “tidak ada”, lalu menjadi “ada” karena diciptakan atau diadakan oleh Allah. Kita tidak tahu, di manakah kita dahulunya tersebar; di dedaunan, di biji-bijian atau di air mengalir?. Sebagai ciptaan Allah, tidak ada bedanya dengan pepohonan, rerumputan, serangga yang kemudian dihidupkan-Nya. Terbentuklah air mani dalam Shulbi seorang ayah, lalu masuk ke rahim seorang ibu, kemudian menjadi segumpal darah, dan darah itu berasal dari makanan; hormon, kalori dan vitamin. Dalam rahim seorang ibu dikandung sekian bulan, lalu diberinya akal. Kemudian mengembara di permukaan bumi berusaha mencukupkan keperluan-keperluan hidupnya. Tidakkah pantas kalau kita beriman dan bersyukur kepada-Nya?

Baca Juga  Mencintai dan Dicintai Allah Swt

Pada ayat ini Allah memberikan informasi bahwa pada diri ada kematian yang pertama, yaitu sewaktu kita masih belum ada atau sebelum kita diciptakan, dan ada pula kehidupan yang pertama, yaitu setelah kita ada atau setelah kita diciptakan. Pada ayat itu, Allah juga memberikan informasi lanjutan, bahwanya ada kematian yang kedua, dan ada pula kehidupan yang kedua.

Kemudian kita dimatikan kembali untuk yang kedua, nyawa dicabut, dipisahkan dari badan kita. Badan dikembalikan kepada asalnya. Datang dari tanah dipulangkan ke tanah. Kemudian dihidupkan kembali untuk yang kedua pula, Sebab nyawa (roh) yang berpisah dari badan tadi tidaklah kembali ke tanah, tetapi pulang ke tempat yang hanya diketahui oleh Allah buat menungggu datangnya hari kiamat. Itulah hidup yang kedua kali; yaitu hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia, sehingga bagi yang beriman tidak ditemukan lagi kesengsaraan dan penderitaan seperti di jaman hidup yang pertama di dunia.

Pada ayat ini Allah memberikan informasi kembali kepada kita, bahwanya ada kematian yang kedua, yaitu ketika kita dimasukkan ke dalam kubur, dan ada pula kehidupan yang kedua, yaitu setelah dibangkitkan kembali nanti di hari ba’ats. Membaca ayat di atas menjadi sangat jelas, bahwa kematian adalah dua kali dan kehidupan adalah dua kali pula. Hal ini senada dengan firman Allah berikut ini :

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

Mereka menjawab : “Ya Tuhan Kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Ghafir : 11)

Baca Juga  Menjaga Amalan Hati Penguat Iman

Menurut Adh-Dhahhak yang bersumber dari Ibnu Abbas tentang firman Allah surat Ghafir (Al-Mu’min) ayat 11 ini : Dulu, sebelum Allah menciptakan kita, kita ini adalah bagian dari tanah. Ini adalah kematian. Kemudian Allah menghidupkan kita, sehingga terciptalah kita. Ini adalah kehidupan. Kemudian Allah mematikan kita, hingga kita kembali ke dalam kubur, ini adalah kematian yang kedua. Selanjutnya Allah membangkitkan (menghidupkan) kita kembali di hari ba’ats. Ini adalah kehidupan yang kedua.

Demikianlah dua kematian dan dua kehidupan yang dimaksud oleh ayat 28 surat Al-Baqarah ini. Firman Allah yang semakna adalah ayat 26 surat Al-Jatsiyah :

قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Al-Jatsiyah : 26)

Artinya setelah kita dihidupkan kembali, kita dipanggil kembali kehadirat Allah untuk diperhitungkan, dicocokkan hasil catatan malaikat dengan perbuatan kita semasa hidup kita, lalu diputuskan ke tempat mana kita akan dimasukkan, kepada golongan orang-orang yang berbahagia dalam surga ataukah kepada golongan orang-orang yang celaka dalam neraka. Semua orang yang beramal, berbuat atau bekerja di dunia ini akan mendapatkan balasan dari Allah nanti di hari kiamat sesuai dengan amalnya. Dan keadilan akan berlaku serta kezaliman tidak akan ada. Sedang kasih sayang IIahi telah kita rasakan sejak dari alam fana ini. Kalau kita mendapat celaka, tidak lain hanyalah karena kesalahan kita sendiri. Begitulah Allah telah membuat rangkaian hidup yang kita tempuh, maka bagaimana kita bisa kufur terhadap-Nya.🙏

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button