Jaga Warisan Dunia, Siswa MIM Kauman Wiradesa Terjun Langsung Belajar Membatik di Petukangan

muhammadiyahpekalongan.or.id | Sebanyak puluhan siswa kelas 5 MI Muhammadiyah (MIM) Kauman Wiradesa mengikuti kegiatan kokurikuler membatik di Pendopo Gemah Semilir, Petukangan, Senin (4/5). Langkah ini diambil pihak sekolah untuk menanamkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa sejak dini melalui praktik langsung menggunakan canting dan malam.
Kegiatan yang berlangsung dalam dua pertemuan ini memberikan pengalaman autentik bagi siswa untuk memahami proses panjang di balik selembar kain batik. Di bawah bimbingan langsung para pengrajin profesional, para siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif dalam menjaga warisan budaya batik Pekalongan.
Kepala MIM Kauman, Muhammad Sukron, S.Pd.I, menegaskan bahwa edukasi ini bertujuan agar siswa memiliki ikatan emosional dengan budayanya. “Melalui pembelajaran membatik, siswa tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya bangsa sejak dini. Kami ingin semangat melestarikan warisan dunia ini tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Mendalami Teknik Tradisional: Dari Canting hingga Fiksasi
Dalam proses belajar membatik siswa SD ini, anak-anak diajarkan tahapan teknis yang sistematis. Dimulai dari penggunaan canting untuk menorehkan malam di atas kaos polos, hingga teknik nyolet atau pewarnaan sesuai kreativitas masing-masing.
Pada pertemuan kedua, siswa mendalami tahap yang lebih kompleks seperti mbabar (pencelupan warna) dan fiksasi menggunakan larutan pengunci warna. Wali kelas 5, Nok Idah, S.Pd.I, menuturkan bahwa keterlibatan langsung ini memberikan perspektif baru bagi siswa tentang nilai sebuah karya seni tradisional.
Mengenal Budaya Bangsa Sejak Dini
Antusiasme terpancar jelas dari para peserta, salah satunya Roziq Hanan Ardiansyah. Ia mengaku bangga bisa menciptakan karya dengan namanya sendiri menggunakan teknik tradisional. Pengalaman ini membuktikan bahwa mengenal budaya bangsa sejak dini bisa dilakukan dengan cara yang sangat menyenangkan.
Meski tahap akhir seperti nglorot (merebus kain) tetap didampingi ahli demi keamanan, para siswa telah mendapatkan gambaran utuh mengenai ekosistem industri kreatif lokal. Melalui kegiatan ini, MIM Kauman Wiradesa sukses menyelaraskan kurikulum sekolah dengan identitas daerah, memastikan estafet pelestarian batik terus berlanjut di tangan generasi muda.



